Amalan Khusus di Malam Nisfu Sya’ban

Malam Nisfu Sya’ban merupakan malam pertengahan di bulan Sya’ban atau malam 15 Sya’ban. Apakah benar malam Nisfu Sya’ban memiliki keistimewaan dari malam lainnya? Dan adakah amalan khusus di malam Nisfu Sya’ban?

Dalil Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

Terdapat beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Ada yang shahih, ada yang dhaif, bahkan ada yang palsu.

Pertama,

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar”. (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378).

Keterangan:
Hadits di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Hadits dengan redaksi di atas adalah hadits maudhu’ (palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya muttaham bil kadzib (tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits”. (Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132).

Kedua,
Riwayat dari A’isyah, bahwa beliau menuturkan,

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافعا رأسه إلى السماء فقال: “أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله” فقلت يا رسول الله ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال: ” إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

“Aku pernah kehilangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian aku keluar, ternyata beliau di Baqi, sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi bertanya; “Kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menipumu?” (maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi jatah Aisyah). Aisyah mengatakan: Wahai Rasulullah, saya hanya menyangka anda mendatangi istri yang lain. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam nisfu syaban, kemudian Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba bani kalb”.

Keterangan:
Hadits ini diriwayatkan At-Turmudzi, Ibn Majah dari jalur Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. At-Turmudzi menegaskan: “Saya pernah mendengar Imam Bukhari mendhaifkan hadits ini.” Lebih lanjut, imam Bukhari menerangkan: “Yahya tidak mendengar dari Urwah, sementara Hajaj tidak mendengar dari Yahya”. (Asna Al-Mathalib, 1/84).

Ibnul Jauzi mengutip perkataan Ad-Daruquthni tentang hadits ini,
“Diriwayatkan dari berbagai jalur, dan sanadnya goncang, tidak kuat”. (Al-Ilal Al-Mutanahiyah, 3/556).
Akan tetapi hadits ini dishahihkan Al-Albani, karena kelemahan dalam hadits ini bukanlah kelemahan yang parah, sementara hadits ini memiliki banyak jalur, sehingga bisa terangkat menjadi shahih dan diterima. (lihat Silsilah Ahadits Dhaifah, 3/138).

Ketiga,
Hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan”.

Keterangan:
Hadits ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadits dishahihkan oleh Imam Al-Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadits Shahihah, no. 1144. Beliau menilai hadits ini sebagai hadits shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadits ini sebagai hadits lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan Nisfu Sya’ban sebagai hadits dhaif.

Hadits lainnya bisa dilihat pada ulasan Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Syaban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhaifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya”. (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 245).

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam nisfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadits yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa, 23:123).

Dengan demikian, walaupun sebagian ulama menilai hadits-hadits tersebut tidak shahih, namun melihat dari hadits-hadits lain yang menunjukkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban yang banyak diriwayatkan dari berbagai jalur, maka dapat diambil kesimpulan bahwa, malam Nisfu Sya’ban mempunyai keutamaan dibandingkan dengan malam-malam lainnya, seperti penjelasan diatas. Wallahu ‘alam.

Adakah Amalan Khusus di Malam Nisfu Sya’ban?

Terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama yang meyakini adanya keutamaan malam Nisfu Sya’ban, apakah dianjurkan untuk menghidupkan malam tersebut atau tidak.

Pertama, Dianjurkan
Diantara ulama yang menganjurkan dilakukan secara berjamaah di masjid adalah, Khalid bin Ma’dan, Luqman bin Amir dan lainnya. Mereka memakai pakaian terbaiknya, memakai minyak wangi, memakai celak mata dan berada di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rahuwaih (salah satu Imam Madzhab yang muktabar), dan beliau mengatakan tentang ibadah malam Nisfu Sya’ban di masjid secara berjamaah, “Ini bukan bid’ah”. (Dikutip oleh Harb al-Karmani dalam kitabnya al-Masail).

Kedua, Makruh
Dimakruhkan untuk berkumpul di masjid pada malam Nisfu Sya’ban untuk shalat, mendengar cerita-cerita dan berdoa. Namun tidak dimakruhkan jika seseorang salat (sunah mutlak) sendirian di malam tersebut. Ini adalah pendapat al-Auza’i, Imam ulama Syam, ahli fikih yang alim. Inilah yang paling tepat, Insya Allah. (Syaikh al-Qasthalani dalam Mawahib al-Ladunniyah II/259 yang mengutip dari Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif 151).

Sebagian menganggap bahwa mengkhususkan malam Nisfu Sya’ban untuk beribadah adalah bid’ah. Mereka berpendapat bahwa, tidak terdapat satu pun riwayat yang shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau shalat. Hadis shahih tentang malam Nisfu Sya’ban hanya menunjukkan bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Sya’ban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu. Para ulama memperbolehkan memperbanyak amal ibadah secara mutlak di malam Nisfu Sya’ban, seperti shalat sunah, memperbanyak membaca Al-Qur’an atau amal saleh lainnya.

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jika seseorang shalat pada malam nisfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 100 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 131).

Imam An Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab mengatakan,

الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب , وهي ثنتا عشرة ركعة تصلى بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب , وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب , وإحياء علوم الدين , ولا بالحديث المذكور فيهما فإن كل ذلك باطل ، ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الأئمة فصنف ورقات في استحبابهما فإنه غالط في ذلك , وقد صنف الشيخ الإمام أبو محمد عبد الرحمن بن إسماعيل المقدسي كتابا نفيسا في إبطالهما فأحسن فيه وأجاد رحمه الله

“Shalat yang dikenal dengan sebutan Shalat Raghaib, dua belas raka’at dilakukan antara Maghrib dan Isya’ awal malam Jum’at bulan Rajab, serta shalat malam Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) sebanyak 100 raka’at, keduanya termasuk bid’ah yang mungkar dan jelek. Janganlah tertipu dengan disebutkannya kedua shalat tersebut dalam kitab Quut al-Qulub dan Ihya’ Ulumuddin, dan jangan tertipu pula oleh hadits yang tertulis pada kedua kitab tersebut, sebab seluruhnya adalah merupakan kebatilan”. (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 3/549).

Kesimpulan:
Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

Pertama, Malam Nisfu Sya’ban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadits, sebagaimana yang telah disebutkan diatas, Allahu ‘alam. Meskipun sebagian ulama menyebut hadits ini hadits yang dhaif.

Kedua, Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan banyak beribadah? Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam Nisfu Sya’ban untuk beribadah adalah bid’ah.

Ketiga, Belum ditemukan satu pun riwayat yang shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Sya’ban, baik berupa puasa atau shalat. Hadits shahih tentang malam Nisfu Sya’ban hanya menunjukkan bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Sya’ban, tanpa dikaitkan dengan amalan tertentu. Karena itu, praktek sebagian kaum muslimin yang melakukan shalat khusus di malam itu dan dianggap sebagai shalat malam Nisfu Sya’ban adalah anggapan yang tidak benar.

Keempat, Ulama yang memperbolehkan memperbanyak amal di malam Nisfu Sya’ban menegaskan bahwa tidak boleh mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Sya’ban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Sya’ban. Untuk itu, menurut pendapat ini, seseorang diperbolehkan memperbanyak ibadah secara mutlak, apa pun bentuk ibadah tersebut.

Tentang amalan bacaan surat Yasin dapat dihat pada: Membaca Surat Yasin Tiga Kali Pada Malam Nisfu Sya’ban

Dalam menghidupkan malam Nisfu Sya’ban, hendaklah melaksanakan ibadah dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti shalat, membaca Al Qur’an, dzikir dan doa-doa hendaklah sesuai dengan dalil-dalil yang shahih. (Editor: Muhammad Muhsin).
Wallahu ‘alam.