Menghadiahkan Pahala Bacaan Al Qur’an Untuk Mayit

Karena tidak terdapat dalil secara tegas baik dari Al Qur’an maupun dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang atau membolehkan seseorang menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an untuk mayit atau orang yang sudah meninggal. Maka terjadi perbedaan pandangan diantara para ulama tentang hal ini.

Berikut pandangan ulama empat madzhab mengenai boleh tidaknya menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an untuk mayit.

Pendapat Ulama Madzhab Hanafi

Ulama hanafiyah menegaskan bahwa mengirim pahala bacaan Al Qur’an kepada mayit hukumnya dibolehkan. Pahalanya akan sampai kepada mayit dan bisa bermanfaat bagi mayit.

Imam Ibnu Abil Izz (ulama Hanafiyah) mengatakan,

إن الثواب حق العامل، فإذا وهبه لأخيه المسلم لم يمنع من ذلك، كما لم يمنع من هبة ماله له في حياته، وإبرائه له منه بعد وفاته. وقد نبه الشارع بوصول ثواب الصوم على وصول ثواب القراءة ونحوها من العبادات البدنية

“Sesungguhnya pahala adalah hak orang yang beramal. Ketika dia hibahkan pahala itu kepada saudaranya sesama muslim, tidak jadi masalah. Sebagaimana dia boleh menghibahkan hartanya kepada orang lain ketika masih hidup. Atau membebaskan tanggungan temannya muslim, yang telah meninggal. Syariat telah menjelaskan pahala puasa bisa sampai kepada mayit, yang itu mengisyaratkan sampainya pahala bacaan Al Qur’an, atau ibadah badaniyah lainnya”. (Syarh Aqidah Thahawiyah, 1/300).

Pendapat Ulama Madzhab Malikiyah

Imam Malik menegaskan, bahwa menghadiahkan pahala amal kepada mayit hukumnya dilarang dan pahalanya tidak sampai dan tidak bermanfaat bagi mayit. Namun sebagian ulama malikiyah membolehkan dan pahalanya bisa bermanfaat bagi mayit.

Imam Al-Qarrafi Dalam Minan al-Jalil, membagi ibadah menjadi tiga,

Pertama, Ibadah yang pahala dan manfaatnya dibatasi oleh Allah, hanya berlaku untuk pemiliknya. Dan Allah tidak menjadikannya bisa dipindahkan atau dihadiahkan kepada orang lain, seperti iman atau tauhid.
Kedua, Ibadah yang disepakati ulama, pahalanya bisa dipindahkan dan dihadiahkan kepada orang lain, seperti ibadah maliyah. Ketiga, Ibadah yang diperselisihkan ulama, apakah pahalanya bisa dihadiahkan kepada mayit ataukan tidak? Seperti bacaan Al Qur’an. Imam Malik dan Imam Syafi’i melarangnya. (Minan al-Jalil, 1/509).

Selanjutnya Al-Qarrafi menyebutkan dirinya lebih menguatkan pendapat yang membolehkan. Beliau mengatakan,

فينبغي للإنسان أن لا يتركه، فلعل الحق هو الوصول، فإنه مغيب

Selayaknya orang tidak meninggalkannya. Bisa jadi yang benar, pahala itu sampai. Karena ini masalah ghaib. (Minan al-Jalil, 7/499).

Ada juga ulama malikiyah yang berpendapat bahwa menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an tidak sampai kepada mayit. Hanya saja, ketika yang hidup membaca Al Qur’an di dekat mayit atau di kuburan, maka mayit mendapatkan pahala mendengarkan bacaan Al Qur’an. Namun pendapat ini ditolak Al-Qarrafi karena mayit tidak bisa lagi beramal. Karena kesempatan beramal telah putus (Inqitha’ at-Taklif). (Minan al-Jalil, 1/510).

Pendapat Ulama Madzhab Syafi’iyah

Pendapat yang masyhur dari Imam As-Syafi’i bahwa beliau melarang menghadiahkan bacaan Al Qur’an kepada mayit dan itu tidak sampai.

Imam An-Nawawi mengatakan,

وأما قراءة القرآن، فالمشهور من مذهب الشافعي، أنه لا يصل ثوابها إلى الميت، وقال بعض أصحابه: يصل ثوابها إلى الميت

Untuk bacaan Al Qur’an, pendapat yang masyhur dalam madzhab as-Syafi’i, bahwa itu tidak sampai pahalanya kepada mayit. Sementara sebagian ulama syafi’iyah mengatakan, pahalanya sampai kepada mayit. (Syarh Shahih Muslim, 1/90).

Salah satu ulama syafi’iyah yang menyatakan bahwa itu tidak sampai adalah al-Hafidz Ibnu Katsir. Ketika menafsirkan firman Allah di surat an-Najm,

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

“Bahwa manusia tidak akan mendapatkan pahala kecuali dari apa yang telah dia amalkan”. (an-Najm: 39).

Ibnu Katsir mengatakan,

ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم

“Dari ayat ini, Imam as-Syafi’i rahimahullah dan ulama yang mengikuti beliau menyimpulkan, bahwa menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an tidak sampai kepada mayit. Karena itu bukan bagian dari amal mayit maupun hasil kerja mereka”. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/465).

Pendapat Ulama Madzhab Hambali

Dalam madzhab hambali, ada dua pendapat. Sebagian ulama hambali membolehkan dan sebagian melarang. Terdapat tiga pendapat ulama madzhab hambali dalam hal ini,

Pertama, Boleh menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an kepada mayit dan itu bisa bermanfaat bagi mayit. Ini pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad.
Kedua, Tidak boleh menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an kepada mayit, meskipun jika ada orang yang mengirim pahala, itu bisa sampai dan bermanfaat bagi mayit. Al-Buhuti menyebut, ini pendapat mayoritas hambali.
Ketiga Pahala tetap menjadi milik pembaca (yang hidup), hanya saja, rahmat bisa sampai ke mayit.

Al-Buhuti mengatakan,

وقال الأكثر لا يصل إلى الميت ثواب القراءة وإن ذلك لفاعله

“Mayoritas hambali mengatakan, pahala bacaan Al Qur’an tidak sampai kepada mayit, dan itu milik orang yang beramal”. (Kasyaf al-Qana’, 2/147).

Sementara Ibnu Qudamah mengatakan,

وأي قربة فعلها وجعل ثوابها للميت المسلم نفعه ذلك

“Ibadah apapun yang dikerjakan dan pahalanya dihadiahkan untuk mayit yang muslim, maka dia bisa mendapatkan manfaatnya”. (as-Syarhul Kabir, 2/425).

Ibnu Qudamah juga menyebutkan pendapat ketiga dalam madzhab hambali,

وقال بعضهم إذا قرئ القرآن عند الميت أو اهدي إليه ثوابه كان الثواب لقارئه ويكون الميت كأنه حاضرها فترجى له الرحمة

“Ada sebagian ulama hambali mengatakan, jika seseorang membaca Al Qur’an di dekat mayit, atau menghadiahkan pahala untuknya, maka pahala tetap menjadi milik yang membaca, sementara posisi mayit seperti orang yang hadir di tempat bacaan Al Qur’an. Sehingga diharapkan dia mendapat rahmat”. (as-Syarhul Kabir, 2/426).

Seperti penjelasan diatas bahwa para ulama berbeda pandangan tentang hukum mengirimkan pahala bacaan Al Qur’an kepada orang yang telah mati. Ulama yang membolehkan mengqiyaskan bacaan Al Qur’an dengan sedekah dan doa. Sehingga pahala itu akan sampai, sebagaimana pahala sedekah dan doa bisa sampai.

Sementara ulama yang melarang beralasan, itu ghaib dan tidak ada dalil. Jika hal itu bisa sampai, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat akan sibuk mengirim pahala bacaan Al Qur’an untuk keluarganya yang telah meninggal dunia.

Sebab beberapa keluarga tercinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Khadijah, Hamzah, Zainab bintu Khuzaimah (istri beliau), semua putra Beliau, Qosim, Ibrahim, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Zainab, mereka meninggal sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Namun tidak dijumpai riwayat, Beliau menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an untuk mereka.

Anda juga dapat membaca tentang Hukum Membaca Surat Yasin Pada Malam Nisfu Sya’ban.

Jadi masalah ini memang sudah menjadi pembahasan para ulama sejak dulu. Dan kita bisa mengambil dan mengikuti pendapat yang kita yakini benar. Jangan sampai dengan perbedaan ini membuat kita sesama muslim saling merasa pendapatnya yang paling benar, dan menganggap sesat orang lain.
Semestinya kita saling menghormati pendapat masing-masing.

Dan yang terpenting adalah mari kita pelajari, baca, tadabburi dan amalkan isi dari Al Qur’an.
Allahu ‘alam.