Hukum Mengucapkan Amin Setelah Membaca Al-Fatihah

Hukum mengucapkan amin setelah membaca Al-Fatihah, dapat dikategorikan dalam dua keadaan, yaitu ketika sedang dalam shalat dan ketika diluar shalat. Bagaimanakah hukumnya masing-masing?

Hukum Mengucapkan Amin Ketika Dalam Shalat

Hukum membaca amin dalam shalat dapat di kategorikan sebagai berikut,

1. Ucapan Amin Bagi Imam
Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Mayoritas ulama berpendapat bahwa imam disyari’atkan untuk membaca amin sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa imam tidak disyari’atkan untuk membacanya, bahkan menurut beliau rahimahullah yang disyariatkan adalah makmum.

Pendapat yang kuat -Insya Allah- adalah pendapat mayoritas ulama dengan berdasar pada hadits-hadits berikut,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Apabila imam mengucapkan amin maka ucapkanlah amin, karena siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dari Wa’il bin Hujr Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقْرَأُ : ( غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ ) فَقَالَ : آمِيْنَ مَدَّ بِهَا صَوْتَهُ .

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca “ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladdhaalliin” lalu beliau mengucapkan amin dengan memanjangkan suaranya”. (HR. at-Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dan dishahihkan al-Albani).

2. Ucapan Amin Bagi Makmum
Dalam masalah ini setidaknya ada lima pendapat dari para ulama, antara lain,

Pertama, Pendapat mayoritas ulama yang memandang bahwa makmum disyari’atkan untuk mengucapkan amin secara mutlak baik dalam shalat siriyah maupun jahriyah.

Kedua, Menurut Imam Malik rahimahullah, makmum disyariatkan untuk mengucapkan amin dalam shalat sirriyah dan dalam shalat jahriyah apabila makmum mendengar imam membaca (وَلاَ الضَّالِّيْنَ).

Ketiga, Pendapat sekelompok Ulama yang menyatakan tidak disyariatkan membaca amin secara mutlak.

Keempat, Pendapat Imam Syafi’i rahimahullah dalam al-qaulul jadid (pendapat beliau setelah berada di mesir), bahwa makmum tidak disyariatkan mengucapkan amin apabila imam telah mengucapkannya dengan jelas.

Kelima, Imam Abu Hanifah rahimahullah berpendapat bahwa tidak disyariatkan dalam shalat sirriyah walaupun makmum mendengar imam mengucapkan amin.

Dari beberapa pendapat diatas yang rajih -Insya Allah- adalah pendapat mayoritas ulama. Diantaranya hadits-hadits yang menjadi hujjah mereka adalah,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Apabila imam mengucapkan amin maka ucapkanlah amin, karena siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَالَ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ. يُجِبْكُمُ اللَّهُ

“Apabila kalian shalat maka luruskanlah barisan kalian kemudian hendaknya salah seorang kalian menjadi imam. Apabila imam bertakbir maka kalian bertakbir dan bila imam mengucapkan “ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladdhaalliin” maka ucapkanlah amin niscaya Allah mengabulkannya”. (HR. Muslim no. 4/119).

3. Ucapan Amin Bagi Orang Yang Shalat Sendirian.
Dalam masalah ini pun para ulama berselisih dalam dua pendapat, yaitu,

Pertama, Mayoritas Ulama mensyariatkan orang yang shalat sendiri untuk mengucapkan amin.
Kedua, Pendapat Imam Malik rahimahullah dalam salah satu riwayatnya mengatakan tidak disyariatkannya dalam shalat sendirian untuk mengucapkan amin.

Pendapat yang rajih dalam hal ini -Insya Allah-adalah pendapat mayoritas ulama karena kuatnya dalil mereka, diantaranya adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ آمِينَ وَقَالَتْ الْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ آمِينَ فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian mengucapkan amin dan malaikat di langit juga mengucapkan amin lalu saling bersamaan maka diampuni dosanya yang telah lalu”. (Hadits Muttafaqun ‘alaihi).

Hadits ini bersifat umum, termasuk juga mencakup orang yang shalat sendirian.

Hukum Membaca Amin Setelah Al-Fatihah Diluar Shalat

Orang yang membaca surat Al-Fatihah disyari’atkan untuk membaca amin setelahnya. Ibnu al-Humaam menyatakan, “Pensyari’atan mengucapkan amin setelah membaca Al-Fatihah. Ketahuilah bahwa sunnah yang shahih dan mutawatir dengan tegas menunjukkan hal tersebut”. (Fathu al-Qadir 1/25).

Ini berdasar pada hadits dari Wa’il bin Hujr Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقْرَأُ : ( غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ ) فَقَالَ : آمِيْنَ مَدَّ بِهَا صَوْتَهُ .

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca “ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladdhaalliin” lalu beliau mengucapkan amin dengan memanjangkan suaranya”. (HR. at-Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Mâjah dan dishahihkan al-Albani).

Dapat dilihat dalam hadits ini disyariatkan untuk mengucapkan amin setelah membaca Al-Fatihah secara mutlak baik didalam shalat maupun diluarnya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: “Sahabat-sahabat kami (ulama madzhab Syafi’iyyah, pen) dan selain mereka menyatakan bahwa disunnahkan hal itu pada orang yang membacanya diluar shalat dan lebih ditekankan lagi pada diri orang yang shalat, baik sendirian, sebagai imam ataupun sebagai makmum dan dalam segala keadaan”. (Tafsir ibnu Katsir 1/32).

Kemudian Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ آمِينَ وَقَالَتْ الْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ آمِينَ فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian mengucapkan amin dan malaikat di langit juga mengucapkan amin lalu saling bersamaan maka diampuni dosanya yang telah lalu”. (Hadits Muttafaqun ‘alaihi).

Ucapan amin setelah surat Al-Fatihah bukanlah bagian dari ayat Al-Fatihah. Jadi hukum membaca amin tersebut adalah sunnah, bukan wajib. Namun selayaknya tetap kita lakukan karena hal ini sudah disyariatkan dan mempunyai banyak keutamaan, diantaranya dapat menjadi sebab diampuni dosanya yang telah lalu, apabila ucapan amin itu bersamaan dengan aminnya para malaikat.

Baca juga tentang: Hukum Mengucapkan Salam Pada Lawan Jenis

Demikian pendapat dari para ulama tentang hukum mengucapkan amin setelah membaca Al-Fatihah. Semoga bermanfaat.
Allahu ‘alam.