Membaca Surat Yasin Tiga Kali Pada Malam Nisfu Sya’ban

Didalam bulan Sya’ban terdapat sebuah malam yang disebut dengan malam Nisfu Sya’ban. Di malam tersebut sebagian umat muslim melakukan sebuah amalan setelah shalat magrib yaitu membaca surat Yasin tiga kali pada malam Nisfu Sya’ban. Apakah amalan tersebut sesuai syariat? Berikut penjelasannya.

Hukum Membaca Surat Yasin Tiga Kali Pada Malam Nisfu Sya’ban

Terdapat perbedaan pandangan diantara para ulama tentang amalan membaca surat Yasin tiga kali pada malam Nisfu Sya’ban, ada yang menganggap bid’ah (haram) dan ulama lain membolehkannya.

Pertama, Pendapat yang Membolehkan

Membaca surat yasin dengan niat meminta kebaikan dunia dan akhirat atau membaca Al Qur’an seluruhnya sampai khatam semua itu tidak diharamkan juga tidak dilarang. Amalan seperti ini tidaklah di larang sama sekali selamanya. Mulai dari membaca Al Qur’an, wirid-wirid zikir, doa-doa untuk tujuan bersifat duniawiah atau permintaan setiap orang, hajat-hajat, dan cita-cita setelah mengikhlaskan niat kepada Allah pada semua itu.

Maka adapun syaratnya adalah Ikhlasnya niat melakukan karena Allah Ta’ala. Dan niat ini memang dituntut di segala ibadah dan perbuatan mulai dari shalat, zakat, haji, berjihad, berdoa, dan membaca al quran. Maka sahnya amal harus dibarengi niat ikhlas kepada Allah. Dan ini memang dituntut tidak dikhilafkan didalamnya. Bahkan jika suatu amalan tidak dibarengi ikhlas karena Allah maka ia tertolak sebagaimana firman Allah :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّين … الآية

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. (QS. Al bayyinah : 5)

Akan tetapi tidak ada yang melarang seseorang menambahkan pada amalnya beserta niat ikhlas kepada Allah juga permintaan-permintaan atau hajat-hajatnya yang bersifat agama dan duniawiah, materi ataupun tidak materi, yang tampak ataupun yang bathin. Dan siapa saja yg membaca surah Yasin atau lainnya dari surah-surah Al Qur’an lillah ta’aala mengharap keberkahan di dalam umurnya, keberkahan didalam hartanya, keberkahan didalam sehatnya, maka sesungguhnya semua itu tidak berdosa baginya melakukannya.

Karena ia menempuh jalan kebaikan dengan syarat tidak meyakini amalan tersebut secara khusus disyariatkan. Maka ia membaca surah Yasin 3 kali, 30 kali atau 300 kali, bahkan ia membaca Al-Quran sampai khatampun ikhlas karena Allah Ta’ala. Serta mengharap hajatnya dikabulkan, keinginannya ditunaikan, kesusahannya dihilangkan, penyakitnya disembuhkan dan hutang-hutangnya dilunaskan.

Maka apa semua itu pantas dianggap berdosa sedangkan Allah menyukai hamba yang meminta-minta kepadanya segala sesuatu? Maka ia hadapkan kepada Allah dengan bacaan surah yasin atau sholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah itu melainkan hanya sebagai perantara dalam bertawassul dengan Amal amal saleh. Dan tiada seorangpun dari umat islam yang mengkhilafkan tawassul dengan amal saleh. Maka siapa saja yang ia berpuasa, sembahyang atau membaca Al Qur’an dan bershodaqoh maka sesungguhnya ia bertawasshul dengan shalatnya, puasanya, bacaannya dan sedekahnya. Bahkan ia lebih diharapkan dikabulkan.

Sebagaimana dalam hadits Sahih, hadits yang menceritakan tiga orang yang terjebak didalam gua. Lalu satu orang bertawashul dengan perbuatan baiknya dengan orang tua, yang kedua bertwashul dengan menjauhi perbuatan buruk, dan yang ketiga bertwashul dengan amanahnya dengan menjaga harta orang lain dan menunaikannya dengan sempurna. Kemudian Allah mengabulkan doa mereka sehingga mereka terbebaskan dari gua tersebut. Inilah satu macam dari Tawassul yang mana oleh ibnu Taimiyah dijelaskan secara rinci dalam kitabnya ” Qaa’idah jaliilah fit tawassul wal wasiilah “.

Dengan ini jelas sudah amalan nisfu sya’ban termasuk amalan yang dibolehkan bahkan dianjurkan dalam agama, bertawassul dengan amal-amal saleh.

Membaca surat Yasin tiga kali pada malam Nisfu Sya’ban setelah salat Magrib dengan suara keras dan bersama-sama, termasuk dalam perintah menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Terdapat kelapangan dalam tata cara berzikir. Mengkhususkan tempat atau waktu tertentu untuk melakukan amalan ibadah secara terus menerus adalah dibolehkan selama pelakunya tidak meyakini bahwa amalan tersebut adalah wajib dan tidak boleh ditinggalkan.

Dalam hadits riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi masjid Quba pada setiap hari Sabtu sambil berjalan kaki atau menunggangi hewan tunggangan”. (Hadits Muttafaq ‘alaih).

Ibnu Hajar mengatakan, “Hadits ini, dengan berbagai jalur periwayatannya, menunjukkan kebolehan mengkhususkan hari-hari tertentu untuk melaksanakan amalan saleh secara terus menerus”.

Pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban beserta macam-macam niatnya merupakan hasil ijtihad para ulama.

Dasar Hukum membaca surat Yasin tiga kali sebagai berikut,

أسنى المطالب فى أحاديث مختلفة المراتب ص
وَأَمَّا قِرَاءَةُ سُوْرَةِ يس لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُعَاءِ الْمَشْهُوْرِ فَمِنْ تَرْتِيْبِ بَعْضِ أهْلِ الصَّلاَحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ قِيْلَ هُوَ الْبُوْنِى وَلَا بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ

“Adapun pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban setelah Maghrib merupakan hasil ijtihad sebagian ulama, konon ia adalah Syeikh Al Buni, dan hal itu bukanlah suatu hal yang buruk”. (Asná al-Mathálib, 234).

فتح الملك المجيد للشيخ أحمد الديربى ص(وَمِنْ خَوَاصِ سُوْرَةِ يس) كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ أنْ تَقْرَأَهَا لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ الأُوْلَى بِنِيَّةِ طُوْلِ اْلعُمْرِ وَالثَّانِيَةُ بِنيَّةِ دَفْعِ الْبَلاَءِ وَالثَّالِثَةُ بِنِيَّةِ اْلإسْتِغْنَاءِ عَنِ النَّاسِ.

“Diantara keistimewaan surat Yasin, sebagaimana menurut sebagian para Ulama, adalah dibaca pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak 3 kali. Yang pertama dengan niat meminta panjang umur, kedua niat terhindar dari bencana dan ketiga niat agar tidak bergantung kepada orang lain”. (Fatchu al-Malik al-Majíd, 19).

تلخيص فتاوى ابن زياد ص (مَسْئَلَةٌ) حَدِيْثُ يس لِمَا قُرِئَتْ لَهُ لاَ أَصْلَ لَهُ وَلَمْ أَرَ مَنْ عَبَّرَ بِأَنَّهُ مَوْضُوْعٌ فَيَحْتَمِلُ أنَهُ لاَ أصْلَ لَهُ فِى الصِّحَّةِ وَالَّذِىْ أعْتَقِدُهُ جَوَازُ رِوَايَتِهِ بِصِيْغَةِ التَّمْرِيْضِ نَحْوُ بَلَغَنَا كَمَا يَفْعَلُهُ أصْحَابُ الشَّيْخِ اِسْمَعيِلَ اْلَجْبَرِتى اهـ.

“Hadits yang berbunyi “Surat Yasin dapat dibaca sesuai dengan niat tujuannya” merupakan hadits yang tidak ada dasarnya, tetapi saya tidak menemui ulama yang mengatakannya sebagai hadits palsu. Bisa jadi yang dimaksud adalah hadits tersebut tidak shahih. Saya meyakini bahwa boleh meriwayatkan hadits tersebut dengan redaksi riwayat yang tidak tegas, seperti telah sampai pada kami sebagaimana yang dilakukan oleh murid-murid Syeikh Ismail Al Jabraty dari Yaman”. (Talkhísh Fatáwá Ibnu Ziyád, 301).

Kedua, Pendapat yang Melarang

Dalam melakukan sebuah amalan tentu harus memakai aturan dan tuntunan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam merupakan panutan dan tuntunan kita dalam menjalankan ibadah. Kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar, Ustman dan ‘Ali mengamalkan surat Yasin, pasti kita tahu haditsnya.

Orang yang mau menggunakan akalnya pasti bisa memikirkan bahwa ia tak boleh melangkahi nabinya dalam beramal. Dalam Al Qur’an Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Hujurat: 1)

Ini masalah agama, bukan soal dunia, untuk perihal dunia, silakan berinovasi. Namun untuk masalah ibadah, jadikanlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan.

Perlu kita ketahui terdapat dua macam bid’ah yaitu bid’ah Haqiqiyyah dan Idhafiyyah.
1. Bid’ah Haqiqiyyah adalah setiap bid’ah yang tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ kaum muslimin, dan bukan pula dari penggalian hukum yang benar menurut para ulama baik secara global maupun terperinci. (Al I’tishom, 1/219)

Di antara contoh bid’ah Haqiqiyyah adalah puasa mutih (dilakukan untuk mencari ilmu sakti), mendekatkan diri pada Allah dengan kerahiban (hidup membujang seperti para biarawati), dan mengharamkan yang Allah halalkan dalam rangka beribadah kepada Allah. Ini semua tidak ada contohnya dalam syari’at.
2. Bid’ah Idhafiyyah
Adapun bid’ah Idhafiyyah adalah bid’ah yang mempunyai dua sisi. Pertama, terdapat hubungannya dengan dalil. Maka dari sisi ini dia bukan bid’ah. Kedua, tidak ada hubungannya samasekali dengan dalil melainkan seperti apa yang terdapat dalam bid’ah Haqiqiyyah. Artinya ditinjau dari satu sisi ia adalah Sunnah karena bersandar kepada As-Sunnah, namun ditinjau dari sisi lain ia ada-lah bid’ah karena hanya berlandaskan syubhat bukan dalil.(Al I’tishom, 1/219)

Adapun perbedaan antara keduanya dari sisi makna adalah bahwa dari sisi asalnya terdapat dalil padanya. Tetapi jika dilihat dari sisi cara, sifat, kondisi pelaksanaannya atau perinciannya, tidak ada dalil sama sekali, padahal kala itu ia membutuhkan dalil. Bid’ah semacam itu kebanyakan terjadi dalam ibadah dan bukan kebiasaan semata.

Jadi bid’ah Idhafiyyah dilihat dari satu sisi adalah perkara yang disyari’atkan. Namun ditinjau dari sisi lain yaitu dilihat dari enam aspek adalah bid’ah. Enam aspek tersebut adalah waktu, tempat, tatacara (kaifiyah), sebab, jumlah, dan jenis.

Contohnya bid’ah Idhafiyyah adalah acara yasinan dan tahlilan. Bacaan tahlil adalah bacaan yang disyari’atkan. Bahkan barangsiapa mengucapkan bacaan tahlil dengan memenuhi konsekuensinya maka dia akan masuk surga. Namun, yang dipermasalahkan adalah pengkhususan waktu, tatacara dan jenisnya. Perlu kita tanyakan manakah dalil yang mengkhususkan pembacaan tahlil pada hari ke-3, 7, dan 40 setelah kematian. Juga manakah dalil yang menunjukkan harus dibaca secara berjama’ah dengan satu suara. Mana pula dalil yang menunjukkan bahwa yang harus dibaca adalah bacaan laa ilaha illallah, bukan bacaan tasbih, tahmid atau takbir.

Dalam acara yasinan juga demikian. Kenapa yang dikhususkan hanya surat Yasin, bukan surat Al Kahfi, As Sajdah atau yang lainnya? Apa memang yang teristimewa dalam Al Qur’an hanyalah surat Yasin bukan surat lainnya? Lalu apa dalil yang mengharuskan baca surat Yasin setelah kematian atau membaca yasin 3 kali pada malam Nisfu Sya’ban? Perlu diketahui bahwa kebanyakan dalil yang menyebutkan keutamaan (fadhilah) surat Yasin adalah dalil-dalil yang lemah bahkan sebagian palsu.

Jadi, yang menjadi masalah dalam hal ini bukanlah puasa, shalat, bacaan Al Qur’an maupun bacaan dzikir yang ada. Akan tetapi, pengkhususan waktu, tempat, tatacara, dan lain sebagainya, yang tidak ada tuntunannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) sesuatu yang bukan bagian darinya, maka perkara tersebut tertolak”. (HR. Bukhari : 2697 dan Muslim : 1718).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. ( HR. Abu Dawud : 4607, At-Tirmidzi : 2676, Ahmad IV/46-47 dan Ibnu Majah : 42, 43, 44).

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang membicarakan dan mencela bid’ah, namun apa yang dinukilkan di atas sudah cukup mewakili betapa bahaya dan betapa pentingnya kita untuk waspada dari bid’ah.

Demikian pembahasan mengenai hukum membaca surat Yasin tiga kali pada bulan Sya’ban. Hendaklah setiap muslim menyikapi permasalahan ini dengan bijak tanpa harus menyalahkan pendapat yang lainnya karena bagaimanapun permasalahan ini masih diperselisihkan oleh para ulama.

Namun yang perlu diingat dan ditanamkan pada diri kita bahwa, dalam melakukan sebuah amalan tentu harus memakai aturan dan tuntunan, dan sebagai umat Islam sudah pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam merupakan panutan dan tuntunan kita dalam menjalankan ibadah. Cukupkanlah hanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dijadikan panutan kita. Semoga rahmat Allah Ta’ala selalu menyertai kita, sehingga kita selalu dijalan-Nya yang lurus.
Allahu ‘alam.