Hukum Mengucapkan Selamat Hari Natal

Sudah banyak yang membahas tentang hukum mengucapkan selamat hari Natal kepada umat Kristiani. Dan pada umumnya terdapat dua pendapat, yaitu pendapat yang melarang dan pendapat yang membolehkan memberi ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani. Untuk lebih memahami pendapat mereka masing-masing, berikut beberapa keterangan yang menjadi dalil-dalil mereka. Namun sebelumnya perlu diketahui dulu, apa maksud dan pengertian Natal tersebut.

Perayaan Natal

Natal dalam bahasa Portugis mempunyai arti “kelahiran”. Natal merupakan hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Dan dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas. (sumber: wikipedia). Jadi Natal merupakan hari raya keagamaan umat kristen dalam rangka memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.

Setelah mengetahui bahwa Natal merupakan hari raya keagamaan umat kristen, apakah seorang Muslim diperbolehkan mengucapkan selamat Natal?

Pendapat Ulama Mengenai Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Sudah disebutkan diatas bahwa , para ulama berbeda pendapat mengenai hukum ucapan selamat Natal.

1. Pendapat Ulama Yang Melarang

Diantara ulama yang melarang adalah Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan ulama kontemporer seperti Syeikh Ibn Baaz, Syeikh Ibnu Utsaimin dan Syeikh Ibrahim bin Muhammad al Huqoil berpendapat bahwa mengucapkan selamat Hari Natal hukumnya adalah haram karena perayaan ini adalah bagian dari syiar-syiar agama mereka. Allah tidak meredhoi adanya kekufuran terhadap hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya didalam pengucapan selamat kepada mereka adalah tasyabbuh (menyerupai) dengan mereka dan ini diharamkan.

Mereka juga berpendapat wajib menjauhi berbagai perayaan orang-orang kafir, menjauhi dari sikap menyerupai perbuatan-perbuatan mereka, menjauhi berbagai sarana yang digunakan untuk menghadiri perayaan tersebut, tidak menolong seorang muslim didalam menyerupai perayaan hari raya mereka, tidak mengucapkan selamat atas hari raya mereka serta menjauhi penggunaan berbagai nama dan istilah khusus didalam ibadah mereka.

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya ‘Ahkamu Ahlidz Dzimmah’ mengatakan,
“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya”.

2. Pendapat Ulama Yang Membolehkan

Mayoritas ulama kontemporer membolehkan ucapan selamat Natal diantaranya, Syeikh Yusuf al Qaradhawi, DR. Abdussattar Fathullah Sa’id, ustadz bidang tafsir dan ilmu-ilmu Al Qur’an di Universitas Al Azhar Mesir, DR. Muhammad al-Sayyid Dusuqi, ustadz Syari’ah di Universitas Qatar, dan lainnya.

Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan bahwa perbedaan situasi dan kondisi dunia telah membuat aku (Yusuf al Qaradhawi) berbeda pendapat dengan Ibnu Taimiyah atas bolehnya mengucapkan selamat pada hari raya Nasrani. Ucapan selamat dibolehkan apabila berdamai dengan umat Islam khsusnya bagi umat Kristen yang memiliki hubungan khusus dengan seorang muslim seperti hubungan kekerabatan, bertetangga, berteman di kampus atau sekolah, kolega kerja, dan lain-lain. Mengucapkan selamat termasuk kebaikan yang tidak dilarang oleh Allah bahkan termasuk perbuatan yang disenangi Allah sebagaimana sukanya pada sikap adil (Allah memyukai orang-orang yang bersikap adil). Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil”. (QS. Al-Mumtahanah: 8).

Apalagi, apabila mereka juga memberi ucapan selamat pada hari raya umat Islam. Allah berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS. An Nisa’: 86).

Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Sudah diketahui bersama bahwa, Natal adalah hari raya keagamaan umat Kristen (Nasrani) yang dirayakan untuk memperingati kelahiran Yesus. Mereka meyakini bahwa di hari itu Yesus dilahirkan, bahkan mereka yakin kalau Yesus merupakan anak Tuhan bahkan jelmaan dari Tuhan. Ini merupakan prinsip-prinsip agama Kristen, dan ini merupakan kemungkaran yang nyata. Jadi perayaan Natal merupakan bagian dari prinsip-prinsip beragama mereka. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6).

Dalam prinsip beragama, seorang muslim harus berpegang teguh terhadap firman Allah diatas. Sudah jelas bahwa perayaan Natal merupakan bentuk kemungkaran yang dilarang dalam Islam, kita dilarang membantu pelaksanaan acara Natal dalam bentuk apapun. Allah Ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (QS. Al Maidah: 2).

Terdapat banyak ayat yang memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap sesama, termasuk orang kafir, selama mereka tidak memusuhi dan memerangi kaum Muslimin. Diantaranya,

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al-Mumtahanah: 8).

“…serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”. (QS. Al-Baqarah: 83).

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…”. (QS. An-Nahl: 90).

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)”. (QS. An-Nisa’: 86).

Umat Islam tidak dilarang untuk membantu dan menolong kepada non Muslim, menjenguk ketika sakit. Bahkan kita diperbolehkan untuk mendoakan mereka agar mendapat kebaikan dunia. Memberi dan menerima hadiah dari mereka, menghadiri jamuan dan memberi jamuan kepada mereka. Asal bukan barang haram dan bukan pada waktu hari-hari besar mereka termasuk hari Natal.

Bisa dipelajari pada ulasan Mendoakan Kebaikan Untuk Orang Kafir

Islam juga mengajarkan sikap toleransi, saling menghormati dan menghargai antar sesama umat beragama, namun terdapat batasan-batasan, apalagi yang menyangkut prinsip-prinsip beragama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

“Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nasrani. Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka paksalah ke tempat yang paling sempit”. (HR. Muslim : 2167).

Kita dilarang untuk memulai mengucapkan salam kepada non Muslim, padahal kita diperintahkan untuk saling memulai mengucapkan salam terhadap sesama muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

“Jika seorang ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) memberi salam pada kalian, maka balaslah dengan ucapan wa’alaikum”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Apabila diberi salam ataupun penghormatan, umat Islam diperintahkan untuk membalasnya dengan yang lebih baik atau minimal sama dengan salam atau penghormatan tersebut. Tetapi terhadap non Muslim, kita diperbolehkan untuk membalasnya, namun hanya sebatas “wa’alaikum” saja, tidak lebih dari itu. Inilah prinsip-prinsip keagamaan yang diajarkan dalam Islam.

Sudah jelas bahwa perayaan Natal merupakan hari rayanya umat Kristiani, hari yang mereka agung-agungkan, hari dimana Yesus dilahirkan, dan mereka meyakini bahwa Yesus merupakan anak Tuhan atau jelmaan dari Tuhan. Dalam prinsip dan pandangan Islam ini merupakan perbuatan yang sangat mungkar dan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala begitu besar terhadap perbuatan tersebut.

Maka umat Islam dilarang turut berpartisipasi dalam perayaan Natal dalam bentuk apapun, termasuk mengucapkan selamat hari Natal. Dengan memberi ucapan selamat hari Natal, baik secara lisan atau dengan mengirim kartu, walaupun hatinya menolak dan membencinya, berarti dia telah memberi dukungan moral kepada mereka untuk berbuat kemungkaran, berarti dia telah memberi semangat kepada mereka untuk melakukan kemungkaran, berarti dia telah memberi restu kepada mereka untuk berbuat kemungkaran.

Jadi mengucapkan selamat Natal hukumnya haram sebagaimana pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, dan ulama-ulama yang sependapat dengan mereka. Berbuat baik dan bersikap toleran kepada mereka bukan turut memberikan ucapan selamat kepada mereka. Tetapi dengan tidak mengganggu perayaan mereka. Biarkan mereka merayakannya, kalau perlu justru menjauhinya. Umat Islam juga tidak perlu membalas ucapan selamat dari mereka. Sikap kita adalah “bagimu agamamu, bagiku agamaku”.

Janganlah menganggap remeh ucapan selamat Natal. Coba perhatikan, mereka berkeyakinan bahwa hari itu Yesus dilahirkan. Mereka berkeyakinan dan menganggap Yesus anak Tuhan, mereka juga berkeyakinan dan menyebut Yesus itu Tuhan. Bagaimana mungkin seorang Muslim mengucapkan selamat Natal, padahal menurut mereka hari itu anak Tuhan dilahirkan? Bagaimana mungkin seorang Muslim mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan? Nauzubillahi min zalik… Jadi sekali lagi haram hukumnya mengucapkan selamat Natal.

Profesor M. Quraish Shihab membolehkan mengucapkan selamat Natal asal akidahnya tidak ternodai, lebih jelasnya silahkan pelajari pada Quraish Shihab Membolekan Ucapan Selamat Natal

Bila masih kerabat, tetangga, teman kerja atau rekan bisnis yang sudah punya hubungan baik, tentu mereka juga tahu bahwa agama dan keyakinan kita berbeda. Dengan penjelasan yang baik bahwa memberi ucapan selamat hari Natal merupakan perbuatan yang dilarang dalam ajaran agama Islam, seperti halnya minum khamr, makan daging babi atau lainnya, tentu mereka akan memakluminya, karena ini menyangkut prinsip agama dan keyakinan kita. Terlebih apabila sudah saling mengenal satu sama lain, tentu sikap toleransi, saling menghormati dan menghargai sudah terjalin dengan baik.

Demikian pembahasan hukum mengucapkan selamat hari Natal. Semoga Allah memberi taufik pada kita dan selalu menunjuki kita ke jalan yang lurus.
Allahu ‘alam.