Muslim Memboikot Al-Qur’an, Adakah?

Siapapun muslim yang beriman kepada al-Qur’an, semua mencintai al-Qur’an, mengagungkan al-Qur’an.

Hanya saja, barangkali ada yang perlu kita sadari, bahwa bisa jadi ada perbuatan muslim, yang ternyata bertentangan dengan semangat mencintai dan mengagungkan al-Qur’an. Perbuatan itu adalah memboikot al-Qur’an. Ya, ada sebagian kaum muslimin yang memboikot al-Qur’an.

Bentuk Muslim Memboikot Al-Qur’an

Allah bercerita tentang keluhan yang disampaikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Nya,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Rabku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. al-Furqan: 30).

Al-Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan, bentuk memboikot al-Qur’an bentuknya beragam. Mulai dari yang paling parah, hingga yang lebih ringan. Boikot yang menyebabkan pelakunya kafir adaah boikot dalam bentuk tidak mengimaninya, mengingkari kebenarannya. Seperti yang dilakukan orang kafir, orang musyrikin, dan siapapun yang menjadi musuh al-Qur’an hingga hari ini.

Ibnu Katsir menjelaskan bentuk-bentuk pemboikotan al-Qur’an lainnya,

وترك علمه وحفظه أيضا من هجرانه، وترك الإيمان به وتصديقه من هجرانه، وترك تدبره وتفهمه من هجرانه، وترك العمل به وامتثال أوامره واجتناب زواجره من هجرانه، والعدولُ عنه إلى غيره -من شعر أو قول أو غناء أو لهو أو كلام أو طريقة مأخوذة من غيره -من هجرانه

Tidak mempelajari dan tidak menghafalkan al-Qur’an, termasuk memboikot al-Qur”an. Tidak mengimani dan membenarkan al-Qur’an, termasuk memboikot al-Qur’an. Tidak merenungkan dan memahami kandungan al-Qur’an, termasuk memboikot al-Qur’an. Tidak mengamalkannya, tidak mengikuti perintahnya atau menjauhi larangannya, termasuk memboikot al-Qur’an. Meninggalkan al-Qur’an dan memilih lebih sibuk yang lain, seperti syair, nyanyian, ucapan sia-sia atau metode yang diambil dari cara yang bertentangan dengan al-Qur’an, termasuk memboikot al-Qur’an. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/108).

Saatnya, kita mendekat ke al-Qur’an. Semoga tidak menjadi orang yang diadukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Rabnya, karena kita mengacuhkan al-Qur’an.

Jika kita menghendaki agar dibela al-Qur’an kelak di hari kiamat, kita harus menjadi Sohibul Qur’an, orang yang banyak membaca al-Qur’an.

Dari Abu Umamah Al Bahiliy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

“Bacalah Al Qur’an karena al-Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafi’ (pemberi syafa’at) bagi yang membacanya. Bacalah Az-Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua awan atau seperti dua gerombolan burung yang membentangkan sayapnya. Kedua surat ini akan menjadi pembela bagi yang rajin membacanya”. (HR. Muslim, 1910).

Itulah ahlul-Qur’an, yang dijanjikan akan dibela al-Qur’an kelak di hari kiamat.

Baca juga: Membaca Al Qur’an dari Hp Haruskah Bersuci?

Semoga Allah memberi hidayah kepada kita agar semakin dekat dengan al-Qur’an.
Wallahu ‘alam.

Referensi: Muslim yang Memboikot Al-Qur’an, Ustadz Ammi Nur Baits, Konsultasisyariah.com.