Hukum Shalat Arba’in di Masjid Nabawi

Pengertian shalat Arba’in adalah shalat wajib sebanyak empat puluh kali di Masjid Nabawi. Kata Arba’in [أربعين] artinya empat puluh. Jadi yang dimaksud dengan shalat Arba’in adalah melakukan shalat empat puluh waktu di Masjid Nabawi secara berturut-turut dan tidak ketinggalan takbiratul ihram bersama imam.

Hukum Shalat Arba’in di Masjid Nabawi

Hadits yang menjadi dasar hukum shalat Arba’in sebagai berikut,

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً، لاَ يَفُوتُهُ صَلاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

“Barang siapa shalat di masjidku empat puluh shalat tanpa ada yang ketinggalan, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan”. (HR. Ahmad : 12.583 dan ath-thabrani dalam al-ausath : 5.444).

Hadits ini diriwayatkan dari jalur Abdurrahman bin Abi ar-Rijal, dari Nubaith bin Umar, dari Anas bin Malik secara marfu’.

Baca juga: Hukum Shalat Raghaib

Status Hadits

Terdapat perbedaan pendapat tentang sanad hadits ini. Sebagian ulama menyatakan sanadnya kuat, namun sebagian lainnya mengatakan bahwa sanadnya lemah.

Hadits ini dihukumi shahih oleh beberapa ulama diantaranya al-Mundziri rahimahullah, al-Haitsami rahimahullah dan Hammad al-Anshari rahimahullah.

Al-Haitsami rahimahullah di dalam Al-Majma’ Az Zawa-id, Al Haitsamiy, 2/35, Mawqi’ Al Waroq mengatakan bahwa rijalnya (perawi) termasuk orang-orang yang tsiqah (terpercaya).

Al-Mundziri rahimahullah di dalam At-Targhib mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para perawinya adalah orang-orang yang shahih.

Asy-Syeikh Nasib Ar-Rifa’i rahimahullah termasuk ulama di masa sekarang yang menshahihkan hadits ini.

Ibnu Hibban rahimahullah memasukkan Nubaith bin Umar, salah seorang perawi hadits tersebut dalam kitab ats-Tsiqat. Padahal Nubaith ini tidak dikenal (majhul), dan para Ulama hadits menjelaskan bahwa Ibnu Hibban rahimahullah memakai standar longgar dalam kitab ini, yaitu memasukkan orang-orang yang majhul ke dalam kelompok perawi yang terpercaya (tsiqah).

Sedang ulama yang mengatakan sanadnya lemah antara lain,
Syaikh Muqbil Al Wadi’iy rahimahullah ulama hadits dari Yaman, menilai bahwa hadits di atas tidak shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Al Albani rahimahullah dalam kitab Dhaif at-Targhib wa at-Tarhib, no. 755, menilai bahwa hadits tersebut adalah hadits munkar. Dan dalam as-Silsilah adh-Dhaifah, no. 364 Syaikh mengatakan, sanad hadits ini dho’if (lemah). Ada seorang perawi bernama Nubaith yang tidak dikenali statusnya.

Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Musnad Al Imam Ahmad bin Hambal (Takhrij Syaikh Syu’aib Al Arnauth) no. 12605, 3/155, Muassasah Qurthubah, Al Qohirah, mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if (lemah) karena status Nubaith bin Umar yang tidak diketahui.

Karena itulah, para ulama menegaskan, tidak ada anjuran untuk tinggal di Madinah selama 8 hari agar bisa melakukan shalat wajib sebanyak 40 kali di Masjid Nabawi. Dan bisa dilihat dalam sejarah Ashabus Suffah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganjurkan mereka untuk tinggal selama 8 hari di Madinah. Sehingga mereka ada yang hanya tinggal selama 3 hari, atau 4 hari atau jumlah hari sesuai kebutuhan mereka.

Imam Ibnu Baz mengatakan,
“Yang banyak beredar di tengah masyarakat bahwa bagi orang yang berkunjung di Madinah, dianjurkan menetap di sana selama 8 hari agar dapat melakukan shalat Arba’in (40 waktu). Meskipun ada sejumlah hadits yang diriwayatkan, bahwa siapa yang shalat empat puluh waktu, akan dicatat baginya kebebasan dari neraka dan kebebasan dari nifaq, hanya saja haditsnya dhaif menurut para ulama peneliti hadits. Tidak dapat dijadikan dalil dan landasan. Berziarah ke Masjid Nabawi tidak ada batasannya. Bisa berziarah satu jam atau dua jam, sehari atau dua hari atau lebih dari itu, semua tidak masalah”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 17/406).

Jadi, hadits ini dari segi kekuatannya masih diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian mengatakannya shahih dan yang lain mengatakan dhaif.

Keutamaan Melakukan Shalat di Masjid Nabawi

Namun, seandainya ada kesempatan untuk tinggal di Madinah walaupun sehari maka sayang sekali bila tidak melaksanakan shalat berjamaah di Masjid Nabawi. Apalagi bila berkesempatan tinggal di Madinah selama 8 hari bahkan lebih, sungguh sangat disayangkan bila kesempatan tersebut tidak digunakan untuk shalat berjamaah di Masjid Nabawi. Karena shalat di Masjid Nabawi mempunyai keutamaan yang besar.

Adapun keutamaan shalat di Masjid Nabawi disebutkan dalam hadits berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Satu shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik dari pada seribu shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram”. (HR. Bukhari : 1190 dan Muslim : 1394).

Dalam riwayat lain dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah : 1406).

Sungguh keutamaan yang besar, Ini berarti satu kali shalat fardhu di Masjid Nabawi lebih baik dari shalat fardhu yang kita lakukan dalam dua ratus hari di masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram. Maka sungguh merugi orang yang sudah sampai di Madinah tapi tidak sungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan besar ini. Karena ada tiga masjid di dunia yang memiliki keutamaan lebih dari pada masjid yang lain yaitu, Masjidil Haram di kota Mekah, Masjid Nabawi di kota Madinah dan Masjidil Aqsha di Palestina.

Orang yang shalat wajib empat puluh kali di Masjid Nabawi, nilainya lebih besar dibandingkan shalat empat puluh ribu kali di selain Masjid Nabawi, kecuali Masjidil Haram.

Ada Hadits Lain Tentang Shalat Arba’in yang Lebih Kuat

Terdapat hadits lain mengenai shalat Arba’in, Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

“Barangsiapa yang shalat secara ikhlas karena Allah empat puluh hari secara berjamaah tanpa ketinggalan takbir yang pertama, dicatatkan baginya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan”. (HR at-Tirmidzi : 241 dan al-‘Iraqi mengatakan para rawinya tsiqah).

Shalat Arba’in yang dijelaskan dalam hadits ini pelaksanaannya tidak terbatas pada Masjid Nabawi, tapi bisa dilakukan di masjid manapun selama 40 hari secara berjamaah tanpa ketinggalan takbiratul ihram bersama imam.

Baca juga: Hukum Shalat Berjamaah

Mengenai hadits ini, Ath Thibi menjelaskan, “Di dunia Allah akan menyelamatkannya dari beramal sebagaimana amal orang munafik dan Allah akan beri taufik padanya untuk beramal sebagaimana amal orang yang ikhlas. Sedangkan di akherat nanti Allah akan menyelamatkannya dari berbagai amal yang menyebabkan orang munafik disiksa dan Allah akan bersaksi bahwa dia bukanlah seorang munafik. Artinya sesungguhnya orang-orang munafik jika hendak mengerjakan shalat mereka berdiri dengan malas sedangkan keadaan orang tersebut jelas sangat berbeda”. (Tuhfatul Ahwadzi 1/274, Mawqi’ Al Islam).

Wallahu a’lam.