Beda Niat Antara Imam dan Makmum

Jika ada seseorang yang sedang shalat sunnah kemudian datang orang lain di belakangnya untuk menjadi makmum dengan niat shalat wajib, apakah shalatnya sah dan bagaimana hukumnya?

Keadaan seperti ini pernah dialami langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa menjadi pelajaran untuk kaum muslimin, yaitu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melakukan shalat sunnah (Shalat malam) di rumah beliau, kemudian datanglah sepupu beliau yaitu Ibnu Abbas radhiyallahu anhu untuk menjadi makmum, sebagaimana dalam hadits yang dikabarkan oleh Ibnu Abbas :

ثم قام يصلي فجئت فقمت إلى جنبه فقمت عن يساره, قال فأخذني فأقامني عن يمينه

“Kemudian beliau melakukan shalat, dan saya pun ikut shalat bersama beliau dengan berdiri di sebelah kirinya, Namun beliau memegang dan memindahkanku ke sebelah kananya”. (HR. Muslim : 1279).

Sehingga dalam hal ini dibolehkan bagi siapa yang datang untuk bermakmum kepada seseorang yang sedang melaksanakan shalat secara sendiri, dan yang sedang shalat pun boleh memposisikan dirinya sebagai imam.

Namun, tentunya dalam hadits tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ibnu Abbas melakukan shalat yang sama jenisnya, yaitu sama-sama shalat sunnah, sehingga bagaimana jika seseorang sedang melakukan shalat sunnah tiba-tiba datang orang lain yang ingin bermakmum di belakangnya padahal ia akan melakukan shalat fardhu?

Beda Niat Shalat Antara Imam dan Makmum

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Ustaimin yang artinya:

“Ada yang mengatakan tidak boleh bagi seseorang yang melakukan shalat fardhu bermakmum di belakang seseorang yang melakukan shalat sunnah, karena tidak mungkin sesuatu yang derajatnya lebih tinggi berada di belakang yang derajatnya lebih rendah, sedangkan Sholat Fardhu derajatnya di atas sholat sunnah, bagaimana mungkin seseorang yang melakukan shalat sunnah menjadi imam bagi orang yang melakukan shalat fardhu. Dan Di antara para ulama ada juga yang mengatakan bolehnya seseorang yang melakukan shalat fardhu bermakmum kepada yang melakukan shalat sunnah, dan inilah pendapat yang Rajih (kuat)”.

Beliau merajihkan pendapat yang membolehkan dengan dalil bahwa Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah suatu ketika shalat Isya bersama Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam secara berjamaah, kemudian Muadz pergi menuju kaumnya untuk mengimami kaumnya melaksanakan shalat Isya tersebut, sedangkan Muadz menjadikan shalatnya ketika menjadi imam tersebut sebagai shalat sunnah, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal tersebut, sehingga berbeda niat dan jenis shalatnya Muadz rhadiyallahu ‘anhu dengan shalat kaumnya. (lihat Hadits Riwayat Bukhari nomor: 5641 dan Muslim nomor: 711).

Baca juga: Haruskah Makmum Mambaca Al-Fatihah?

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Ustaimin pernah mendapatkan pertanyaan, “Jika seseorang sedang shalat sunnah, kemudian datang seseorang bermakmum kepadanya apakah ini dibolehkan?”

فأجاب فضيلته بقوله: نعم يجوز ذلك, فإذا دخل معه القادم نوى الجماعة, ولا ينبغي له أن يأبى فيحرم نفسه ويحرم الداخل ثواب الجماعة, وقد ثبت أن النبي صلي الله عليه وسلم قام يصلي من الليل وحده فجاء ابن عباس – رضي الله عنهما – فصلى معه ,وما جاز في النفل جاز في الفرض؛ لأن الأصل تساوي أحكامهما إلا بدليل يدل على الخصوصية

“Maka Syaikh menjawab: Iya hal tersebut dibolehkan, apabila seseorang shalat sunnah sendirian kemudian datang orang lain berniat shalat berjamaah maka tidak sepantasnya ia menghalangi dirinya dan orang yang datang untuk mendapatkan pahala shalat berjamaah, dan telah disebutkan bahwa suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat malam sendirian, maka Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma datang dan bermakmum kepada Nabi Shllallahu ‘alaihi wa sallam. Dan apapun yang dibolehkan pada shalat sunnah maka hal yang sama pun dibolehkan pada shalat fardhu, karena pada dasarnya adanya kesamaan hukum antara keduanya kecuali jika ada dalil yang mengkhususkan”. (Majmu’ Fatawa wa Rosail al-Utsaimin: 15/171).

Baca juga: Hukum Shalat Berjamaah Wajib atau Sunnah

Maka, dengan demikian sebaiknya sikap kita adalah untuk mempersilahkan siapapun yang datang untuk bermakmum kepada kita tanpa menolaknya walaupun berbeda jenis antara shalat kita dengan shalat orang yang datang tersebut, sehingga kita tetap melanjutlkan shalat sunnah tersebut sampai selesai.

Wallahu a’lam.

Referensi:
Saat Shalat Sunnah ada yang Bermakmum Shalat Wajib, oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc. M.kom