Menikah di Bulan Shafar Dilarang

Terdapat mitos ditengah masyarakat bahwa menikah di bulan Shafar dilarang dengan alasan itu tidak baik dan bisa membawa sial? Benarkah anggapan tersebut?

Mengenal Bulan Shafar

Kata: Shafar [arab: صفر] dalam bahasa arab artinya nol. Orang arab menyebut angka nol dengan shifrun. Mereka menyebut rumah yang kosong (karena ditinggal pergi penghuninya) dengan sebutan: ash-fa-rat Ad-Dar [arab: اصفرت الدار], artinya rumah yang kosong. Karena pada bulan inilah masyarakat jahiliyah mulai mengadakan perjalanan jauh dalam rangka perang, setelah sebelumnya dilarang perang di bulan Muharram.

Masyarakat Jahiliyah dan Bulan Shafar

Ada dua sikap menyimpang yang dilakukan masyarakat jahiliyah terhadap bulan Shafar,

Pertama, masyarakat jahiliyah sering menjadikan bulan Shafar sebagai pengganti kesucian bulan Muharram.

Apabila mereka terdesak melakukan perang di bulan Muharram, mereka mengganti kesucian bulan Muharram karena berperang tersebut dengan bulan Shafar. Kebiasaan ini disebut an-Nasi’ (menunda). (al-Qamus al-Fiqh, hal. 351).

Allah mencela keras sikap mereka ini, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an, Allah berfirman

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ

“Sesungguhnya menunda bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan sikap menunda-nunda itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah”. (QS. At-Taubah: 37).

Kedua, masyarakat jahiliyah berkeyakinan bahwa bulan Shafar merupakan bulan sial. Mereka tidak berani mengadakan acara penting di bulan ini. Ketika Islam datang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus keyakinan ini.

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

“Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyaroh, tidak ada shafar, dan tidak ada hammah”. (HR. Bukhari : 5707 dan Muslim : 2220).

Baca juga: Pengertian Rebo Wekasan

Keterangan:

Salah satu diantara makna ‘tidak ada shafar’ adalah tidak ada keyakinan sial karena bulan Shafar.

Ibnu Rajab mengutip menjelaskan,

أن أهل الجاهلية كانوا يستيشمون بصفر ويقولون: إنه شهر مشئوم فأبطل النبي صلى الله عليه وسلم ذلك

“Bahwa masyarakat jahiliyah berkeyakinan sial terhadap bulan Shafar. Mereka mengatakan, Shafar adalah bulan sial. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus keyakinan ini”. (Lathaif al-Ma’arif, hlm. 74).

Akan tetapi sangat disayangkan, ternyata keyakinan semacam ini masih dilestarikan oleh kaum muslimin. Ketika Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghapuskannya sejak 15 abad silam, masih ada pengikut beliau yang melestarikannya.

Baca juga: Hari dan Bulan Baik Untuk Menikah

Semoga Allah melindungi kita dari keyakinan yang menyimpang dari ajaran-Nya.

Wallahu ‘alam
Oleh Ustadz Ammi Nur Baits