Ucapan Salam Sesudah Berbicara Tidak Perlu Dijawab

Ketika ada seseorang berbicara sebelum mengucapkan salam, kemudian setelahnya baru mengucapkan salam apakah salamnya tidak perlu dijawab? Benarkah demikian?

Terdapat hadits yang mengisyaratkan demikian, bahwa orang yang berbicara sebelum salam, maka salamnya tidak perlu dijawab. Redaksi hadits itu menyatakan,

من بدأ بالكلام قبل السلام فلا تجيبوه

“Siapa yang memulai bicara sebelum salam maka janganlah kalian menjawabnya”.

Ada dua catatan tentang hadits diatas,

1. Status kekuatan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dalam amal al-yaum wa lailah : 212 dan Abu Nuaim dalam al-Hilyah (8/199), dari jalur Baqiyah bin Walid dari Abdul Aziz bin Abi Rawad dari Nafi.

Bagaimana pendapat ahli hadits tentang sanad hadits ini?

Imam Abu Hatim ar-Razi mengatakan,

هذا حديث باطل ، ليس من حديث ابن أبي رواد

“Ini hadits bathil, bukan haditsnya Ibnu Abi Rawad”. (al-Ilal, 2/294).

Kemudian, Ibnu Abi Hatim menukil keterangan Abu Zur’ah – ulama besar ahli hadits, gurunya Muslim, Turmudzi, Nasai dan ulama lainnya – (w. 264 H).

“Abu Zur’ah ditanya tentang hadits yang diriwayatkan Abu Taqi, dari Baqiyah, dari Abdul Aziz bin Abi Rawad, bahwa siapa yang bicara sebelum salam maka jangan dijawab. Kata Abu Zur’ah,

قال أبو زرعة : هذا حديث ليس له أصل ؛ لم يسمع بقية هذا الحديث من عبدالعزيز إنما هو عن أهل حمص ، وأهل حمص لا يميزون هذا

Hadits ini tidak ada asalnya. Baqiyah tidak pernah mendengar hadits ini dari Abdul Aziz. Namun dia dengar hadits ini dari penduduk Hims. Dan penduduk Hims tidak bisa membedakan hadits”. (al-Ilal, 2/331).

Dalam ilmu mushtolah hadits, pada kasus di atas perawi yang bernama Baqiyah bin Walid melakukan tadlis taswiyah, menyembunyikan sama sekali satu jalur perawi, agar hadits ini dikesankan shahih. Seharusnya, jalur normalnya dari Baqiyah, dari seorang penduduk Hims, dari Abdul Aziz bin Abi Rawad.

Namun oleh Baqiyah, posisi penduduk Hims dihilangkan. Jadinya, dari Baqiyah dari Abdul Azin bin Abi Rawad. Adanya cacat semacam ini, menyebabkan hadits itu berstatus dhaif.

2. Makna Hadits

Jika kita perhatikan redaksi hadits di atas, sejatinya tidaklah secara tegas menunjukkan bahwa salam orang yang sudah mulai bicara, tidak perlu dibalas. Karena kata, ’janganlah kalian menjawabnya’ bisa kembali kepada salamnya atau bisa juga kembali kepada pembicaraannya. Sehingga hadits ini memiliki 2 kemungkinan makna.

1. Jangan kamu jawab salamnya
2. Jangan kamu respon pembicaraannya, hingga dia mengucapkan salam.

Dari dua kemungkinan makna di atas, makna kedua yang lebih benar. Karena dalam riwayat lain, terdapat redaksi yang semakna dengan hadits ini, yang menyatakan,

السلام قبل السؤال، فمن بدأكم بالسؤال قبل السلام فلا تجيبوه

“Salam itu sebelum bertanya. Siapa yang memulai tanya sebelum salam, jangan kalian jawab”. (HR. Ibnu Adi dalam al-Kamil, 2/303).

Dan hadits ini statusnya juga dhaif, karena dalam jalur sanadnya terdapat perawi bernama Hafs bin Umar yang dinilai pendusta oleh Abu Hatim.

Meskipun sama-sama dhaif, namun pelajaran dari hadits kedua ini adalah menjelaskan maksud dari hadits pertama. Sehingga andaipun hadits pertama itu bisa diterima, maknanya tidaklah menunjukkan larangan menjawab salam bagi orang yang telah mendahuluinya dengan ucapan.

Salam Sebelum Kalam

Salam sebelum bicara, itulah adab yang lebih baik. Meskipun hadits yang menganjurkan hal ini statusnya munkar. Hadits tersebut menyatakan,

السَّلَامُ قَبْلَ الكَلَامِ

“Salam sebelum kalam (bicara)”.

Hadits ini diriwayatkan Turmudzi dalam Jami’nya no. 2699 dari jalur Anbasah bin Abdurrahman dari Muhammad bin Zadan.

Baca juga: Adab Mengucapkan dan Menjawab Salam

Setelah membawakan hadits ini, Imam at-Turmudzi mengatakan,

هَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الوَجْهِ؛ سَمِعْتُ مُحَمَّدًا، يَقُولُ: عَنْبَسَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ضَعِيفٌ فِي الحَدِيثِ ذَاهِبٌ وَمُحَمَّدُ بْنُ زَاذَانَ مُنْكَرُ الحَدِيثِ

Hadits ini munkar, kami tidak mengetahuinya selain dari jalur ini. saya mendengar Muhammad (Imam Bukhari – gurunya Turmudzi) mengatakan,

“Anbasah bin Abdurrahman dhaif dalam hadits, pencuri hadits (tertuduh berdusta), sementara Muhammad bin Zadan, munkarul hadits”. (Jami’ at-Turmudzi, 5/59).

Hadits ini dimasukkan oleh al-Albani dalam daftar hadits palsu. (simak ad-Dhaifah : 1736).
Allahu ‘alam.

Demikian bahasan ucapan salam sesudah berbicara apa perlu dijawab atau tidak. Semoga bermanfaat.
Oleh ustadz Ammi Nur Baits