Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Adakah Tuntunannya?

Saat datang pergantian tahun baru Hijriyah, banyak kalangan masyarakat yang melakukan berbagai macam ritual ibadah. Diantaranya adalah membaca doa akhir tahun dan awal tahun, baik dilakukan secara berjamaah ataupun sendiri. Bacaan doa ini sudah sangat tenar di masyarakat. Pertanyaannya, apakah doa akhir tahun dan awal tahun adakah tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Bacaan doa akhir tahun ini biasanya dibaca setelah shalat Ashar menjelang shalat Magrib sedangkan doa awal tahun dibaca setelah shalat Maghrib.

Tata Cara Berdoa dan Lafal Doa Akhir Tahun

Sebelum membaca doa akhir tahun terlebih dahulu membaca:

Sayyidul Istighfar 3 kali

اَللّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ ×3

Shalawat Nabi 11 kali

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ×11

Ayat Kursi 7 kali

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمٰوَاتِ وَمَا فِي اْلاَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ ×7

Bacaan Doa Akhir Tahun

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ، فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّي وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيْمُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ×3

Tata Cara Berdoa dan Lafal Doa Awal Tahun

Sebelum membaca doa awal tahun terlebih dahulu membaca:

Shalawat Nabi 11 kali

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ×11

Baqiyatus Shalihat 3 kali

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ ×3

Bacaan Doa Awal Tahun

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ اْلقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَاءِهِ وَجُنُوْدِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلإِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفٰى يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ. يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ×3

Sumber: NUjepara.or.id

Hukum Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum membaca doa akhir tahun dan awal tahun. Ada ulama yang menganjurkan dan ulama lain mengatakan tidak sesuai syariat (bid’ah).

1. Pendapat yang Menganjurkan
Ulama yang menganjurkan doa akhir dan awal tahun mengqiyaskan dengan doa awal bulan dan akhir bulan. Dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,

النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ: اَللهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal (bulan pada tanggal 1, 2 dan 3), maka beliau berdoa: “Ya Allah, perlihatlah bulan ini kepada kami dengan kebahagiaan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah”. (HR. Al-Darimi : 1730, At-Tirmidzi : 3451, dan At-Tirmidzi mengatakan hasan).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ : اَللهُ أَكْبَرْ ، اَللّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal, maka berdoa: “Allah Maha Besar. Ya Allah, perlihatkanlah bulan ini kepada kami dengan keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan pertolongan pada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah”. (HR. al-Darimi : 1729).

Dari Ibnu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, beliau menyampaikan bahwa,

أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ: هِلاَلُ خَيْرٍ وَرُشْدٍ ، هِلاَلُ خَيْرٍ وَرُشْدٍ ، هِلاَلُ خَيْرٍ وَرُشْدٍ ، آَمَنْتُ بِاللهِ الَّذِيْ خَلَقَكَ ” ، ثلاث مرات ، ثم يقول : ” اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ ذَهَبَ بِشَهْرِ كَذَا وَجَاءَ بِشَهْرِ كَذَا

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal, maka berdoa: “Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah yang telah menciptakanmu”. Sebanyak tiga kali, kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah membawa pergi bulan ini, dan datang dengan bulan ini”. (HR. Abu Dawud : 5092).

Hadits-hadits di atas menunjukkan anjuran membaca doa pada awal bulan, dan doa akhir tahun dan awal tahun juga dianjurkan, dengan diqiyaskan pada doa awal bulan di atas. Wallahu a’lam.

Qiyas dalam ibadah telah dilakukan oleh para ulama sejak generasi salaf, para sahabat, ahli hadits dan para imam madzhab, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Bukhari dan lain-lain. Bahkan Syaikh Ibnu Baz juga banyak melakukan qiyas dalam bab ibadah, sebagaimana dapat dibaca dalam sebagian fatwa-fatwa beliau.

2. Pendapat yang Melarang (bid’ah)
Sejarah menegaskan bahwa penetapan kalender hijriyah sebagai kalender resmi dalam Islam, baru ada di zaman Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Sehingga bisa disimpulkan dengan sangat yakin bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan doa akhir tahun atau awal tahun. Bagaimana mungkin Beliau mengajarkan doa akhir dan awal tahun, sementara di zaman Beliau, semacam ini belum dikenal.

Berdasarkan kesepatakan para sahabat, bulan Muharram ditetapkan sebagai awal tahun dan bulan Dzulhijjah ditetapkan sebagai akhir tahun. Ketika penetapan awal dan akhir tahun pun, tidak didapati para sahabat memanjatkan doa awal dan akhir tahun. Tidak ada di antara para sahabat yang membuat ritual tersebut padahal bisa saja mereka melakukannya.

Para ulama menegaskan, bahwa tidak ada doa akhir tahun maupun awal tahun, yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun para sahabat. Doa akhir tahun yang banyak tersebar di masyarakat, sama sekali tidak ada dasarnya, murni hasil karya manusia. Karena itulah, para ulama mengingkari doa semacam ini, apalagi ketika dia diklaim sebagai doa ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dr. Bakr Abu Zaid (w. 1429 H) mengatakan,

لا يثبت في الشرع شيء من دعاء أو ذكر لآخر العام، وقد أحدث الناس فيه من الدعاء، ورتبوا ما لم يأذن به الشرع، فهو بدعة لا أصل لها.

“Tidak terdapat dalil dalam syariat yang menyebutkan tentang doa atau dzikir akhir tahun. Masyarakat membuat-buat kegiatan doa, mereka susun kalimat-kalimat doa, yang sama sekali tidak diizinkan dalam syariat. Doa semacam ini murni bukan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ada dasarnya”. (Tashih ad-Dua, hlm. 108).

Syaikh Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Sebagian orang membuat inovasi baru dalam ibadah dengan membuat-membuat doa awal tahun dan akhir tahun. Sehingga dari sini orang-orang awam ikut-ikutan mengikuti ritual tersebut di berbagai masjid, bahkan terdapat para imam pun mengikutinya. Padahal, doa awal dan akhir tahun tersebut tidak ada pendukung dalil sama sekali dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga dari para sahabatnya, begitu pula dari para tabi’in. Tidak ada satu hadits pun yang mendukungnya dalam berbagai kitab musnad atau kitab hadits”. Dan dilanjutkan, “Kita tahu bahwa doa adalah ibadah. Pengkhususan suatu ibadah itu harus tawqifiyah (harus dengan dalil). Doa awal dan akhir tahun sendiri tidak ada tuntunan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula pernah dicontohkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum”. (Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 399).

Segala bentuk ritual ibadah, baik shalat di malam pergantian tahun atau doa tahun baru, atau puasa akhir tahun, sama sekali tidak pernah dikenal di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat.

Demikian pendapat ulama mengenai hukum doa akhir tahun dan awal tahun. Melihat keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa,

1. Dari perbedaan pandangan di antara ulama dapat diketahui bahwa, doa awal dan akhir tahun yang tersebar di masyarakat bukanlah doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Riwayat yang shahih adalah adanya doa awal bulan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Kita diperintahkan untuk berdoa memohon kepada Allah Ta’ala dan bagi orang yang tidak mau berdoa diancam dengan neraka. Lihat bahasan: Hukum Orang yang Tak Mau Berdoa.

4. Tidak terdapat larangan untuk berdoa di akhir dan awal tahun, namun tidak terdapat doa khusus pada waktu tersebut untuk dibaca, ataupun penetapan waktu tertentu untuk membacanya dan cara-cara tertentu untuk membaca doa tersebut.

5. Kita diperbolehkan berdoa setiap waktu, terlebih pada waktu-waktu yang mustajab. Lihat bahasan: Waktu Mustajab Untuk Berdoa.

6. Qiyas dalam hukum Islam diperbolehkan, namun para sahabat tidak mengqiyaskan doa awal tahun dengan doa awal bulan. Terbukti, dengan tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa mereka melakukan ritual membaca doa akhir dan awal tahun. Padahal mereka generasi terbaik umat ini. Mereka paham benar hukum dan tatanan agama Islam. Kecintaan dan ketaatannya terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Juga tidak perlu diragukan. Dan mereka adalah orang-orang terdepan dalam menegakkan amal ibadah dalam agama ini (Islam).

Sebagai umat muslim alangkah baiknya lebih hati-hati dalam menyikapi masalah ini. Sudah semestinya kita mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dan meninggalkan apa yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Semoga Allah Ta’ala selalu menuntun kita di jalan-Nya yang lurus.
Wallahu ‘alam.