Mengucapkan Salam Kepada Lawan Jenis

Kita diperintahkan untuk mengucapkan salam kepada saudara kita sesama muslim. Didalam Islam perintah ini berlaku umum, baik untuk laki-laki dan perempuan, kecuali jika ada dalil yang membedakan. Bagaimana jika seseorang mengucapkan salam kepada lawan jenis yang bukan mahram, apakah diperbolehkan?

Perintah Untuk Mengucapkan Salam

Di dalam Alqur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan kepada kita untuk saling mengucapkan salam. Dan ketika diberi salam, maka wajib menjawabnya.
Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS. An Nisa’: 86).

Keutamaan mengucapkan salam juga disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian”. (HR. Muslim no. 54)

Perintah mengucapkan salam bersifat umum untuk seluruh orang beriman. Perintah ini mencakup laki-laki dan perempuan. Seorang pria boleh mengucapkan salam pada wanita mahramnya, begitu sebaliknya. Dan di antara keduanya dianjurkan untuk memulai lebih dulu mengucapkan salam, dan wajib bagi yang lain untuk membalas salam tersebut.

Bagaimana Bila Seseorang Mengucapkan Salam Kepada Lawan Jenis Bukan Mahram?

Dalam masalah ini, seseorang tidak selayaknya mengucapkan salam kepada lawan jenis bukan mahram yang dapat menimbulkan fitnah (godaan dari pihak laki-laki atau perempuan). Sebagai contoh, seorang pria mengucapkan salam kepada gadis muda bukan mahram, dan dikhawatirkan dapat menimbulkan godaan, maka hal ini jangan dilakukan, ataupun membalas salamnya, begitu juga sebaliknya.

Para ulama menjelaskan bahwa kita tidak perlu mengucapkan salam kepada wanita ataupun membalas salamnya.

Imam Malik bin Anas ditanya tentang hukum mengucapkan salam kepada wanita, maka beliau menjawab, “Kepada wanita tua tidak apa-apa. Sedangkan kepada wanita muda, saya tidak menyukainya”. Az Zarqoni memberikan alasan dalam Syarh Muwatho’ mengapa Imam Malik tidak menyukai hal tersebut. Alasannya, karena beliau khawatir akan fitnah (godaan) karena mendengar balasan salam si wanita.

Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang bolehkah memberi salam pada wanita, beliau menjawab, “Adapun wanita yang tua renta, maka tidak mengapa. Adapun untuk gadis, maka aku tidak menganjurkan mengucapkan salam supaya salam itu dibalas”.

Di dalam Al Adab Asy Syar’iyyah, Ibnu Muflih menyebutkan bahwa Ibnu Manshur pernah menyebutkan pada Imam Ahmad mengenai hukum mengucapkan salam pada wanita (bukan mahram). Beliau lantas menjawab, “Jika wanita tersebut sudah tua renta, maka tidak mengapa”.

Imam An Nawawi dalam Al Adzkar berkata, “Ulama Syafi’iyah berkata: “Memberi salam sesama wanita sebagaimana pada sesama pria. Adapun seorang pria memberi salam pada wanita di mana wanita tersebut adalah istri, budak atau mahramnya, maka hukumnya boleh memberi salam kepada mereka-mereka. Sehingga dianjurkan untuk memberi salam kepada salah seorang di antara mereka dan wajib menjawab salamnya. Adapun jika yang diberi salam adalah wanita non mahram, jika wanita tersebut elok wajahnya dan khawatir tergoda dengan wanita tersebut, maka tidak boleh seorang pria memberi salam kepada wanita tersebut. Jika wanita tadi diberi salam, maka ia tidak perlu membalasnya. Begitu pula wanita tersebut tidak boleh mendahului memberi salam pada si pria tadi. Jika wanita tersebut memberi salam, maka tidak wajib membalasnya dan jika membalasnya, itu dimakruhkan.
Adapun jika wanita tersebut sudah tua renta dan tidak tergoda dengannya, maka boleh mengucapkan salam padanya. Dan jika diberi salam, maka tetap dijawab salam tersebut.
Adapun jika ada sekelompok wanita dan diberi salam oleh seorang pria atau ada sekelompok pria diberi salam oleh seorang wanita, itu dibolehkan selama mereka-mereka tadi tidak tergoda satu dan lainnya. Sebagaimana terdapat riwayat dari Abu Daud dari Asma’ binti Yazid, ia berkata,

مَرَّ عَلَيْنَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِى نِسْوَةٍ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati kami para wanita, lalu memberi salam pada kami.” (HR. Abu Daud, shahih)”.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan bahwa boleh seorang pria mengucapkan salam pada wanita dan begitu pula sebaliknya. Dan yang dimaksudkan oleh beliau adalah jika aman dari fitnah (godaan).

Al Halimiy berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi salam pada wanita karena aman dari godaan mereka. Barangsiapa yang yakin dirinya bisa selamat dari godaan tersebut, boleh baginya mengucapkan salam. Jika tidak, maka diam dari mengucapkan salam, itu lebih baik”.

Al Muhallab berkata, “Seorang pria mengucapkan salam pada wanita begitu pula sebaliknya, itu dibolehkan selama aman dari fitnah (godaan wanita)”.

Jadi jika kekhawatiran akan fitnah tidak ada, kita diperbolehkan untuk memulai salam kepada siapa saja dan menjawab salamnya tersebut. Namun jika dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah, maka tidak perlu kita mengucapkan salam kepada lawan jenis bukan mahram, dan ini lebih baik. Kecuali kepada wanita tua renta (yang tidak menimbulkan godaan).

Dari Abu Hazm Syaqiq bin Salamah, ia berkata: “Dulu, kami setiap hari Jumat selalu merasa senang. Saya bertanya kepada Sahl: “Mengapa?” Dia menjawab: “Kami memiliki kenalan seorang nenek tua yang sering memberi kami kurma Madinah. Dia mengambil kurma itu dari pokoknya. Kemudian kurma tersebut diletakkan di dalam panci dan dia menggiling biji-bijian dari gandum. Jika kami telah usai menunaikan shalat Jumat, kami berangkat ke rumahnya dan memberikan salam padanya. Nenek itu memberikan kami kurma dan biji-bijian yang telah digiling. Karena itulah, kami merasa senang. Tidaklah kami tidur sejenak dan makan siang kecuali setelah menunaikan shalat Jumat”. (Hadits Muttafaq ‘alaih).

Jadi sudah jelas bahwa, kita dibolehkan mengucapkan salam apabila mampu menahan godaan namun, jika sekiranya tidak mampu, terutama kepada wanita yang masih muda, lebih baik tidak perlu mengucapkan salam dan menjawab salamnya. Begitu pula sebaliknya bagi wanita, dan itu lebih utama.

Anda juga dapat membaca Tanda Orang yang Taubatnya Diterima. Semoga Allah senantiasa memberi taufik pada kita untuk selalu dijalan-Nya yang lurus.
Allahu ‘alam.