Hukum Berangkat Haji Dari Hasil Hutang Bank

Haji merupakan salah satu rukun Islam. Bagi yang mampu berkewajiban untuk melaksanakannya, dan bila belum mampu tidak dianjurkan untuk memaksakannya. Jika ada orang yang berangkat haji dari hasil hutang bank, bagaimana hukumnya?

Allah mewajibkan haji bagi yang mampu. Allah berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…” (QS. Ali Imran: 97)

Yang dimaksud “sanggup mengadakan perjalanan” dalam ayat di atas adalah perbekalan dan kendaraan. Artinya, harus terpenuhi biaya yang cukup untuk haji, termasuk nafkah yang cukup untuk anaknya dan semua orang yang wajib dia nafkahi, sampai dia kembali.

Bagi yang tidak mampu, Islam tidak menganjurkan agar memaksakan diri untuk berangkat. Termasuk salah satunya dengan cara berhutang.

Syaikh Dr. Soleh al-Fauzan menyatakan,

ليس من الشرع أن يستدين الإنسان ليحج

“Bukan termasuk ajaran syariat ketika seseorang berhutang untuk haji.”

Meskipun andai ada orang berangkat haji dari hasil hutang, hajinya tetap sah.

Dr. Soleh al-Fauzan mengatakan,

ولكن مادام أنه فعل هذا واستدان وحج، فإن حجته صحيحة ويجب عليه سداد الدين، والله سبحانه وتعالى يوفق الجميع لما فيه الخير والصلاح.

Akan tetapi, jika dia tetap melakukan hal ini, dia berhutang dan melakukan haji, maka hajinya sah dan dia wajib melunasi utangnya. Semoga Allah ta’ala memberi taufiq bagi seluruh kaum muslimin untuk mendapatkan kebaikan.

Bagaimana hukum berangkat haji dari hasil hutang bank?

Keterangan di atas berlaku untuk mereka yang melakukan haji dari hasil hutang TANPA riba. Bagaimana hukum berangkat haji dari hasil hutang bank, yang bisa dipastikan ada ribanya. Tanpa memandang label, baik konvensional maupun syariah, produk dana talangan haji sangat merugikan masyarakat.

Mengenai hukum talangan haji bank syariah, bisa anda pelajari pada artikel selanjutnya.

Hutang riba, sekalipun mengandung dosa, namun uang yang diterima menjadi hak milik penerima. Demikian menurut pendapat yang benar. Karena itu, uang ini bisa dia gunakan untuk keperluan apapun yang sifatnya mubah, termasuk untuk mendaftar haji.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

والقرض الربوي – مع حرمته وشناعته – يفيد الملك على الصحيح ، فيكون المال المقترض ملكا لك ، تنتفع به فيما شئت من المباح كشراء سيارة وغيرها .

Hutang riba – meskipun hukumnya haram dan kemaksiatan – namun uang yang diberikan menjadi hak milik yang sah, menurut pendapat yang benar. Sehingga uang yang anda hutang, merupakan milik anda. Anda bisa manfaatkan untuk tujuan mubah apapun yang anda inginkan, seperti membeli mobil atau kebutuhan lainnya.

(Fatwa Islam no. 149111, menyimpulkan dari buku: al-Manfaah fi al-Qardh, Abdullah bin Muhammad al-Imrani, hlm. 245 – 254).

Mengenai penjelasan lebih detailnya, bisa anda pelajari pada artikel Uang Hasil Pinjam Bank Bukan Uang Haram

Untuk itu, haji yang diselenggarakan dari hasil hutang bank, termasuk haji dari uang halal dan hajinya tetap sah. Hanya saja, dia punya kewajiban melunasi hutang itu dan yang menjadi masalah besar adalah dia harus membayar riba saat pelunasan, inilah yang harus jadi perhatian serius. Sementara memberi makan riba, termasuk dosa yang dilaknat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengenai penjelasan tersebut silahkan baca Hukum Meminjam Uang di Bank Untuk Modal Usaha.

Dia berkewajiban untuk bertaubat kepada Allah, atas kesalahannya melakukan transaksi dengan bank, yang mengharuskan dia untuk membayar riba ke bank. Demikian penjelasan hukum berangkat haji dari hasil hutang bank.
Allahu a’lam.