Amalan Mulia Di Bulan Dzulhijah

Terdapat beberapa amalan mulia di bulan Dzulhijah yang disyariatkan yang dapat diamalkan oleh kaum muslimin. Amalan di bulan Dzulhijah ini mempunyai keistimewaan yang luar biasa. Lantas apa saja amalan yang dapat diamalkan di bulan Dzulhijah ini?

Amalan-amalan Mulia Di Bulan Dzulhijah

Pertama, Memperbanyak Puasa

Disunahkan untuk memperbanyak puasa di sembilan hari pertama bulan Dzulhijah, yaitu dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan untuk beramal shaleh dan puasa adalah salah satu amalan shaleh yang paling baik. Dari Hunaidah bin Khalid radhiyallahu ‘anhu, dari istrinya bahwa, beberapa istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْر.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura'(10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya (hijriyah), …” (HR. Abu Daud : 2437).

Dan sangat ditekankan puasa dihari arafah, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dari Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa ‘Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu”. (HR. Muslim : 1162).

Kedua, Memperbanyak Takbir dan Dzikir

Kita juga dianjurkan untuk banyak bertakbir, memperbanyak dzikir seperti membaca tahlil, tasbih, tahmid, istighfar serta memperbanyak do’a. Dalam melaksanakan takbiran disunnahkan untuk mengeraskan suara bagi laki-laki. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر فاكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

“Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan pada tanggal 1 sampai 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu”. (HR. Ahmad dan Syekh Ahmad Syakir mengatakan shahih).

Perlu diketahui bahwa takbir ada dua macam, yaitu Takbir Mutlak dan Takbir Muqayyad.

Takbir Mutlak artinya takbir yang tidak terikat pada waktu dan tempat tertentu. Takbiran ini bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, selama masih dalam rentang waktu yang dibolehkan.

Takbir mutlak dilakukan mulai dari tanggal 1 Dzulhijjah dan berakhir hingga waktu ashar tanggal 13 Dzulhijjah (hari tasyrik yang terakhir). Selama tanggal 1 sampai 13 Dzulhijjah ini, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Boleh sambil berjalan, berdiri, duduk, ataupun berbaring. Demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, pasar, lapangan, masjid dan lainnya.

Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman,

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…supaya mereka berzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (QS. Al-Hajj : 28).

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (QS. Al-Baqarah : 203).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini dan menjelaskan,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ

“Yang dimaksud ‘hari yang telah ditentukan’ adalah tanggal 1 sampai 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ‘beberapa hari yang berbilang’ adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. (HR. Bukhari secara Mua’alaq (tanpa sanad), bab Keutamaan beramal di hari tasyriq).

Sedangkan Takbir Muqayyad adalah takbiran yang dilaksanakan berkaitan degan waktu tertentu. Yaitu dilaksanakan setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Takbiran ini dimulai sejak setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah shalat ashar tanggal 13 Dzulhijjah.

Riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,

أنه كان يكبر من صلاة الفجر يوم عرفة إلى آخر أيام التشريق، لا يكبر في المغرب

“Bahwa Ibnu Abbas bertakbir setelah salat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Ia tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah)”. (HR Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi. Dan Al-Albani mengatakan shahih).

Riwayat dari Ibn Mas’ud radliallahu ‘anhu,

يكبر من صلاة الصبح يوم عرفة إلى صلاة العصر من آخر أيام التشريق

“Bahwa Ibnu Mas’ud bertakbir setelah salat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah”. (HR. Al-Hakim dan dishahihkan An-Nawawi dalam Al-Majmu’).

Ketiga, Memperbanyak Amal Shalih

Diantara keistimewaan bulan Dzulhijah adalah selama 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah, dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih. Apapun bentuk amalnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menentukan amal ibadah khusus selain takbiran dan puasa arafah. Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari dimana suatu amal shalih lebih dicintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk jihad di jalan Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk jihad di jalan Allah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, dan tidak ada satupun yang kembali”. (HR. Ahmad : 1968, At-Tirmidzi : 757 dan lainnya).

Keempat, Melaksanakan Shalat Idul Adha

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

قدم رسول الله -صلى الله عليه وسلم- المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال « ما هذان اليومان ». قالوا كنا نلعب فيهما فى الجاهلية. فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- « إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر ».

“Bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan bermain. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Dua hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Kami merayakannya dengan bermain di dua hari ini ketika zaman jahiliyah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dengan dua hari yang lebih baik, Idul Fitri dan Idul Adha”. (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan dishahihkan al-Albani).

Kelima, Menyembelih Hewan Kurban

Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Laksanakanlah shalat untuk Rab-mu dan sembelihlah kurban”. (QS. Al-Kautsar: 2).

Ibadah qurban memiliki nilai sangat penting, sehingga bagi yang mampu, jangan sampai meninggalkannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا

“Siapa yang memililki kelapangan namun dia tidak berkurban maka jangan mendekat ke masjid kami”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dan perlu diperhatikan bahwa bagi orang yang hendak berkurban, dilarang memotong kuku dan juga rambutnya (bukan kuku dan bulu hewannya) ketika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai dia memotong hewan kurbannya. Dari Ummu salamah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda,

مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Barangsiapa yang memiliki hewan yang hendak dia sembelih (di hari raya), jika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah maka janganlah dia memotong rambutnya dan kukunya sedikitpun, sampai dia menyembelih hewan kurbannya”. (HR. Muslim).

Anda juga dapat membaca tentang Melaksanakan Kurban atau Akikah Terlebih Dulu.

Keenam, Bertaubat Dari Maksiat

Termasuk yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindakan dzalim terhadap sesama. Intinya, keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa berupa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan shalih lainnya, termasuk bertaubat dari maksiat.

Demikian penjelasan mengenai beberapa amalan mulia di bulan Dzulhijah, semoga bermanfaat.
Allahu ‘alam.