Hadits Dhaif untuk Fadhilah Amal

Hadits dhaif boleh digunakan dalam masalah fadhilah amal, apa maksudnya? Apakah boleh melakukan amalan berdasarkan hadits dhaif?

Pengertian Hadits Dhaif

Hadits dhaif merupakan hadits yang derajatnya tidak mencapai derajat hadits shahih dan derajat hadits hasan, sebagaimana yang didefenisikan oleh Ibnu Shalah rahimahullah,

كلما لم تجتمع فيه صفات الحديث الصحيح أو الحسن – فهو ضعيف”.

“Selama Sifat-sifat hadits shahih ataupun hadits hasan belum terkumpul dalam sebuah hadits, maka ia merupakan hadis dha’if”. (An-Nukat ‘ala kitabi ibnis Sholah libni Hajar: 1/77).

Sehingga hadits dha’if tidaklah sah disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun, berdasarkan keterangan para ulama hadits, mayoritas ulama membolehkan bahkan menganjurkan kita untuk berdalil dengannya pada masalah-masalah fadhilah-fadhilah amal (menjelaskan keutamaan-keutamaan amalan), sebagaimana dijelaskan dalam kitab Manhajun naqdi fii ulumil hadits,

يستحب العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال من المستحبات والمكروهات، وهو مذهب جماهير العلماء من المحدثين والفقهاء وغيرهم، وحكى الاتفاق عليه بين العلماء الإمام النووي والشيخ علي القاري وابن حجر الهيتمي وقد أوضح الحافظ ابن حجر شروطه خير إيضاح

“Dianjurkan beramal dengan hadis dha’if dalam fadhilah-fadhilah amal pada hal-hal yang bersifat anjuran dan hal-hal yang dimakruhkan, dan ia merupakan mazhab mayoritas ulama dari kalangan ulama hadits, ulama fiqih dan selain mereka, dan bahkan Imam Nawawi, syaikh Ali al-Qori’, dan Ibnu Hajar al-Haitsami menyebutkan bahwa ini merupakan kesepakatan para ulama, namun al-Hafizh ibnu Hajar menjelaskan syarat-syaratnya dengan penjelasan terbaik”. (Manhajun naqdi fii ulumil hadits: 1/293).

Syarat Dibolehkannya Hadits Dhaif untuk Fadhilah Amal

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan kebolehan berdalil dengan hadis dha’if dalam fadhilah amal yaitu harus memenuhi syarat-syarat berikut ini,

وَقد ذكر الْحَافِظ ابْن حجر أَن للأخذ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيف فِي الْفَضَائِل وَنَحْوهَا عِنْد من سوغ ذَلِك ثَلَاثَة شُرُوط, أحدهَا أَن يكون الضَّعِيف غير شَدِيد الضعْف فَيخرج من انْفَرد من الْكَذَّابين والمتهمين بِالْكَذِبِ وَمن فحش غلطه ,وَقد نقل بَعضهم الِاتِّفَاق على ذَلِك, الثَّانِي أَن ينْدَرج تَحت أصل مَعْمُول بِه, الثَّالِث أَن لَا يعْتَقد عِنْد الْعَمَل بِهِ ثُبُوته بل يعْتَقد الِاحْتِيَاط

“Dan telah disebutkan oleh al-hafizh Ibnu Hajar bahwa berdalil dengan hadits dha’if dalam masalah fadhilah amal dan yang semisal dengannya bagi orang-orang yang membolehkannya harus memenuhi 3 syarat:

1. Tingkat ke-dha’ifannya bukanlah dho’if yang sangat parah, maka dengan itu harus terlepas dari riwayat orang-orang pendusta dan yang tertuduh berdusta
2. Hendaklah hadits dha’if ini ada penguatnya dari hadits shahih yang boleh diamalkan
3. Hendaknya ketika beramal dengan hadits dha’if, agar tidak meyakini bahwa ia merupakan dalil yang ditetapkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi hendaklah ia berhati-hati”. (Taujihun Nazhar ila Ushulil Atsar: 2/653).

Kemudian Doktor Abdul ’Aziz al-Utsaim pun berkata:

والذي ينقدح في ذهن العبد الضعيف أن الخلاف في هذه المسألة من نوع الخلاف اللفظي، وأن الجميع متفقون على أن لا يؤخذ في الفضائل والمواعظ إلا بالحديث الحسن وهو ما دون الصحيح في ضبط رواته فمن قال من العلماء كأحمد وابن مهدي يؤخذ بالحديث الضعيف في الفضائل أراد بالضعيف الحسن لأنه ضعيف بالنظر إلى الصحيح ولأنه بعض الذي كانوا هم وأهل عصرهم يطلقون عليه اسم الضعيف

“Dan yang terbesit dalam pikiran hamba yang lemah ini bahwa perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah bagian dari perbedaan lafazh, dan bahwa seluruh ulama sepakat bahwa dalam masalah fadha’il a’mal dan nasehat-nasehat hanya dibolehkan berdalil minimal dengan hadits hasan, yaitu hadits yang riwayatnya tidak sekuat hadits shahih, sehingga siapapun yang berkata dari kalangan ulama seperti Imam Ahmad dan Ibnu Mahdi tentang bolehnya memakai hadits dho’if dalam masalah-masalah fadha’il a’mal maka yang dimaksud dha’if di sini adalah hadits hasan, karena hadits hasan pada dasarnya dianggap dhaif jika dibandingkan dengan hadits shahih, dan karena para ulama tersebut dan sebagian orang-orang di zaman mereka menyebut hadits hasan ini dengan sebutan dha’if secara lafazh/nama”. (Tahqiqul Qaul bil ‘amal bil hadits ad-Dhoif: 1/46).

Baca juga: Pengertian Hadits Muttafaq ‘Alaih

Kemudian beliau mengutip perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,

وكذلك ما عليه العلماء من العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال ليس معناه إثبات الإستحباب بالحديث الذي لا يحتج به فإن الإستحباب حكم شرعي فلا يثبت إلا بدليل شرعي. ومن أخبر عن الله عز وجل أنه يحب عملاً من الأعمال من غير دليل شرعي فقد شرع من الدين ما لم يأذن به الله عز وجل كما لو ثبت الإيجاب أو التحريم

“Dan begitu juga di antara para ulama yang membolehkan berdalil dengan hadits dho’if dalam masalah fadilah-fadilah amalan bukan berarti maksudnya adalah menetapkan hal-hal yang mengandung anjuran dengan memakai hadits yang tidak sah berdalil dengannya, karena sesungguhnya anjuran adalah bagian dari hukum syar’I yang tidak bisa ditetapkan kecuali hanya dengan dalil syar’I. Dan siapa yang mengabarkan bahwa Allah ‘Azza wa jalla mencintai sebuah amalan tanpa ada dalilnya maka sungguh ia telah membuat syari’at sendiri dalam agama ini, padahal ini tidaklah diizinkan oleh Allah ‘Azza wa jalla, sebagaimana tidak sahnya penetapan hukum wajib dan haram kecuali dengan dalil syar’i”. (Tahqiqul Qoul bil ‘amal bil hadits ad-Dhaif: 1/54).

وقال ابن تيمية مبيناً مراد العلماء القائلين بالعمل بالحديث الضعيف: “وإنما مرادهم بذلك أن يكون العمل مما قد ثبت أنه مما يحبه الله أو مما يكرهه الله بنص أو إجماع كتلاوة القرآن والتسبيح والدعاء

“Dan Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa maksud para ulama yang membolehkan beramal dengan hadits dhoif adalah: hanya pada amalan-amalan yang memang telah ditetapkan bahwa ia dicintai atau dibenci oleh Allah ‘Azza wa jalla berdasarkan Nash (dalil yang shahih) atau berdasarkan ijma’ para ulama seperti amalan membaca Al-Qur’an, tasbih dan do’a”. (Tahqiqul Qaul bil ‘amal bil hadits ad-Dhaif: 1/59).

Wallahu a’lam

Referensi:
Menggunakan Hadist Dhaif untuk Fadhilah Amal, oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc, M.Kom