Hukum Berdoa Mengangkat Tangan

Banyak sekali hadits yang menunjukkan tentang sunnahnya mengangkat tangan ketika berdoa. Mengangkat kedua tangan saat sedang berdoa merupakan salah satu adab dalam berdoa yang disyariatkan dalam ajaran Islam. Bahkan berdoa sambil mengangkat tangan dapat menjadikan sebab terkabulnya doa.

Hukum Berdoa Mengangkat Tangan

Para ulama sepakat bahwa hukum asal mengangkat tangan ketika berdoa adalah sunnah dan merupakan adab dalam berdoa.
Sangat banyak hadits yang menunjukkan tentang sunnahnya mengangkat tangan saat berdoa. Diantaranya hadits dari Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِى إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu jika ada hamba-Nya yang mengangkat tangan menghadap kepada-Nya lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa”. (HR. Abu Daud 1488, At- Tirmidzi, 3556. Dan Al-Albani mengatakan shahih).

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya, “Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Dan Allah juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu”. Kemudian Nabi Shallallahu “alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku”. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan doanya?”. (HR. Muslim).

Imam As-Suyuthi rahimahullah mengatakan, “Ada sekitar seratus hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa beliau mengangkat tangan saat berdoa, saya telah mengumpulkannya dalam sebuah kitab tersendiri, namun hal itu dalam keadaan yang berbeda-beda. Setiap keadaannya tidaklah mencapai derajat mutawatir, namun titik persamaan antara semuanya yaitu mengangkat tangan saat berdoa mencapai derajat mutawatir”. (Tadribur Rowi 2/180).

Imam As-Syaukani rahimahullah mengatakan, “Yang menunjukkan atas di syariatkannya mengangkat tangan saat berdoa adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekitar tiga puluh tempat dalam berbagai macam doa bahwa beliau mengangkat tangan”. (Tuhfatudz Dzakirin, 36).

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengangkat tangan adalah termasuk salah satu adab dalam berdoa, yang itu bisa membuat doa mustajabah”. (Jami’ Ulum Wal Hikam 1/253).

Apakah Setiap Berdoa Dianjurkan Mengangkat Tangan?

Mengenai hal ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya, “Bagaimanakah kaedah mengangkat tangan ketika berdoa?” Beliau menjawab dengan rincian sebagai berikut,

Mengangkat tangan ketika berdoa ada tiga keadaan,
Pertama, ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan. Kondisi ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat tangan ketika berdoa. Contohnya adalah ketika berdoa setelah shalat istisqo’ (shalat minta diturunkannya hujan). Jika seseorang meminta hujan pada khutbah jumat atau khutbah shalat istisqo’, maka dia hendaknya mengangkat tangan.[1] Juga contoh hal ini adalah mengangkat tangan ketika berdoa di Bukit Shafa dan Marwah, berdoa di Arafah,[2] berdoa ketika melempar Jumrah Al Ula pada hari-hari tasyriq dan juga Jumrah Al Wustha.[3]

Oleh karena itu, ketika menunaikan haji ada enam tempat untuk mengangkat tangan : ketika berada di Shafa, ketika berada di Marwah, ketika berada di Arafah, ketika berada di Muzdalifah setelah shalat shubuh, Di Jumrah Al Ula di hari-hari tasyriq, Di Jumrah Al Wustha di hari-hari tasyriq.

Kondisi semacam ini tidak diragukan lagi bagi seseorang untuk mengangkat tangan ketika itu karena adanya petunjuk dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini.

Kedua, tidak ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan. Contohnya adalah doa di dalam shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa istiftah (yang dibaca sebelum Al Fatihah), juga membaca doa di antara dua sujud (saat duduk antara dua sujud), juga berdoa ketika tasyahud akhir. Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat tangan pada semua kondisi ini. Begitu juga dalam khutbah Jumat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa namun beliau tidak mengangkat kedua tangannya (ketika khutbah) kecuali jika meminta hujan.

Barangsiapa mengangkat tangan dalam kondisi-kondisi ini dan semacamnya, maka dia telah terjatuh dalam perkara yang diada-adakan dalam agama dan melakukan semacam ini terlarang.

Ketiga, tidak ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan ataupun untuk tidak mengangkat tangan. Maka hukum asalnya adalah mengangkat tangan, karena ini termasuk adab dalam berdoa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesunguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya , lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa…”.[4]

Dengan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa dalam berdoa ada yang disunnahkan untuk mengangkat kedua tangan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ada yang tidak disyariatkan untuk mengangkat tangan. Apabila tidak ada dalil apakah dianjurkan mengangkat tangan ataukah tidak, maka hukum asalnya adalah mengangkat tangan. Karena ini termasuk adab berdoa dan dapat menjadi sebab terkabulnya doa. Tentang adab-adab berdoa bisa anda pelajari pada ulasan tentang Adab Berdoa Dalam Islam. Demikian penjelasan mengenai hukum berdoa mengangkat tangan, semoga bermanfaat.
Allahu ‘alam.


[1] Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَصَابَتِ النَّاسَ سَنَةٌ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَبَيْنَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ فِى يَوْمِ جُمُعَةٍ قَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْمَالُ وَجَاعَ الْعِيَالُ ، فَادْعُ اللَّهَ لَنَا . فَرَفَعَ يَدَيْهِ ، وَمَا نَرَى فِى السَّمَاءِ قَزَعَةً ، فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا وَضَعَهَا حَتَّى ثَارَ السَّحَابُ أَمْثَالَ الْجِبَالِ ، ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حَتَّى رَأَيْتُ الْمَطَرَ يَتَحَادَرُ عَلَى لِحْيَتِهِ – صلى الله عليه وسلم

“Pada masa Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam pernah terjadi kemarau yang panjang. Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba seorang Badui berdiri seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta telah rusak dan keluarga telah kelaparan. Berdo’alah kepada Allah untuk kami (untuk menurunkan hujan) !’. Maka beliau pun mengangkat kedua tangannya – ketika itu kami tidak melihat awan di langit – dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, beliau tidak menurunkan kedua tangannya, hingga kemudian muncullah gumpalan awan tebal laksana gunung. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak turun dari mimbar hingga aku melihat hujan menetes deras di jenggotnya –shallallahu ‘alaihi wa sallam-“. (HR. Bukhari, 933).

[2] Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ «فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو

“Aku pernah dibonceng oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah. Di sana beliau mengangkat kedua tangannya lalu berdoa”. (HR. An-Nasa’i, 3993, Ibnu Khuzaimah 2824, di shahihkan Al Albani).

[3] Berdasarkan hadits,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَمَى الجَمْرَةَ الَّتِي تَلِي مَسْجِدَ مِنًى يَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ، ثُمَّ تَقَدَّمَ أَمَامَهَا، فَوَقَفَ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، وَكَانَ يُطِيلُ الوُقُوفَ، ثُمَّ يَأْتِي الجَمْرَةَ الثَّانِيَةَ، فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ، ثُمَّ يَنْحَدِرُ ذَاتَ اليَسَارِ، مِمَّا يَلِي الوَادِيَ، فَيَقِفُ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، ثُمَّ يَأْتِي الجَمْرَةَ الَّتِي عِنْدَ العَقَبَةِ، فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ عِنْدَ كُلِّ حَصَاةٍ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ وَلاَ يَقِفُ عِنْدَهَا

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya ketika melempar jumrah yang berdekatan dengan masjid Mina, beliau melemparnya dengan tujuh batu kecil. Beliau bertakbir pada setiap lemparan lalu berdiri di depannya menghadap kiblat, berdoa sambil mengangkat kedua tanganya. Berdiri di situ lama sekali. Kemudian mendatangi jumrah yang kedua, lalu melamparnya dengan tujuh batu kecil. Beliau bertakbir setiap lemparan, lalu menepi ke sisi kiri Al Wadi. Beliau berdiri mengahadap kiblat, berdoa sambil mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau mendatangi Jumrah Aqabah, beliau melemparnya dengan tujuh batu kecil. Beliau bertakbir setiap lemparan, lalu pergi dan tidak berhenti di situ”. (HR Bukhari 1753).

[4] Dari Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِى إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu jika ada hamba-Nya yang mengangkat tangan menghadap kepada-Nya lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa”. (HR. Abu Daud 1488, At- Tirmidzi, 3556. Dan Al-Albani mengatakan shahih).

Ketika berdoa qunut dalam shalat juga dianjurkan mengangkat tangan, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata,

فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا صَلَّى الْغَدَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setiap shalat shubuh beliau mengangkat kedua tangannya dan mendoakan keburukan bagi mereka”. (HR. Ahmad 12402, dishahihkan An-Nawawi dalam Al Majmu 3/500).