Dalil Peringatan Maulid Nabi

Sudah menjadi kebiasaan muslim di Indonesia dan diberbagai negara, setiap tanggal 12 Rabiul Awwal diadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Acara ini dilakukan untuk mengungkapkan kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rasa syukur dan gembira atas kelahiran beliau.

Dalil Peringatan Maulid Nabi

Peringatan maulid Nabi Muhammad adalah sebuah ungkapan kecintaan dan kegembiraan kepada beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiran itu.

فقد جاء في البخاري أنه يخفف عن أبي لهب كل يوم الإثنين بسبب عتقه لثويبة جاريته لما بشّرته بولادة المصطفى صلى الله عليه وسلم. وهذا الخبر رواه البخاري في الصحيح في كتاب النكاح معلقا ونقله الحافظ ابن حجر في الفتح. ورواه الإمام عبد الرزاق الصنعانيفي المصنف ج ٧ ص ٤٧٨

Dalam hadits di atas yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, dikisahkan ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu lahab, paman nabi , menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang jabang bayi yang sangat mulia , Abu Lahab pun memerdekan Tsuwaibah sebagai tanda cinta dan kasih. Dan karena kegembiraannya, kelak di hari kiamat siksa atas dirinya diringankan setiap hari senin tiba.

Bagi seorang mukmin, kecintaan kepada Nabi adalah sebuah keharusan, salah satu untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Kecintaan kepada nabi harus berada diatas segalanya, bahkan melebihi kecintaan kepada istri, anaknya, bahkan kecintaan kepada diri sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين.

“Tidak sempurna iman salah satu diantara kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Memperingati hari kelahiran (Maulid) Nabi sudah ada sejak masa Nabi shallahhu ‘alaihi wa sallam sendiri. Yakni dari segi mengagungkan hari di mana Nabi dilahirkan dengan melakukan suatu ibadah yaitu berpuasa.

Ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab,

ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت اوانزل علي فيه

“Hari itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku”. (HR. Muslim dan lainnya).

Ini merupakan dalil nyata bolehnya memperingati hari kelahiran (Maulid) beliau, yang saat itu dirayakan oleh Nabi dengan salah satu macam ibadah yaitu berpuasa. Dan ini merupakan fakta bahwa beliaulah pertama kali yang mengagungkan hari kelahirannya sendiri dengan berpuasa. Maka mengagungkan hari di mana beliau dilahirkan merupakan sebuah sunnah yang telah Nabi contohkan sendiri. Ini asal dan esensi dari acara maulid Nabi.

Benarkah Peringatan Maulid Nabi Sebagai Bentuk Rasa Cinta?

Para ulama sepakat bahwa peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilaksanakan pada zaman sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Padahal mereka adalah tiga generasi terbaik dalam umat ini. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menyampaikan hal ini. Beliau bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (Nabi dan para Sahabatnya) kemudian yang setelahnya (tabi’in) kemudian yang setelahnya (Tabi’ut Tabi’in) kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya (orang-orang yang banyak berdusta dan tidak bisa dipercaya)”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Untuk lebih jelasnya silahkan baca Peringatan Maulid Nabi Dari Sejarah Sampai Hukumnya

Tidak dipungkiri bahwa peringatan Maulid Nabi juga diadakan oleh ulama dan pemimpin yang shaleh, ta’at, alim dan adil berkisar pada abad ke- 7 hijriyah. Dibanding orang-orang setelahnya hingga saat ini, tentu kebaikan, keta’atan, kecintaannya terhadap Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam maupun keshalehannya melebihi orang-orang zaman sekarang. Namun perlu dipahami bahwa, kebaikan mereka tidak sebanding dengan para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang merupakan tiga generasi terbaik umat ini.

Selain hadits diatas yang menunjukkan kebaikan dan keutamaan para sahabat, dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At Taubah:100).

Surat At Taubah ayat 100 diatas menjelaskan bahwa, Allah telah ridha kepada para sahabat, baik dari Muhajirin dan Anshar, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga. Dan kita diperintahkan untuk mengikuti dan meneladani mereka. Sedangkan sudah jelas bahwa, para sahabat sama sekali tidak pernah melakukan peringatan Maulid Nabi. Dengan demikian, siapakah yang harus kita ikuti dan kita teladani? Para sahabat yang mendapat ridha dari Allah ataukah orang-orang belakangan yang sudah pasti kebaikannya tidak sebanding dengan para sahabat?

Coba renungkan, Allah subhanahu wa Ta’ala telah ridha kepada para sahabat dan kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dan Allah menjanjikan surga-surga bagi mereka. Apakah masih tidak mau mengikuti mereka? Tidakkah menginginkan surga-surga yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada umatnya, jika ingin selamat dari neraka kita diperintahkan untuk mengikuti beliau dan para sahabat beliau. Dari Abdullah bin’Amr Radhiyallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya umatku akan berpecah-belah menjadi 73 agama. Mereka semua di dalam neraka, kecuali satu agama. Mereka bertanya:“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Siapa saja yang mengikutiku dan (mengikuti) sahabatku”. (HR. At-Tirmidzi, no. 2565 dan lainnya; Dihasankan oleh Syaikh Al Hilali).

Dengan demikian apakah dengan melakukan peringatan Maulid Nabi merupakan bentuk keta’atan, kepatuhan dan kecintaan kepada Nabi? Ataukah justru melawan perintah Nabi? Sebab kita diperintahkan untuk mengikuti sahabat beliau, sedangkan para sahabat tidak pernah memperingati hari kelahiran beliau. Tidakkah ingin selamat dari siksa neraka?

Ulama berbeda pendapat mengenai bid’ah. Ada yang mengatakan semua bid’ah itu sesat dan yang lain mengatakan adanya bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Terlepas dari semua itu, kita diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Sedangkan pengertian Taqwa secara luas adalah menjalankan segala perintah dan meninggalkan semua larangan yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya.

Disini sudah jelas, kita disuruh untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Sebagai hamba yang beriman kita mempunyai dua kewajiban, yaitu menjalankan semua yang diperintahkan dan meninggalkan semua hal yang dilarang. Kita hanya diwajibkan untuk mengikuti perintah dan meninggalkan larangan. Sebagai hamba kita tidak boleh membuat sesuatu yang tidak diperintahkan, kita sepatutnya hanya tunduk dan patuh. Hal ini sudah dicontohkan oleh para sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini.

Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

“Sesungguhnya kami meneladani, kami tidak memulai. Kami mengikuti (ittiba’), kami tidak membuat bid’ah. Kami tidak akan sesat selama berpegang kepada atsar (riwayat dari Nabi dan sahabatnya, Pen.)”. (Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 42, no. 35).

Dengan demikian, apakah dengan melakukan peringatan Maulid Nabi termasuk hamba yang ta’at, tunduk dan patuh? Ataukah hamba yang lancang, suka membantah dan mencari-cari sesuatu yang tidak diperintahkan?

Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H)mengatakan,

عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهُ لَكَ بِالقَوْلِ.

“Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah”. (Imam al-Aajury dalam as-Syariah I/445 no. 127).

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab,

ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت اوانزل علي فيه

“Hari itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku”. (HR. Muslim dan lainnya).

Mengenai hadits diatas sebagian kalangan mempunyai pemahaman bahwa, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang pertama kali mengagungkan hari kelahirannya dengan melakukan puasa. Ini merupakan dalil nyata bolehnya memperingati hari kelahiran Nabi (Maulid Nabi) yang saat itu dirayakan oleh beliau dengan salah satu macam ibadah yaitu berpuasa. Dan ini merupakan sebuah sunnah yang telah dicontohkan sendiri oleh beliau.

Namun pemahaman ini berbeda dengan ulama salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, maupun tabi’ut tabi’in. Tidak satupun dari mereka yang memahami demikian. Terbukti dengan tidak adanya peringatan Maulid Nabi di masa mereka. Kalau mereka memahami bahwa Nabi berpuasa pada hari Senin untuk memperingati kelahiran beliau, yang menjadi asal dan esensi dari acara Maulid Nabi, sudah tentu mereka menjadi orang terdepan yang melakukannya. Bahkan mungkin mereka akan merayakannya setiap pekan, seperti yang Nabi contohkan. Namun kenyataannya tidak demikian.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa bukan hanya pada hari Senin saja. Beliau juga berpuasa pada hari Kamis, dan ini dilakukan setiap minggu bukan setiap tahun. Karena amal seseorang diangkat (ditunjukkan) kepada Allah pada hari Senin dan Kamis. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

“Ditunjukkan amalan-amalan pada hari Senin dan Kamis, dan aku suka amalanku ditunjukkan dalam keadaaan aku berpuasa”. (H.R at-Tirmidzi).

Tidak diragukan lagi bahwa para sahabat adalah umat terbaik, paling dalam ilmunya dan paling lurus petunjuknya. Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُلُوْبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالاً، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَ ِلإِقَامَةِ دِيْنِهِ فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ، وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ.

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus”. (Majma’-uz Zawaa-id, oleh al-Hafizh al-Haitsamy).

Dengan demikian, pemahaman siapa yang harus kita ikuti dan teladani? Pemahaman Salafush Shalih dari kalangan sahabat, tabi’in, maupun tabi’ut tabi’in ataukah pemahaman orang-orang setelah mereka?

Semoga pembahasan Tentang dalil peringatan Maulid Nabi bermanfa’at. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk dan pertolongan-Nya kepada kita kaum muslimin agar selalu berada di jalan-Nya yang lurus.
Allahu ‘alam.