Bacaan Amin yang Benar dan Hukumnya

Bagaimana bacaan amin yang benar dan hukum membaca lafal amin?

Orang yang membaca surat Al-Fatihah disyari’atkan untuk membaca amin setelahnya. Ibnu al-Humaam menyatakan, “Pensyari’atan mengucapkan amin setelah membaca Al-Fatihah. Ketahuilah bahwa sunnah yang shahih dan mutawatir dengan tegas menunjukkan hal tersebut”. (Fathu al-Qadir 1/25).

Ini berdasar pada hadits dari Wa’il bin Hujr Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقْرَأُ : ( غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ ) فَقَالَ : آمِيْنَ مَدَّ بِهَا صَوْتَهُ .

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca “ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladdhaalliin” lalu beliau mengucapkan amin dengan memanjangkan suaranya”. (HR. at-Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dan dishahihkan al-Albani).

Nampak dalam hadits ini adanya pensyariatan ucapan amin setelah membaca Al-Fatihah secara mutlak baik didalam shalat maupun diluarnya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: “Sahabat-sahabat kami (ulama madzhab Syafi’iyyah, pen) dan selain mereka menyatakan bahwa disunnahkan hal itu pada orang yang membacanya diluar shalat dan lebih ditekankan lagi pada diri orang yang shalat, baik sendirian, sebagai imam ataupun sebagai makmum dan dalam segala keadaan”. (Tafsir ibnu Katsir 1/32).

Bacaan amin setelah surat Al-Fatihah bukanlah bagian dari ayat Al-Fatihah. Jadi hukum membaca amin tersebut adalah sunnah, bukan wajib. Namun selayaknya tetap kita lakukan karena hal ini sudah disyariatkan dan mempunyai banyak keutamaan.

Mengenai keutamaan bacaan amin silahkan baca Makna Ucapan Amin dan Hikmahnya

Bagaimana Bacaan Amin yang Benar?

Ada beberapa kata yang mirip untuk kata “Aamiin“.

1. أَمِيْنٌ (a:pendek, min:panjang), artinya ‘orang yang amanah atau terpercaya’.

2. أٰمِنْ (a:panjang, min:pendek), artinya ‘berimanlah’ atau ‘berilah jaminan keamanan’.

Ketika selesai membaca Al-Fatihah dalam shalat, kita tidak boleh membaca “Amin” dengan dua cara baca di atas.

3. آمِّيْنَ (a:panjang 5 harakat, mim:bertasydid, dan min: panjang), artinya ‘orang yang bermaksud menuju suatu tempat’.

Ada sebagian ulama yang memperbolehkan membaca “Amin” dalam shalat dengan bentuk bacaan semacam ini. Demikian keterangan Al-Wahidi. Imam An-Nawawi mengatakan, “Ini adalah pendapat yang sangat aneh. Kebanyakan ahli bahasa menganggapnya sebagai kesalahan pengucapan orang awam. Beberapa ulama mazhab kami (Mazhab Syafi’i) mengatakan, ‘Siapa saja yang membaca ‘Amin’ dengan model ini dalam shalatnya maka shalatnya batal.’” (At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, hlm. 134).

Baca juga: Hukum Mengucapkan Amin Setelah Membaca Alfatihah

4. أٰمِيْنَ (a:panjang 2 harakat karena mengikuti mad badal, min:panjang 4–6 harakat karena mengikuti mad ‘aridh lis sukun, dan nun dibaca mati), artinya ‘kabulkanlah’. Inilah bacaan “Amin” yang benar. (KonsultasiSyariah.com).

Demikian bahasan Bacaan Amin yang Benar dan Hukumnya. Semoga bermanfaat.
Allahu a’lam.