Berdoa Di Media Sosial

Sekarang ini media sosial sudah menjadi kebutuhan sebagian masyarakat. Bahkan sebagian orang selalu mengunggah kehidupan pribadinya di media sosial tersebut, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, selalu up-to-date. Terdapat juga banyak orang yang curhat, mengeluh ataupun berdoa di sosial media. Sebenarnya apakah boleh berdoa di media sosial? Serta bagaimana hukumnya?

Perintah Untuk Berdoa

Sebagai hamba Allah kita diperintahkan untuk meminta dan memohan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. al-A’raf : 55).

Dan dalam ayat yang lain dikatakan bahwa orang yang tidak mau berdoa sebagai orang yang sombong. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang bersikap sombong dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghafir : 60).

Diantara makna “bersikap sombong dari menyembah-Ku” adalah tidak mau berdoa kepada-Ku. Artinya, orang yang tidak mau berdoa kepada Allah akan diancam dengan neraka. (Zadul Masir, Ibnul Jauzi, 5/296).

Hukum Berdoa di media sosial

Pada dasarnya kita diperbolehkan berdoa di tempat umum dan berdoa dengan suara yang di dengar orang lain. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang khutbah jum’at, ada seorang Badui yang meminta kepada beliau agar berdoa kepada Allah untuk segera menurunkan hujan. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَصَابَتِ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَبَيْنَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ فِى يَوْمِ جُمُعَةٍ قَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْمَالُ وَجَاعَ الْعِيَالُ ، فَادْعُ اللَّهَ لَنَا . فَرَفَعَ يَدَيْهِ ، وَمَا نَرَى فِى السَّمَاءِ قَزَعَةً ، فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا وَضَعَهَا حَتَّى ثَارَ السَّحَابُ أَمْثَالَ الْجِبَالِ ، ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ – صلى الله عليه وسلم

“Pada masa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi kemarau yang panjang. Ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba seorang Badui berdiri seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta telah rusak dan keluarga telah kelaparan. Berdoalah kepada Allah untuk kami (untuk menurunkan hujan)’. Maka beliau pun mengangkat kedua tangannya – ketika itu kami tidak melihat awan di langit – dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, beliau tidak menurunkan kedua tangannya, hingga kemudian muncullah gumpalan awan tebal laksana gunung. Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak turun dari mimbar hingga aku melihat hujan menetes deras di jenggotnya –Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR. Bukhari, 933).

Mengenai berdoa di sosial media ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Apabila membuat status yang berisi doa di sosmed dalam rangka mengajarkan doa kepada orang lain, Insya Allah kegiatan semacam ini termasuk amal saleh, Allahu ‘alam. Karena termasuk mengajak dan mendakwahkan kebaikan kepada rekan-rekan di media sosial untuk melakukan amalan sunah berupa doa. Karena itu, perlu dipastikan bahwa, doa yang disebarkan betul-betul telah terjamin keshahihannya.

Orang yang mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikuti ajakannya. Dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Siapa yang menunjukkan kebaikan, dia akan mendapatkan pahala seperti pahala pelakunya (orang yang mengikutinya)”. (HR. Muslim, 1893).

Namun jika doa yang isinya hanya keluh kesah masalah kehidupan pribadinya atau penyesalan atas perbuatan maksiat dengan menyebut bentuk maksiat yang dilakukan, maka hal ini tidak selayaknya dilakukan. Hal-hal yang sifatnya pribadi yang merupakan bagian dari privasi seseorang, tidak selayaknya disebarkan di sosmed. Karena sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk selalu menjaga kehormatan, dan tidak mengumbar aib pribadi didepan publik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Setiap umatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali orang-orang melakukan mujaharah (terang-terangan bermaksiat), dan termasuk sikap mujaharah adalah seseorang melakukan sebuah perbuatan dosa di malam hari, kemudian pagi harinya dia membuka rahasianya dan mengatakan, ‘Wahai fulan, tadi malam aku melakukan seperti ini, seperti ini’, padahal Allah telah menutupi dosanya. Di malam hari, Allah tutupi dosanya, namun di pagi hari, dia singkap tabir Allah pada dirinya. (HR. Bukhari 6069).

Di dalam ajaran Islam, kita juga dituntut agar tidak menjadi hamba yang mudah mengeluh kepada orang lain, apalagi mengumbar keluh kesah masalah pribadi di tempat umum, seperti di media sosial. Media sosial bukanlah tempat mengadu dan meratapi masalah yang sedang dialami. Karena sikap semacam ini menunjukkan kurangnya tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lihatlah sikap para nabi, mereka hanya mengeluhkan masalahnya kepada Allah. Nabi Yakub ketika mendapatkan ujian kesedian yang mendalam, beliau mengatakan,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Yaqub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku..” (QS. Yusuf : 86).

Perlu diperhatikan juga, apabila seseorang membuat status doa dengan memaksa orang lain untuk ikut berdoa (mengaminkan) disertai dengan ancaman bila tidak mau mengaminkan maka akan mendapat kemalangan atau mendapat hal buruk lainnya, maka ia telah melakukan tindakan kedzaliman. Karena ia telah mendoakan keburukan kepada orang yang tidak berbuat salah kepada dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. An-Nisa : 148).

Mendoakan keburukan kepada orang lain diperbolehkan apabila ada sebab, yaitu dirinya didzalimi oleh orang lain. Apabila tidak, maka orang yang mendoakan keburukanlah yang telah berbuat kedzaliman. Karena hukum asal mendoakan keburukan kepada orang lain, mencela, menghina, adalah dilarang oleh Allah Ta’ala.

Lihat juga: Cara Menjawab Salam Di Media Sosial

Dengan demikian sudah selayaknya kita lebih bijak dan hati-hati dalam menggunakan media sosial. Semoga bermanfaat.
Allahu ‘alam.