Meminjam Uang ke Bank Karena Kepepet


Meminjam uang ke bank karena kepepet merupakan salah satu alasan untuk membela diri dari transaksi riba yang dilakukan dengan bank. Dengan dalih, pinjam sana sini tidak dapat, dan hanya bank yang mau meminjamkan uang, padahal lagi butuh. Bagaiman cara menyikapi permasalahan ini?

Pertama, prinsip pokok yang wajib kita tanamkan bersama adalah, bertransaksi dengan bank dalam bentuk meminjam uang untuk kebutuhan apapun, termasuk praktik riba. Karena bank tidak mungkin mengucurkan dana tanpa adanya bunga atau apapun namanya. Dengan demikian, bank sejatinya bukan solusi untuk mengatasi masalah keuangan masyarakat, apapun nama dan labelnya.

Lebih dari itu, meminjam dana dari bank, sejatinya kita telah melanggar ancaman laknat karena transaksi riba. Terdapat satu hadits yang sangat sering kita dengar, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَةً: آكِلَ الرِّبَا، وَمُوكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat 10 orang: pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksi transaksi riba, dan orang mencatat transaksinya”. (HR. Ahmad 635).

Dalam riwayat Baihaqi terdapat tambahan,

وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Mereka semua sama”.(Baihaqi dalam As-Shugra, 1871).

Yang dimaksud dengan pemberi makan riba pada hadits diatas adalah termasuk para nasabah yang meminjang uang di bank, yang mempersyaratkan adanya riba (bunga), sebagaimana keterangan di Aunul Ma’bud. Baca juga Doa Agar Rizki Lancar dan Barokah.

Lalu bagaimana dengan orang yang lagi membutuhkan banyak uang? Bukankah pinjaman bank akan sangat membantu?

Alasan inilah yang mungkin menjadi alasan terbesar bagi kebanyakan orang untuk tetap melakukan pinjaman ke bank, apalagi dengan alasan meminjam uang ke bank karena kepepet. Namun, kalau kita gali lebih jauh, pertanyaan ini masih terlalu global, sehingga perlu kita rinci untuk bisa memberikan jawaban yang jelas.

Apa latar belakang dia membutuhkan banyak uang dan untuk apa uang tersebut?

Konsekuensi bahwa Islam adalah agama sempurna, maka kita bisa mendapatkan jawaban yang benar untuk semua masalah, termasuk masalah keuangan. Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada beberapa catatan yang bisa kita jadikan pengantar.

Pertama, kita yakin hampir semua orang membutuhkan harta, karena dia butuh untuk hidup. Di sisi lainl, tidak semua orang bisa mencari sendiri harta yang menjadi kebutuhan pokok hidupnya. Dalam Islam, manusia yang tidak bisa mencari kebutuhan hidup sendiri dikelompokkan menjadi dua,

a. Orang yang menjadi tanggungan keluarganya yang lain, seperti anak menjadi tanggungan orang tua, atau orang tua yang tidak mampu mencari nafkah menjadi tanggungan anak lelaki, atau saudara yang tidak mampu bekerja karena cacat fisik atau mental, menjadi tanggungan saudaranya yang lain dan seterusnya.

b. Orang yang menjadi tanggungan kaum muslimin secara bersama atau negara, karena mereka tidak lagi menjadi tanggungan anggota keluarganya yang lain. Merekalah orang fakir, miskin, ibnu sabil, budak mukatab, jatuh pailit karena utang dan seterusnya. Untuk menutupi kebutuhan pokok hidupnya, mereka berhak mendapatkan harta zakat.

Melihat hal ini, sejatinya dalam Islam tidak ada istilah manusia terlantar karena masalah harta. Karena yang mampu wajib membayar zakat dan yang kurang mampu, berhak menerima zakat. Sehingga kebutuhan pokok setiap muslim pasti akan terjamin.

Kedua, dalam Islam ada manusia yang diizinkan untuk meminta-minta. Sehingga andaipun dia tidak tercover dengan harta zakat, dia masih bisa mendapatkan harta dari sumber yang lain untuk menutupi kebutuhan pokoknya. Diantara kondisi tersebut adalah,

a. Ketika seseorang menanggung beban diyat (denda) atau pelunasan hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai dia mampu melunasinya. Setelah lunas, dia wajib untuk meninggalkan mengemis.

b. Ketika seseorang ditimpa musibah yang menghabiskan seluruh hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup.

c. Ketika seseorang tertimpa kefakiran yang sangat berat, sehingga disaksikan oleh 3 orang berakal, pemuka masyarakatnya bahwa dia tertimpa kefakiran, maka halal baginya meminta-minta sampai dia mendapatkan kecukupan bagi kehidupannya.

Pada tiga kondisi ini, seseorang diperbolehkan untuk meminta-minta sumbangan. Dalil kesimpulan ini adalah hadis dari Sahabat Qabishah bin Mukhariq radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: Seseorang yang menanggung beban (hutang orang lain, diyat/denda), ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti. Dan seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup. Dan seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram”. (HR Muslim : 1044, Abu Dawud : 1640).

Ada satu lagi yang boleh meminta-minta, yaitu ketika seseorang meminta sumbangan untuk kepentingan kaum muslimin, bukan kepentingan pribadinya. Seperti untuk tujuan dakwah, pembangunan sarana keagamaan dan lainnya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memotivasi para sahabat untuk berinfak dalam rangka jihad atau kepentingan sosial lainnya.

Melihat keterangan di atas, kita akan kesulitan mencari alasan lain untuk membolehkan seseorang pinjam uang dari bank, kalau hanya untuk mencukupi kebutuhan utama hidupnya. Jika meminjam uang dari bank untuk modal usaha, hakikatnya adalah mengawali usaha dengan transaksi riba. Bisa jadi itu akan menghilangkan keberkahan usahanya. Sebagai solusi, dia bisa membuka investor untuk turut menanamkan modal pada sektor usaha yang dijalankan. Bisa dari lingkungan keluarga dan kerabatnya atau orang lain.

Kesimpulannya, tidak ada alasan darurat untuk mencari pinjaman di bank. Karena dalam kondisi darurat untuk mencukupi kebutuhan pokoknya, kaum muslimin bisa terbantukan dengan adanya zakat dan sedekah. Dan untuk urusan usaha dan bisnis, masih banyak alternatif yang halal, tanpa harus melibatkan riba. Jadi alasan meminjam uang ke bank karena kepepet tidak dapat dibenarkan.
Allahu a’lam.