Hukum Peringatan Isra’ Mi’raj

Tidak diragukan lagi bahwa Isra’ Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran Allah yang menunjukkan kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan keagungan kedudukan Beliau di sisi-Nya, juga menunjukkan kekuasaan Allah yang Maha Agung dan ketinggian-Nya di atas semua makhluk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ” (Al-Isra’, 1)

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa perjalanan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Makkah menuju Baitul Maqdis (Al Aqsa) di Palestina yang disebut dengan Isra’. Dan dari Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) menuju langit ke Sidratul Muntaha yang disebut dengan Mi’raj. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Peristiwa Terjadinya Isra’ Mi’raj

Kapan kepastian terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj tidak disebutkan dalam hadits-hadits shahih, sehingga terdapat perbedaan diantara ulama tentang kapan hari, bulan dan tahun terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj.
Berikut beberapa pendapat ulama tentang waktu terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj,

Pertama, Isra’ dan Mi’raj terjadi di tahun pertama ketika beliau diangkat sebagai Nabi. Ini adalah pendapat At-Thabari.

Kedua, Isra’ dan Mi’raj terjadi lima tahun setelah beliau diutus sebagai Nabi. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam An-Nawawi dan Al-Qurthubi.

Ketiga, Isra’ Mi’raj terjadi di malam 27 Rajab, tahun 10 setelah kenabian (sepuluh tahun setelah beliau diutus menjadi Nabi). Ini pendapat Al-Manshurfuri.

Keempat, peristiwa Isra’ terjadi 16 bulan sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan Ramadhan tahun 12 setelah kenabian.

Kelima, peristiwa ini terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, atau tepatnya di bulan Muharram tahun 13 setelah kenabian.

Keenam, Isra’ Mi’raj terjadi satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan Rabi’ul Awal tahun 13 setelah kenabian.

Umumnya ulama sepakat bahwa Isra’ itu terjadi satu kali di Makkah yakni setelah Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul dan sebelum hijrah ke Madinah.

Hukum Peringatan Isra’ Mi’raj

Mengenai hukum peringatan Isra’ Mi’raj tidak terdapat dalil dari Alquran maupun hadits yang menyatakan bahwa, Isra’ Mi’raj sebagai salah satu hari besar yang patut diperingati. Juga tidak ada riwayat dari Rasulullah bahwa, Beliau pernah memperingati atau merayakan Isra’ Mi’raj. Berangkat dari fakta ini maka terdapat perbedaan pandangan diantara ulama tentang dibolehkannya atau tidak, memperingati Isra’ Mi’raj.

Berikut pendapat ulama tentang hukum peringatan Isra’ Mi’raj,

PERTAMA, Pendapat Yang Membolehkan

Pada zaman Rasulullah Sallahu ‘Alaihi Wasallam memang tidak pernah mengadakan peringatan Isra’ Mi’raj. Pada zaman sahabat pun juga tidak pernah merayakannya. Karena itu, semua ulama sepakat bahwa di masa itu belum pernah ada kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj. Secara khusus memang Rasulullah tidak pernah menyuruh hal-hal demikian. Karena tidak pernah menyuruh, maka secara khusus pula, hal ini tidak bisa dikatakan masyru’ (disyariatkan), tetapi juga tidak bisa dikatakan berlawanan dengan teologi agama.

Peringatan Isra’ Mi’raj bukanlah termasuk masalah ibadah, tetapi lebih tepatnya sebagai masalah muamalah atau masalah non ibadah. Yang menurut kaidah fiqih hukum asalnya adalah halal dan boleh, sampai ada dalil yang menunjukkan atas keharamannya.

Kalau ada yang menganggap bahwa peringatan Isra’ Mi’raj adalah masalah ibadah tidaklah tepat. Karena masalah ibadah dalam Islam itu sudah jelas seperti shalat, haji, umrah dan puasa. Peringatan Isra’ Mi’raj tidak beda dengan acara pertemuan umum biasa yang diisi dengan ceramah atau taushiah. Jadi, dimana letak ibadahnya? Peringatan Isra’ Mi’raj dan Maulid Nabi adalah sebuah tradisi masyarakat, sebagai wujud rasa syukur terhadap Al-Kholiq dan rasa mahabbah terhadap Rasul dan kekasih-Nya.

Rasulullah bersabda,
‘Barang siapa yang melahirkan aktifitas yang baik, maka baginya adalah pahala dan (juga mendapatkan) pahala orang yang turut melakukannya’ (HR Muslim dan lainnya).

Makna ‘aktifitas yang baik’ –secara sederhananya–adalah aktifitas yang dapat menjadikan kita bertambah iman kepada Allah dan Nabi-Nya, termasuk Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan lain-lainnya.

Kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj tidak lantas bisa dianggap sebagai bid’ah yang sesat, meski pada zaman Rasulullah tidak pernah dilakukan. Sebab yang termasuk bid’ah yang sesat apabila seseorang menambah ritual peribadatan, seperti, shalat yang ditambahi rukun atau rakaatnya. Sedangkan kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj tidak ada kaitannya dengan ritual ibadah.

Ibnu Atsir dalam kitabnya “Annihayah fi Gharibil Hadist wal-Atsar” pada bab Bid’ah dan pada pembahasan hadist Umar Radhiyallahu ‘anhu tentang Qiyamullail (sholat malam) Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, mengatakan bahwa, bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah baik dan bid’ah sesat. Bid’ah yang bertentangan dengan perintah qur’an dan hadist disebut bid’ah sesat, sedangkan bid’ah yang sesuai dengan ketentuan umum ajaran agama dan mewujudkan tujuan dari syariah itu sendiri disebut bid’ah hasanah.

Izzuddin bin Abdussalam bahkan membuat kategori bid’ah sebagai berikut,
1) wajib seperti meletakkan dasar-dasar ilmu agama dan bahasa Arab yang belum ada pada zaman Rasulullah. Ini untuk menjaga dan melestarikan ajaran agama.Seperto kodifikasi al-Qur’an misalnya.
2) Bid’ah yang sunnah seperti mendirikan madrasah di masjid, atau halaqah-halaqah kajian keagamaan dan membaca al-Qur’an di dalam masjid.
3) Bid’ah yang haram seperti melagukan al-Qur’an hingga merubah arti aslinya,
4) Bid’ah Makruh seperti menghias masjid dengan gambar-gambar
5) Bid’ah yang halal, seperti bid’ah dalam tata cara pembagian daging Qurban dan lain sebagainya.

KEDUA, Pendapat Yang Melarang

Sudah diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isra’ Mi’raj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
”Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isra’ Mi’raj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Abu Syamah mengatakan, ”Sebagian orang menceritakan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perawi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Allah mempunyai hikmah tertentu dengan menjadikan manusia lupa akan kepastian tanggal kejadiannya. Kendatipun kepastiannya diketahui, kaum muslimin tidak boleh mengkhususkannya dengan suatu ibadah dan tidak boleh merayakannya, karena Nabi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah merayakannya dan tidak pernah mengkhususkannya. Jika perayaannya disyari’atkan, tentu Rasulullah telah menerangkannya kepada umat ini, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, Dan jika itu disyari’atkan, tentu sudah diketahui dan dikenal serta dinukilkan dari para sahabat beliau kepada kita, karena mereka senantiasa menyampaikan segala sesuatu dari Nabi mereka yang dibutuhkan umat ini, bahkan merekalah orang-orang yang lebih dulu melaksanakan setiap kebaikan jika perayaan malam tersebut disyari’atkan, tentulah merekalah manusia pertama yang melakukannya.

Nabi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia yang paling loyal terhadap sesama manusia, Beliau telah menyampaikan risalah dengan sangat jelas dan telah menunaikan amanat dengan sempurna. Seandainya memuliakan malam Isra’ Mi’raj dan merayakannya termasuk agama Allah, tentulah Nabi tidak melengahkannya tidak menyembunyikan. Namun karena kenyataannya tidak demikian, maka diketahui bahwa merayakannya dan memuliakannya sama sekali bukan termasuk ajaran Islam, dan tanpa itu Allah telah menyatakan bahwa dia telah menyempurnakan untuk umat ini agamanya dan telah menyempurnakan nikmatnya serta mengingkari orang yang mensyariatkan sesuatu dalam agama ini yang tidak diizinkannya.

Allah telah berfirman.

“Pada Hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmat Ku (Al-Ma’idah, 3)

Telah diriwayatkan pula dari Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits-hadits shahih peringatan terhadap bid’ah dan menjelaskan bahwa bid’ah-bid’ah itu sesat. Hal ini sebagai peringatan bagi umatnya tentang bahayanya yang besar dan agar mereka menjauhkan diri dari melakukannya, diantaranya adalah yang disebutkan dalam Ash-Shahihain dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha dari Nabi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa Beliau bersabda,

“Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.”

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

“Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.” (HR. Muslim dalam Al-Aqdhiyah, 18-1718).

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan, dari Jabir, ia mengatakan, bahwa dalam salah satu khutbah Jum’at Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan.

Amma ba ‘du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.” (HR. Muslim dalam Al-Jumu’ah, 867).

An-Nasa’i menambahkan pada riwayat ini dengan ungkapan,

“Dan setiap yang sesat itu (tempatnya) di neraka.” (HR. An-Nasa’I dalam Al-Idain, 1578).

Dalam As-Sunan disebutkan, dari Irbadh bin Sariyah , ia berkata, “Rasulullah mengimami kami shalat Shubuh, kemudian Beliau berbalik menghadap kami, lalu Beliau menasehati kami dengan nasehat yang sangat mendalam sehingga membuat air mata menetes dan hati bergetar. Kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, tampaknya ini seperti nasehat perpisahan, maka berwasiatlah kepada kami. Beliau pun bersabda,

“Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, ta’at dan patuh, walaupun yang memimpin adalah seorang budak hitam. Sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup setelah aku tiada, akan melihat banyak perselisihan, maka hendaklah kalian memegang teguh sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah itu dengan geraham, dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perakara yang baru, karena setiap perkara baru itu adalah bid ‘ah dan setiap bid’ah itu sesat’.” (HR. Abu Dawud dalam As-Sunnah 4607, Ibnu Majjah dalam Al-Muqaddimah, 42).

Telah disebutkan pula riwayat dari para sahabat beliau dan para salaf shalih setelah mereka, tentang peringatan terhadap bid’ah. Semua ini karena bid’ah itu merupakan penambahan dalam agama dan syari’at yang tidak diizinkan Allah serta merupakan tasyabbuh dengan musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi dan Nashrani dalam penambahan ritual mereka dan bid’ah mereka yang tidak diizinkan Allah, dan karena melaksanakannya merupakan pengurangan terhadap agama Islam serta tuduhan akan ketidaksempurnaannya. Tentunya dalam hal ini terkandung kerusakan yang besar, kemungkaran yang keji dan bantahan terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” (Al-Ma’idah, 3). Serta penentangan yang nyata terhadap hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang memperingatkan perbuatan bid’ah dan peringatan untuk menjauhinya.

Demikian penjelasan hukum peringatan Isra’ Mi’raj dari pendapat para ulama, baik yang memperbolehkan dan yang melarang untuk merayakan peringatan Isra’ Mi’raj. Mengenai amalan puasa Rajab, Anda bisa membaca ulasan tentang Hukum Puasa Rajab.
Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan menuntun kita kejalan yang benar. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Allahu ‘alam.