Bacaan Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Hijriyah

Menjelang datangnya pergantian tahun baru Hijriyah, terdapat berbagai amalan yang dilakukan, diantaranya membaca doa akhir tahun dan awal tahun. Bacaan doa akhir tahun dibaca setelah shalat Ashar sedangkan doa awal tahun dibaca setelah shalat Maghrib. Amalan ini tersebar di berbagai pelosok negeri, sehingga sangat penting untuk mengetahui dasar hukum amalan tersebut.

Anjuran Memperbanyak Doa

Terdapat banyak ayat dalam Al Qur’an yang memerintahkan kita untuk berdoa kepada Allah Ta’ala. Dalam Al Qur’an Allah berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. al-A’raf : 55).

Dalam ayat yang lain, Allah menyebut orang yang tidak mau berdoa sebagai orang sombong. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang bersikap sombong dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghafir : 60).

Diantara makna “bersikap sombong dari menyembah-Ku” adalah tidak mau berdoa kepada-Ku. Artinya, orang yang tidak mau berdoa kepada Allah akan diancam dengan neraka. (Zadul Masir, Ibnul Jauzi, 5/296).

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan marah kepadanya”. (HR. Turmudzi : 3700 dan dishahihkan al-Albani).

Berdasarkan dalil di atas, maka orang yang tidak mau berdoa diancam masuk neraka, dan semakin banyak berdoa semakin baik.

Sejarah Penetapan Tahun Hijriyah

Para ahli sejarah menegaskan bahwa penetapan kalender hijriyah sebagai kalender resmi dalam Islam, baru ada di zaman Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Dan itu ditetapkan untuk menandai surat-menyurat yang dilakukan di antara kaum muslimin. Ini berarti, kalender hijriyah belum pernah dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar as-Shiddiq.

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar as-Shiddiq, Beliau menggunakan kalender qamariyah sebagai acuan kegiatan dan pencatatan, mengikuti kalender yang sudah digunakan oleh masyarakat arab sejak sebelum Islam. Hanya saja, di zaman tersebut belum ada angka tahun serta acuan tahun. Sehingga di zaman beliau, belum dikenal istilah akhir tahun atau awal tahun (tahun baru).

Hingga akhirnya pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, tepatnya di tahun ketiga beliau menjabat sebagai khalifah, beliau mendapat sepucuk surat dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu menjabat sebagai gubernur untuk daerah Bashrah. Dalam surat itu, Abu Musa mengatakan,

إنه يأتينا من أمير المؤمنين كتب، فلا ندري على أيٍّ نعمل، وقد قرأنا كتابًا محله شعبان، فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي

“Telah datang kepada kami beberapa surat dari amirul mukminin, sementara kami tidak tahu kapan kami harus menindaklanjutinya. Kami telah mempelajari satu surat yang ditulis pada bulan Sya’ban. Kami tidak tahu, surat itu Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin”.

Kemudian Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat di Madinah, dan beliau meminta,

ضعوا للناس شيئاً يعرفونه

“Tetapkan tahun untuk masyarakat, yang bisa mereka jadikan acuan”.

Al-Hakim menyebutkan dalam al-Mustadrak, dari Said bin al-Musayib, beliau menceritakan, “Umar bin Khattab mengumpulkan kaum muhajirin dan anshar radhiyallahu ‘anhum, beliau bertanya, “Mulai kapan kita menulis tahun”. Kemudian Ali bin Abi Thalib mengusulkan, “Kita tetapkan sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, meninggalkan negeri syirik”. Maksud Ali adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Kemudian Umar menetapkan tahun peristiwa terjadinya Hijrah itu sebagai tahun pertama Hijriyah. (al-Mustadrak 4287 dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi).

Melihat keterangan diatas maka, penetapan tahun baru hijriyah sebagai kalender Islam digunakan hanya untuk kepentingan pencatatan atau administrasi, bukan karena faktor ibadah dan tidak ada kaitannya dengan ibadah.

Bacaan Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Hijriyah

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum membaca doa akhir tahun dan awal tahun. Ada ulama yang menganjurkan dan ulama lain mengatakan tidak sesuai syariat.

Ulama yang menganjurkan doa akhir dan awal tahun mengqiyaskan dengan doa awal waktu dan akhir waktu. Misalnya doa pada awal bulan dan akhir bulan. Dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,

النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ: اَللهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal (bulan pada tanggal 1, 2 dan 3), maka beliau berdoa: “Ya Allah, perlihatlah bulan ini kepada kami dengan kebahagiaan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah”. (HR. Al-Darimi : 1730, At-Tirmidzi : 3451, dan At-Tirmidzi mengatakan hasan).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ : اَللهُ أَكْبَرْ ، اَللّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal, maka berdoa: “Allah Maha Besar. Ya Allah, perlihatkanlah bulan ini kepada kami dengan keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan pertolongan pada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah”. (HR. al-Darimi : 1729).

Dari Ibnu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, beliau menyampaikan bahwa,

أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ: هِلاَلُ خَيْرٍ وَرُشْدٍ ، هِلاَلُ خَيْرٍ وَرُشْدٍ ، هِلاَلُ خَيْرٍ وَرُشْدٍ ، آَمَنْتُ بِاللهِ الَّذِيْ خَلَقَكَ ” ، ثلاث مرات ، ثم يقول : ” اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ ذَهَبَ بِشَهْرِ كَذَا وَجَاءَ بِشَهْرِ كَذَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal, maka berdoa: “Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah yang telah menciptakanmu”. Sebanyak tiga kali, kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah membawa pergi bulan ini, dan datang dengan bulan ini”. (HR. Abu Dawud : 5092).

Hadits-hadits di atas menunjukkan anjuran membaca doa pada awal bulan, dan doa akhir tahun dan awal tahun juga dianjurkan, dengan diqiyaskan pada doa awal bulan di atas. Selain itu, dalam kitab-kitab hadits juga disebutkan doa-doa yang dianjurkan pada awal terbitnya matahari dan setelah terbenamnya matahari. sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab tentang doa dan dzikir, seperti kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi. Wallahu a’lam.

Qiyas dalam ibadah telah dilakukan oleh para ulama sejak generasi salaf, para sahabat, ahli hadits dan para imam madzhab, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Bukhari dan lain-lain. Bahkan Syaikh Ibnu Baz juga banyak melakukan qiyas dalam bab ibadah, sebagaimana dapat dibaca dalam sebagian fatwa-fatwa beliau.

Mengenai khasiat doa akhir tahun dan awal tahun yang disebutkan juga dapat dibenarkan, karena ayat Al-Qur’an, doa dan dzikir telah diakui oleh seluruh ulama.

Syaikh Ibnu Qayyimil Jauziyyah, mengatakan, “Dan telah dimaklumi bahwa sebagian perkataan manusia memiliki sekian banyak khasiat dan aneka kemanfaatan yang dapat dibuktikan. Apalagi ayat-ayat Al-Qur’an selaku firman Allah, Tuhan semesta alam, yang keutamaannya atas semua perkataan sama dengan keutamaan Allah atas semua makhluk-Nya. Tentu saja, ayat-ayat Al-Qur’an dapat berfungsi sebagai penyembuh yang sempurna, pelindung yang bermanfaat dari segala marabahaya, cahaya yang memberi hidayah dan rahmat yang merata. Dan andaikan Al-Qur’an itu diturunkan kepada gunung, niscaya ia akan pecah karena keagungannya. Allah telah berfirman: “Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. al-Isra’ : 82). Kata-kata “dari Al-Qur’an”, dalam ayat ini untuk menjelaskan jenis, bukan bermakna sebagian menurut pendapat yang paling benar”. (Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma’ad, 2/162).

Sedangkan ulama yang mengingkari adanya doa khusus akhir tahun dan awal tahun menjelaskan, Dasar dijadikannya tahun Hijriyah menjadi tahun kalender Islam, adalah untuk memudahkan dalam pencatatan. (lihat keterangan diatas). Sejarah menegaskan bahwa penetapan kalender hijriyah sebagai kalender resmi dalam Islam, baru ada di zaman Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Sehingga bisa disimpulkan dengan sangat yakin bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan doa akhir tahun atau awal tahun. Bagaimana mungkin Beliau mengajarkan doa akhir dan awal tahun, sementara di zaman Beliau, semacam ini belum dikenal.

Berdasarkan kesepatakan para sahabat, bulan Muharram ditetapkan sebagai awal tahun dan bulan Dzulhijjah ditetapkan sebagai akhir tahun. Ketika penetapan awal dan akhir tahun pun, tidak didapati para sahabat memanjatkan doa awal dan akhir tahun. Tidak ada di antara para sahabat yang membuat ritual tersebut padahal bisa saja mereka melakukannya.

Para ulama menegaskan, bahwa tidak ada doa akhir tahun maupun awal tahun, yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun para sahabat. Doa akhir tahun yang banyak tersebar di masyarakat, sama sekali tidak ada dasarnya, murni hasil karya manusia. Karena itulah, para ulama mengingkari doa semacam ini, apalagi ketika dia diklaim sebagai doa ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dr. Bakr Abu Zaid (w. 1429 H) mengatakan,

لا يثبت في الشرع شيء من دعاء أو ذكر لآخر العام، وقد أحدث الناس فيه من الدعاء، ورتبوا ما لم يأذن به الشرع، فهو بدعة لا أصل لها.

“Tidak terdapat dalil dalam syariat yang menyebutkan tentang doa atau dzikir akhir tahun. Masyarakat membuat-buat kegiatan doa, mereka susun kalimat-kalimat doa, yang sama sekali tidak diizinkan dalam syariat. Doa semacam ini murni bukan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ada dasarnya”. (Tashih ad-Dua, hlm. 108).

Syaikh Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Sebagian orang membuat inovasi baru dalam ibadah dengan membuat-membuat doa awal tahun dan akhir tahun. Sehingga dari sini orang-orang awam ikut-ikutan mengikuti ritual tersebut di berbagai masjid, bahkan terdapat para imam pun mengikutinya. Padahal, doa awal dan akhir tahun tersebut tidak ada pendukung dalil sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga dari para sahabatnya, begitu pula dari para tabi’in. Tidak ada satu hadits pun yang mendukungnya dalam berbagai kitab musnad atau kitab hadits”. Dan dilanjutkan, “Kita tahu bahwa doa adalah ibadah. Pengkhususan suatu ibadah itu harus tawqifiyah (harus dengan dalil). Doa awal dan akhir tahun sendiri tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula pernah dicontohkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum”. (Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 399).

Segala bentuk ritual ibadah, baik shalat di malam pergantian tahun atau doa tahun baru, atau puasa akhir tahun, sama sekali tidak pernah dikenal di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat.

Demikian pendapat para ulama mengenai doa akhir dan awal tahun. Melihat keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa,
1. Kita diperintahkan untuk berdoa, bahkan bila tidak mau berdoa termasuk orang yang sombong dan diancam dimasukkan ke neraka.
2. Penetapan tahun baru hijriyah sebagai kalender Islam digunakan untuk keperluan pencatatan (adminitrasi). Tidak ada kaitannya dengan ibadah. Apalagi bertujuan agar bisa melakukan ibadah tertentu, misalnya doa ataupun puasa akhir tahun dan awal tahun.
3. Dari perbedaan pandangan di antara ulama dapat diketahui bahwa, doa awal dan akhir tahun yang tersebar di masyarakat bukanlah doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan riwayat yang shahih adalah adanya doa awal bulan.
4. Tidak terdapat larangan untuk berdoa di akhir dan awal tahun, namun tidak terdapat doa khusus pada waktu tersebut, ataupun penetapan waktu tertentu dan cara-cara tertentu untuk membaca doa tersebut. Kita diperbolehkan berdoa setiap waktu, terlebih pada waktu-waktu yang mustajab.

Baca juga: Doa Agar Diberi Kelancaran Rizki Yang Barokah

Doa termasuk ibadah, dan dalam masalah ibadah haruslah sesuai dengan tuntunan dan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah Ta’ala selalu menuntun kita di jalan-Nya yang lurus.
Allahu ‘alam.