Hukum Shalat Ghaib dan Pengertiannya

Sebelum membahas hukum shalat ghaib, terlebih dulu perlu dipahami pengertian dari shalat ghaib. Kata ‘ghaib’ artinya tidak ada. Jadi, shalat ghaib adalah shalat jenazah yang dilakukan oleh kaum muslimin, sementara jenazahnya tidak ada didepan mereka atau berada ditempat lain atau berada ditempat yang jauh.

Ketika An-Najasyi raja Habasyah (Ethiopia) meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabat untuk melakukan shalat ghaib di Madinah. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat shalat lalu beliau membariskan shaf kemudian bertakbir empat kali.” (HR. Al-Bukhari no. 1337)

Mengenai hukum shalat ghaib, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama, apakah disyariatkan atau tidak, berikut penjelasannya.

Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat tidak disyariatkannya shalat ghaib secara mutlak. Adapun shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada An-Najasyi, itu kekhususan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak boleh diikuti oleh umat. Mereka berdalil dengan sebuah lafazh dalam riwayat lain hadis ini, “Bahwasanya bumi ini telah diratakan sehingga beliau dapat melihat tempat An-Najasyi berada.” Sehingga keadaan beliau ibarat sedang berdiri di depan jenazah. Ditambah lagi, beliau tidak pernah dinukil melakukan shalat ghaib kepada seorang pun selain kepada An-Najasyi, maka ini menunjukkan itu adalah amalan yang khusus.

Sementara ulama yang lain berpendapat bahwa hukum shalat ghaib tetap disyariatkan. Walaupun terdapat perbedaan pendapat diantara mereka, apakah disyariatkan secara mutlak atau dengan batasan tertentu.

Pertama, Imam Asy-Syafi’i dan Ahmad berpendapat disyariatkan shalat ghaib secara mutlak untuk semua jenazah yang meninggal di tempat jauh. Meskipun jenazah tersebut sudah dishalati.  Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah di atas, dan menyatakan hadis itu berlaku mutlak dan umum.

Kedua, dalam riwayat yang lain, Imam Ahmad juga berpendapat, shalat ghaib hanya disyariatkan untuk jenazah yang mempunyai sifat seperti An-Najasyi. Sifat yang dimaksud adalah seorang yang shalih, mempunyai kedudukan, dan memiliki jasa kepada Islam.

Ketiga, Shalat ghaib hanya disyariatkan untuk semua jenazah kaum muslimin yang tidak dishalati seperti An-Najasyi. Misalnya, meninggal di negeri kafir sehingga tidak ada yang menyalati atau meninggal di tempat terpencil yang tidak ada seorang pun yang menyalatinya.

Dan pendapat terakhir ini yang dikuatkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau mengatakan,

أنّ الغائب إِن مات ببلدٍ لم يُصَلَّ عليه فيه، صُلّي عليه صلاةَ الغائب، كما صلّى النّبيّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – على النجاشي؛ لأنه مات بين الكُفار ولم يصلَّ عليه. وإنْ صُلّي عليه -حيث مات- لم يصلَّ عليه صلاة الغائب؛ لأنّ الفرض سقط بصلاة المسلمين عليه، والنّبيّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صلّى على الغائب وتَرَكَهُ، وفِعْلُهُ وتَرْكُه سُنّة، … والله أعلم.

“Orang yang menghilang, ketika dia mati di sebuah daerah dan dia tidak dishalati, maka jenazah ini dishalati dengan shalat ghaib. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ghaib untuk Raja Najasyi. Karena beliau meninggal di antara orang kafir dan beliau belum dishalati. Sedangkan jenazah yang sudah dishalati ketika meninggal, maka tidak perlu dishalati ghaib. Karena kewajiban shalat jenazah menjadi gugur, ketika sudah ada kaum muslimin yang menshalatinya. Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat ghaib (untuk jenazah tertentu) dan beliau tidak melakukan shalat ghaib untuk jenazah yang lain. Dan semua di dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang sengaja ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. .. Allahu a’lam

Dan sebagian ulama juga menganjurkan untuk dilaksanakannya shalat ghaib bagi orang yang banyak memberikan manfaat dalam agama, baik dengan harta, amalan, atau ilmunya. Namun bagi orang yang tidak seperti ini tidak perlu dilaksanakan shalat ghaib. Demikian pembahasan tentang pengertian dan hukum shalat ghaib.

Allahu’alam.