Menjawab Salam Di Televisi atau Radio

Dalam ajaran Islam diperintahkan untuk saling mengucapkan salam apabila bertemu dengan saudara kita sesama muslim. Bagi yang diberi salam maka berkewajiban untuk membalas salam tersebut. Bagaimana hukum menjawab salam di televisi atau radio, apakah diwajibkan untuk menjawabnya?

Hukum Mengucapkan dan Menjawab Salam

Allah mewajibkan kita untuk menjawab salam melalui firman-Nya,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS. An Nisa’: 86).

Perintah mengucapkan salam bersifat umum untuk seluruh orang beriman, baik laki-laki atau perempuan. Dan memulai mengucapkan salam adalah sunah dan bagi yang diberi salam wajib hukumnya untuk membalasnya.

Silahkan baca juga, Hukum Mengucapkan Salam Kepada Lawan Jenis.

Mengucapkan dan menjawab salam adalah salah satu amalan yang mulia. Dari Abdullah bin Amr meriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ « تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ »

“Amalan Islam apa yang paling baik?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali”. (HR. Bukhari no. 6236).

Karena keduanya termasuk amalan, maka masing-masing membutuhkan niat. Sementara amalan yang dilakukan tanpa niat, tidak akan terhitung sebagai amal. Dalam hadits dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Amal itu tergantung pada niatnya, dan apa yang didapatkan seseorang sesuai dengan apa yang dia niatkan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hukum Menjawab Salam Di Televisi atau Radio

Siaran di televisi atau radio biasanya mengunakan dua metode yaitu,

1. Disiarkan secara langsung

Bila acara tersebut disiarkan secara langsung, maka apabila pembawa acara ataupun narasumber mengucapkan salam maka wajib bagi pemirsa untuk menjawabnya. Karena salam yang dia dengar diucapkan dengan sengaja, berarti ada niat untuk beramal. Sementara perintah menjawab salam sifatnya umum, sehingga salam tersebut harus dijawab.

Imam An-Nawawi menyebutkan keterangan Abu Sa’d al-Mutawalli,

إذا نادى إنسان إنسانا من خلف ستر أو حائط فقال : السلام عليك يا فلان ، أو كتب كتابا فيه : السلام عليك يا فلان ، أو السلام على فلان ، أو أرسل رسولاً وقال : سلم على فلان ، فبلغه الكتاب أو الرسول ، وجب عليه أن يرد السلام

“Jika ada orang di balik dinding atau di balik tabir memanggil, ‘Hai Fulan, Assalamu alaikum’. Atau dia menulis surat, dan menyatakan, “Hai Fulan, Assalamu alaik”. Atau “Assalamu ‘ala Fulan”. Atau dia menyuruh seseorang untuk menyampaikan salam kepada Fulan. Jika surat dan utusan ini sampai kepada Fulan, maka Fulan wajib menjawab salamnya”. (al-Adzkar, hlm. 247).

Karena siaran televisi atau radio tersebut ditujukan kepada orang banyak atau publik maka hukum menjawabnya fardhu kifayah. Artinya sudah gugur kewajiban menjawab salam tersebut apabila ada salah satu dari pemirsa yang menjawabnya. Namun yang lebih afdhal, setiap muslim menjawab salam yang dia dengar, berdasarkan keumuman dalil. Tetapi jika tidak ada satupun yang menjawab, maka semua pemirsa menanggung dosa.

2. Siaran Tidak Langsung atau Siaran Ulang

Pada kondisi semacam ini, salam yang disampaikan penyiar ataupun nara sumber tidak wajib dijawab. Karena salam yang diucapkan berupa rekaman yang diputar ulang. Salam seperti ini bukanlah amal, sehingga tidak mengakibatkan adanya amal berikutnya.

Bisa saja saat rekaman diputar orang yang ada dalam rekaman diam saja atau melakukan aktifitas tertentu yang kita tidak tahu. Bahkan rekaman yang bertahun-tahun ditayangkan kembali, kita tidak tahu apakah orang dalam tayangan tersebut masih hidup atau tidak. Karena itu salam tersebut tidak wajib dibalas.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

إذا كان البث على الهواء مباشرة شرع رد السلام ؛ لعموم الأدلة الدالة على وجوب رد السلام على المسلم ، لكنه وجوب كفائي ، إذا قام به البعض سقط عن الباقين. أما إذا كان مسجلاً ، فلا يجب الرد في هذه الحالة .

Jika siarannya langsung, disyariatkan menjawab salam, berdasarkan keumuman dalil yang menunjukkan wajibnya menjawab salam kepada setiap muslim. Hanya saja, statusnya wajib kifayah, jika sudah ada sebagian yang mengamalkan, yang lain menjadi gugur. Jika yang disiarkan adalah rekaman, tidak wajib menjawab salamnya. (Fatwa Islam : 128737).

Demikian pembahasan cara menjawab salam di televisi atau radio, semoga bermanfaat.
Allahu ‘alam.