Berkurban Untuk Orang Yang Telah Meninggal

Apabila mempunyai keluarga yang telah tiada, apakah boleh berkurban untuk orang yang telah meninggal tersebut? Bagaimana hukumnya?

Pada pembahasan yang lalu sudah dijelaskan bahwa, hukum kurban adalah sunnah muakkad (yang sangat dianjurkan) bagi orang yang hidup dan mampu. Inilah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama (jumhur).

Silahkan lihat pada: Mampu Berkurban Tapi Tidak Mau Kurban

Hukum Berkurban Untuk Orang Yang Telah Meninggal

Terkait masalah berkurban untuk orang yang sudah meninggal dapat dirinci sebagai berikut:

1. Apabila berkurban untuk orang yang sudah meninggal dengan disertakan orang yang masih hidup. Sebagai contoh, seseorang yang berkurban untuk dirinya dan anggota keluarganya yang sudah mati ataupun yang masih hidup. Hal ini diperbolehkan, berdasar dalil bahwa, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkurban untuk dirinya dan anggota keluarganya, termasuk yang sudah meninggal dunia. Seperti istri beliau Khadijah radiyallahu ‘anha.

Dalam hadits lain disebutkan,

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Pada masa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan keluarganya”. (HR. Tirmidzi, 1505; Ibnu Majah, 3138. Dan Syaikh Al Albani mengatakan shahih).

2. Berkurban untuk orang yang telah meninggal sesuai dengan wasiatnya. Ini diperbolehkan, bahkan hukumnya wajib kecuali jika tidak mampu melaksanakannya.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Maka barangsiapa yang mengubahnya (wasiat itu), setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 181).

3. Berkurban hanya khusus untuk orang yang sudah meninggal dengan niat sedekah dari orang yang masih hidup.

Untuk masalah ini ulama berselisih pendapat. Dalam madzhab Syafi’i, kurbannya tidak sah kecuali jika ada wasiat dari orang yang telah meninggal. Dan pendapat inilah yang dipilih mayoritas ulama Syafi’iyah.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ، وَلَا عَنْ الْمَيِّتِ إذَا لَمْ يُوصِ بِهَا

“Tidak sah kurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula kurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk kurban tersebut”. (Minhaj ath-Thalibin, hal 321).

Namun ada pendapat lain dari ulama madzhab Syafi’i yang membolehkannya, karena hal itu dianggap termasuk sedekah. Dan sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, dapat bermanfaat dan pahalanya bisa sampai kepadanya.

Ulama madzhab Hanbali memilih pendapat ini, mereka menegaskan bahwa orang yang mengirimkan pahala berkurbannya untuk orang tua mereka yang sudah meninggal, akan sampai pada mayit dan akan mengambil manfaat dari pahala tersebut. Hal ini diqiyaskan dengan pahala sodaqoh yang akan terus mengalir meski orang yang bersedekah sudah meninggal.

Jadi masalah ini masih ada perselisihan diantara ulama. Akan tetapi yang lebih utama dalam hal ini adalah, tidak melakukannya karena tidak ada nash yang jelas yang menerangkan hal tersebut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkurban untuk salah seorang dari anggota keluarga beliau yang sudah meninggal secara khusus. Termasuk untuk paman beliau Hamzah bin Abdul Muthallib, padahal dia merupakan kerabat beliau yang sangat diagungkan dan dimulyakan. Tidak juga untuk anak-anak beliau, padahal mereka kebanyakan meninggal ketika beliau masih hidup.

Kepada istri beliau Khadijah binti Khuwailid yang merupakan istri atau wanita yang paling dicintai sepanjang hidup beliau, beliau pun tidak berkurban secara khusus untuknya. Juga tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa para sahabat di masa Rasulullah masih hidup, berkurban untuk salah seorang anggota keluarga mereka yang telah meninggal secara khusus.

Syeikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah, dalam kitab Ahkam al-Udhiyah wadz Dzakah berkata:
Kalau seandainya mereka mengetahui bahwa ketika seseorang berkurban dengan hartanya untuk dirinya sendiri dan keluarganya, sebenarnya sudah mencakup semua keluarganya baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, maka mereka tidak akan melakukan kurban secara khusus hanya untuk ahli kubur.

Demikian pembahasan hukum berkurban untuk orang yang telah meninggal. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam.

Referensi:
Hukum Berkurban Untuk Orang Yang Sudah Meninggal Dan Diperuntukkan Bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam … ?? (islamqa.info/128016)