Mengeraskan Bacaan Amin Bagi Perempuan

Bagaimana hukum mengeraskan bacaan amin bagi perempuan dalam shalat berjamaah? Apakah boleh bagi makmum wanita untuk mengeraskan bacaan amin?

Membaca amin disunnahkan bagi setiap orang setelah membaca Al-Fatihah. Baik ketika sedang shalat ataupun diluar shalat. Untuk lebih jelasnya silahkan baca Hukum Membaca Amin Setelah Membaca Al Fatihah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَقُولُ آمِينَ وَإِنَّ الْإِمَامَ يَقُولُ آمِينَ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Jika imam membaca ‘ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa laaddhoolliin’, maka ucapkanlah ‘aamiin’ karena malaikat akan mengucapkan pula ‘aamiin’ tatkala imam mengucapkan aamiin. Siapa saja yang ucapan amin-nya berbarengan dengan ucapan amin malaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. An Nasa’i, 928; Ibnu Majah, 852 dan Al Hafizh Abu Thahir mengatakan hadits ini shahih).

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ mengatakan,

التَّأْمِينُ سُنَّةٌ لِكُلِّ مُصَلٍّ فَرَغَ مِنْ الْفَاتِحَةِ سَوَاءٌ الإِمَامُ وَالْمَأْمُومُ , وَالْمُنْفَرِدُ , وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ وَالصَّبِيُّ , وَالْقَائِمُ وَالْقَاعِدُ وَالْمُضْطَجِعُ ( أي لعذرٍ ) وَالْمُفْتَرِضُ وَالْمُتَنَفِّلُ فِي الصَّلاةِ السِّرِّيَّةِ وَالْجَهْرِيَّةِ وَلا خِلافَ فِي شَيْءٍ مِنْ هَذَا عِنْدَ أَصْحَابِنَا اهـ .

“Membaca amin disunnahkan bagi setiap orang yang shalat setelah membaca Al-Fatihah. Ini berlaku bagi imam, makmum, orang yang shalat sendirian, berlaku pula bagi laki-laki, perempuan dan anak-anak. Sama halnya pula berlaku bagi orang yang shalat sambil berdiri, sambil duduk, atau sambil berbaring karena adanya uzur. Membaca amin juga berlaku bagi orang yang melaksanakan shalat wajib dan shalat sunnah baik shalatnya sirri (bacaannya lirih) maupun shalat jaher (bacaannya keras). Yang disebutkan tadi tetap berlaku sama menurut ulama madzhab Syafi’i”. (Al-Majmu’, 3: 371).

Apakah Perempuan Juga Mengeraskan Suara Amin?

Karena terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan saat menegur imam yang keliru, laki-laki mengucapkan ‘subhanallah’, sedangkan perempuan menepuk punggung telapak tangan. Ini menunjukkan bahwa suara wanita tidak dianjurkan dalam hal itu.

Dalam hadits disebutkan,

مَنْ نَابَهُ شَىْءٌ فِى صَلاَتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ

“Barangsiapa menjadi makmum lalu merasa ada kekeliruan dalam shalat, hendaklah dia membaca tasbih. Karena jika dibacakan tasbih, dia (imam) akan memperhatikannya. Sedangkan tepukan khusus untuk wanita”. (HR. Bukhari, no. 7190; Muslim no. 421).

Bagaimana Dengan Ucapan Amin Bagi Perempuan Jika Ikut Shalat Berjamaah?

Ibnu Hajar mengatakan,

وكان منع النساء من التسبيح لأنها مأمورة بخفض صوتها في الصلاة مطلقا لما يخشى من الافتتان ومنع الرجال من التصفيق لأنه من شأن النساء اهـ

“Wanita tidak diperkenankan mengucapkan ‘subhanallah’ ketika ingin mengingatkan imam, wanita diperintahkan untuk memelankan suaranya dalam shalat. Hal ini dikarenakan takut menimbulkan godaan. Sedangkan laki-laki dilarang menepuk punggung telapak tangan karena yang diperintahkan adalah perempuan”. (Fath Al-Bari, 3: 77).

Imam An-Nawawi mengatakan,
Menurut kebanyakan ulama Syafi’iyah, untuk wanita saat ia shalat sendirian atau ia shalat bersama wanita lainnya atau ada laki-laki mahram bersamanya, maka ia mengeraskan bacaan. Hal tadi berlaku jika ia shalat sendirian atau bersama wanita lainnya. Adapun jika ia shalat dan hadir di situ laki-laki asing (bukan mahram), ia melirihkan bacaan. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i. Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib mengatakan bahwa dalam masalah mengeraskan atau melirihkan ucapan takbir sama dengan pembahasan hukum mengeraskan atau melirihkan bacaan surat dalam shalat. (Al-Majmu’,: 3: 390).

Kesimpulannya, wanita boleh mengeraskan bacaan surat dan amin dalam shalat kecuali ketika sedang shalat sendirian dan di situ ada laki-laki bukan mahram. Begitu juga ketika shalat berjamaah boleh mengeraskan bacaan amin kecuali disitu terdapat laki-laki bukan mahram. Tidak ada larangan membaca keras bacaan amin bagi makmum perempuan, apalagi bila ia bermakmum kepada suaminya yang sudah barang tentu tidak ada kekhawatiran akan menimbulkan fitnah.

Namun ada juga pendapat yang melarang kaum perempuan mengeraskan bacaan amin ketika berjamaah, ini dalam rangka berhati-hati dan menghindar dari fitnah.
Allahu ‘alam.