Jumlah Raka’at Shalat Tarawih Yang Benar

Terdapat perbedaan jumlah raka’at shalat tarawih yang dilaksanakan oleh kaum muslimin. Ada yang melaksanakan 11 raka’at, 13 raka’at dan ada yang 23 raka’at beserta witir. Sejatinya, berapa jumlah raka’at shalat tarawih yang benar? Berikut penjelasannya.

Shalat Tarawih Pada Zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Dari Abu Salamah bin Abdirrahman mengabarkan bahwa, dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. Aisyah mengatakan,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at”. (HR. Bukhari : 1147 dan Muslim : 738).

Dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ، فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنْهُ، حَتَّى بَقِيَ سَبْعُ لَيَالٍ، فَقَامَ بِنَا لَيْلَةَ السَّابِعَةِ حَتَّى مَضَى نَحْوٌ مِنْ ثُلُثِ اللَّيْلِ، ثُمَّ كَانَتِ اللَّيْلَةُ السَّادِسَةُ الَّتِي تَلِيهَا، فَلَمْ يَقُمْهَا، حَتَّى كَانَتِ الْخَامِسَةُ الَّتِي تَلِيهَا، ثُمَّ قَامَ بِنَا حَتَّى مَضَى نَحْوٌ مِنْ شَطْرِ اللَّيْلِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ. فَقَالَ: «إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، فَإِنَّهُ يَعْدِلُ قِيَامَ لَيْلَةٍ» ثُمَّ كَانَتِ الرَّابِعَةُ الَّتِي تَلِيهَا، فَلَمْ يَقُمْهَا، حَتَّى كَانَتِ الثَّالِثَةُ الَّتِي تَلِيهَا، قَالَ: فَجَمَعَ نِسَاءَهُ وَأَهْلَهُ وَاجْتَمَعَ النَّاسُ، قَالَ: فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ، قَالَ: ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنْ بَقِيَّةِ الشَّهْرِ

“Kami berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan. Beliau tidak pernah mengimami shalat malam sama sekali, hingga ramadhan tinggal 7 hari lagi Beliau mengimami kami shalat malam, hingga berlalu sepertiga malam. Kemudian pada malam ke enam, Beliau tidak mengimami kami. Hingga pada malam ke lima, Beliau mengimami kami shalat malam hingga berlalu setengah malam. Kamipun meminta beliau, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’ Kemudian Beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang shalat (tarawih) berjamaah bersama imam hingga selesai, maka dia mendapat pahala shalat tahajud semalam suntuk’. Kemudian Beliau tidak mengimami shalat lagi, hingga Ramadhan tinggal 3 hari, Beliau kumpulkan semua istrinya dan para sahabat. Kemudian Beliau mengimami kami hingga akhir malam, sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah. saya (perawi) bertanya, apa itu falah? Dia (Abu Dzar) berkata, “Sahur”. (HR. Nasai 1605, Ibn Majah 1327 dan dishahihkan Al-Albani).

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap Beliau akan keluar. Kami terus menantikan Beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui Beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu”. (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah, Al Albani mengatakan hadits ini hasan).

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah dha’if. Hadits Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini. Padahal Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya. Wallahu a’lam”. (Fathul Bari, 6/295).

Shalat Tarawih Pada Zaman Khulafa’ur Rasyidin

Para sahabat Nabi, shalat tarawih di masjid Nabawi pada malam-malam Ramadhan secara awza’an (berpencar-pencar). Orang yang pandai membaca Al Qur’an ada yang mengimami 5 orang, ada yang 6 orang, ada yang lebih sedikit dari itu, dan ada yang lebih banyak. Az-Zuhri mengatakan, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, orang-orang shalat tarawih dengan cara seperti itu. Kemudian pada masa Abu Bakar, caranya tetap seperti itu, begitu pula awal khalifah Umar”.

Abdurrahman bin Abdul Qari’ mengatakan, “Saya keluar ke masjid bersama Umar radhiyallahu ‘anhu pada bulan Ramadhan. Ketika itu orang-orang berpencaran, ada yang shalat sendirian, dan ada yang shalat dengan jama’ah yang kecil (kurang dari sepuluh orang). Umar berkata, ‘Demi Allah, saya melihat (berpandangan), seandainya mereka saya satukan di belakang satu imam, tentu lebih utama’, Kemudian beliau bertekad dan mengumpulkan mereka di bawah pimpinan Ubay bin Ka’ab. Kemudian saya keluar lagi bersama beliau pada malam lain. Ketika itu orang-orang sedang shalat di belakang imam mereka. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Ini adalah sebaik-baik hal baru’. Dan shalat akhir malam nanti lebih utama dari shalat yang mereka kerjakan sekarang”. (Peristiwa ini terjadi pada tahun 14H).

Saib bin Yazid rahimahullah (Wafat 91 H) berkata, “Umar radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dari radhiyallahu ‘anhuma agar memimpin shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan 11 raka’at. Maka sang qari’ membaca dengan ratusan ayat, hingga kita bersandar pada tongkat karena sangat lamanya berdiri. Maka kami tidak pulang dari tarawih, melainkan sudah di ujung fajar”. (Fathul Bari, 4/250-254).

Yazid Ibn Ruman adalah mawla (mantan budak) sahabat Zubair Ibn Al Awam (36 H), ia salah seorang qurra’ Madinah yang tsiqat tsabit (meninggal pada tahun 120 atau130 H). Ia memberi pernyataan, bahwa masyarakat (Madinah) pada zaman Umar telah melakukan qiyam Ramadhan dengan bilangan 23 raka’at. (HR. Malik, Al Firyabi, Ibn Nashr dan Al Baihaqi).

Imam Atho’ Ibn Abi Rabah mawla Quraisy, (mantan budak yang dimerdekakan oleh Quraisy) lahir pada masa Khilafah Utsman radhiyallahu ‘anhu (antara tahun 24 H sampai 35 H), yang menjadi mufti Mekkah setelah Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu hingga tahun wafatnya 114 H) mengatakan, “Saya telah mendapati orang-orang (masyarakat Mekkah) pada malam Ramadhan shalat 20 raka’at dan 3 raka’at witir”. (Fathul Bari, 4/235).

Imam Nafi’ Al Qurasyi, mawla (mantan budak) Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu, mufti Madinah, yang dikirim oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz ke Mesir sebagai da’i dan meninggal di Madinah pada tahun 117 H) mengatakan, “Saya mendapati orang-orang (masyarakat Madinah), mereka shalat pada bulan Ramadhan 36 raka’at dan witir 3 raka’at”. (Al Hawadits, 141 dan Al Hawi, 1/415).

Imam Malik Ibn Anas (wafat 179 H) yang menjadi murid Imam Nafi berkata, “Apa yang diceritakan oleh Nafi’, itulah yang tetap dilakukan oleh penduduk Madinah. Yaitu apa yang dulu ada pada zaman Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu”. (Al Hawadits, 141).

Imam Syafi’i, (hidup antara tahun 150 hingga 204 H) murid dari Imam Malik mengatakan, “Saya menjumpai orang-orang di Mekkah. Mereka shalat (tarawih) 23 raka’at. Dan saya melihat penduduk Madinah, mereka shalat 39 raka’at, dan tidak ada masalah sedikitpun tentang hal itu”. (Sunan Tirmidzi, 151 dan Fathul Bari, 4/23).

Jumlah Raka’at Shalat Tarawih Yang Benar Menurut Ulama

Mayoritas ulama berpendapat bahwa, boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ulama yang berpendapat demikian berdasar pada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489).

Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak”. (At Tamhid, 21/70).

Imam As-Syafi’i, setelah meriwayatkan shalat di Mekkah 23 raka’at dan di Madinah 39 raka’at mengatakan, “Seandainya mereka memanjangkan bacaan dan menyedikitkan bilangan sujudnya, maka itu bagus. Dan seandainya mereka memperbanyak sujud dan meringankan bacaan, maka itu juga bagus; tetapi yang pertama lebih aku sukai”. (Fathul Bari, 4/253).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang”. (Majmu’ Al Fatawa, 22/272).

Ibn Hibban mengatakan, “Sesungguhnya tarawih itu pada mulanya adalah 11 raka’at dengan bacaan yang sangat panjang hingga memberatkan mereka. Kemudian mereka meringankan bacaan dan menambah bilangan raka’at, menjadi 23 raka’at dengan bacaan sedang. Setelah itu mereka meringankan bacaan dan menjadikan tarawih dalam 36 raka’at tanpa witir”. (Fiqhus Sunnah, 1/174).

Dengan demikian, terdapat berbagai pendapat tentang jumlah rakaat shalat tarawih diantara para ulama. Dan sebagian pendapat tersebut antara lain,

Pertama, Shalat tarawih dibatasi hanya sebelas raka’at. Dengan alasan, inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini pendapat Syaikh Al Albani dalam Shalatut Tarawaih.

Kedua, Shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir). Inilah pendapat mayoritas ulama antara lain, Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari Umar, Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) para sahabat.

Al Kasaani mengatakan, “Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat”.

Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in”.

Ali As Sanhuriy mengatakan, “Jumlah 20 raka’at inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan hingga sekarang ini di berbagai negeri”.

Al Hanabilah mengatakan, “Shalat tarawih 20 raka’at inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga hal ini menjadi ijma’ atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak”. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9636).

Ketiga, shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan riwayat shahih. (Shahih Fiqh Sunnah, 1/419).

Keempat, Shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan oleh Abdullah. (Kasyaful Qona’an Matnil Iqna’, 3/267).

Dengan berbagai perbedaan pendapat tersebut Ibnu Taimiyah mengatakan, “Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru”. (Majmu’ Al Fatawa, 22/272).

Dengan demikian, tidak terdapat masalah untuk mengerjakan shalat 11 atau 23 raka’at. Namun yang terbaik adalah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dengan raka’at yang panjang dengan berdiri lama. Dan boleh juga melakukan shalat tarawih dengan 23 raka’at dengan berdiri yang lebih ringan sebagaimana banyak dipilih oleh mayoritas ulama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ

“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya”. (HR. Muslim : 756).

Sungguh tidak tepat, jika ada sebagian kaum muslimin yang mempunyai kebiasaan melaksanakan shalat tarawih 8 atau 10 raka’at, dan dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 raka’at kemudian dia keluar dari jama’ah sebelum imam selesai, maka dia telah meninggalkan pahala yang sangat besar. Karena jama’ah yang mengerjakan shalat bersama imam hingga imam selesai (baik imam melaksanakan 11 atau 23 raka’at) akan memperoleh pahala shalat seperti shalat semalam penuh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh”. (HR. Nasai : 1605, Turmudzi : 806, dishahihkan al-Albani).

Demikian juga jika melaksanakan shalat tarawih 23 raka’at, tidak sepatutnya bila dilakukan dengan kebut-kebutan. Shalat 23 raka’at yang dilakukan lebih cepat selesai dari shalat 11 raka’at, ini sungguh tidak tepat. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah, bukan dengan kebut-kebutan untuk mengejar target 23 raka’at dan cepat selesai.

Dari Abu Hurairah, beliau berkata,

عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’ dan sujud. (Syarh Bulughul Marom, Syaikh Athiyah Muhammad Salim, 49/3, Asy Syamilah).

Semoga pembahasan mengenai jumlah raka’at shalat tarawih yang benar dapat bermanfaat. Anda juga bisa membaca Hukum Membatalkan Puasa Dengan Sengaja.
Allahu ‘alam.