Menghadiahkan Pahala Kepada Orang Tua

Seorang anak diwajibkan berbakti kepada kedua orang tuanya. Baik ketika masih hidup ataupun sudah meninggal. Jika seorang anak menghadiahkan pahala kepada orang tua atas amal kebaikan yang dia dikerjakan, akankah bermanfaat bagi orang tuanya?

Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (QS. An Najm : 39).

Dan anak yang sholih termasuk di antara hasil yang diusahakan oleh manusia. Berdasarkan dalil bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua”. (HR. Abu Daud : 3528 dan An Nasa’i : 4451 dan At Tirmidzi berkata hasan shahih).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, anak sholih yang mendoakan orang tuanya”. (HR. Muslim : 1631).

Berdasarkan hadits diatas, berarti amalan dari anak yang sholih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun keduanya sudah wafat. Karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.

Juga, terdapat dalil yang menegaskan bahwa orang yang hidup bisa menghadiahkan pahala sedekah untuk orang yang telah meninggal.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ، إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا

“Ibuku mati mendadak, sementara beliau belum berwasiat. Saya yakin, andaikan beliau sempat berbicara, beliau akan bersedekah. Apakah beliau akan mendapat aliran pahala, jika saya bersedekah atas nama beliau?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, bersedekahlah atas nama ibumu”. (HR. Bukhari : 1388 dan Muslim : 1004).

Dalam hadits yang lain, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwa ibunya Sa’d bin Ubadah meninggal dunia, ketika itu dia tidak ada di rumah. Sa’d berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا، أَيَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ

“Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dan ketika itu aku tidak hadir. Apakah dia mendapat aliran pahala jika aku bersedekah harta atas nama beliau?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya”. (HR. Bukhari : 2756).

Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman,

والذين ءامنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم ومآ ألتناهم من عملهم من شيء

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka…”. (QS. At-Thur: 21).

Para ulama sepakat (ijma’ ulama) bahwa menghadiahkan pahala sedekah akan sampai kepada mayit dan bermanfaat untuknya. Ibnu Qudamah menjelaskan,

أما الدعاء والاستغفار والصدقة وقضاء الدين وأداء الواجبات فلا نعلم فيه خلافاً إذا كانت الواجبات مما يدخله النيابة

Doa, istighfar, sedekah, melunasi utang, menunaikan kewajiban (yang belum terlaksana), bisa sampai kepada mayit. Kami tidak tahu adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama, apabila kewajiban itu bisa diwakilkan. (as-Syarhul Kabir, 2/425).

Bagaimana Jika Orang Tuanya Masih Hidup?

Dalam kitab fiqh madzhab hambali (al-Iqna’), dinyatakan bahwa,

وكل قربة فعلها المسلم وجعل ثوابها أو بعضها كالنصف ونحوه، لمسلم حي أو ميت جاز، ونفعه، لحصول الثواب له.

Semua ibadah yang dilakukan seorang muslim, kemudian dia pahalanya atau sebagian pahalanya, misalnya setengah pahalanya untuk muslim yang lain, baik masih hidup maupun sudah meninggal, hukumnya dibolehkan, dan bisa bermanfaat baginya. Karena dia telah mendapatkan pahala. (al-Iqna’, 1/236).

Sebagian ulama juga mengatakan, bahwa menghadiahkan pahala sedekah dan doa bisa diberikan kepada orang yang hidup maupun yang mati dan bisa bermanfaat bagi mereka dengan sepakat kaum muslimin.

Namun terjadi perbedaan pandangan diantara para ulama tentang menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an kepada orang yang sudah meninggal. Apakah akan sampai kepada mayit dan bermanfaat atau tidak. Untuk lebih jelasnya bisa Anda pelajari pada artikel Menghadiahkan Bacaan Al Qur’an Kepada Mayit.

Dengan demikian menghadiahkan pahala sedekah, doa, permohonan ampunan, membayar hutang zakat atau hutang sesama manusia, haji serta puasa akan sampai dan bermanfaat bagi orang yang telah meninggal. Karena adanya dalil yang tegas bahwa itu bisa sampai kepada mayit.
Allahu ‘alam.