Pengertian Hadis Muttafaq Alaih

Dalam setiap hadits terdapat perawi atau orang yang meriwayatkan hadits tersebut. Banyak perawi yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Dan pada pembahasan kali ini akan mengulas tentang pengertian hadits Muttafaq ‘alaih. Berikut penjelasannya yang diambil dari keterangan para ulama.

Pengertian Hadis Muttafaq Alaih

Istilah muttafaq ‘alaihi adalah gabungan dari kata muttafaq (متفق) yang artinya disepakati, dan kata alaih (عليه) yang berarti atasnya. Sehingga kata muttafaq ‘alaihi berarti sesuatu yang disepakati.

Karena istilah ini digunakan dalam ilmu hadits, maka pengertian hadits muttafaq ‘alaih berarti, hadits yang disepakati keshahihannya oleh para ulama.

Terdapat tiga macam penggunaan istilah muttafaq ‘alaih yang disampaikan oleh para ulama,

Pertama, hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahihnya.

Dan hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim bisa dikatakan muttafaq ‘alaih jika memenuhi 3 syarat yaitu,
1. Haditsnya sama, meskipun redaksinya berbeda.
2. Sahabat yang meriwayatkan sama.
3. Disebutkan dalam kitab shahihnya.
Jika diriwayat Bukhari di kitabnya yang lain, seperti kitab Adabul Mufrad, kitab Tarikh atau yang lainnya, maka tidak berlaku istilah muttafaq ‘alaih.
Pada umumnya Istilah inilah yang digunakan oleh ulama hadits mutaakhirin.

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh 3 Imam yaitu, Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya dan Imam Ahmad dalam al-Musnad.

Ini merupakan istilah yang digunakan Majduddin Abul Barakat Abdus Salam dalam kitabnya Muntaqa al-Akhbar (al-Muntaqa fi al-Ahkam as-Syar’iyah min kalam Khoiril Bariyah). Kitab ini diberi penjelasan as-Syaukani menjadi kitab tebal berjudul Nailul Authar.

Di mukadimahnya dinyatakan,

والعلامة لما رواه البخاري ومسلم أخرجاه . ولبقيتهم رواه الخمسة . ولهم سبعتهم رواه الجماعة . ولأحمد مع البخاري ومسلم متفق عليه

Tanda untuk riwayat Bukhari dan Muslim dengan istilah ‘Akhrajahu’, untuk riwayat selain dua orang ini (Ahmad, Nasai, Abu Daud, Turmudzi, dan Ibnu Majah) dengan istilah rawahul khamsah. Dan jika diriwayatkan 7 perawi (Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasai, Abu Daud, Turmudzi, dan Ibnu Majah) dengan istilah Rawahul Jamaah. Dan untuk riwayat Ahmad, Bukhari, dan Muslim dengan istilah muttafaq ‘alaih. (Nailul Authar, 1/1).

Ketiga, hadits yang sanadnya sahhih, perawinya bebas dari cacat dan penilaian negatif dari para ulama, meskipun tidak diriwayatkan Bukhari, Muslim, maupun Imam Ahmad. Dengan kata lain, hadits yang disepakati shahih menurut para ulama ahli hadits, meskipun tidak diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Ulama yang menggunakan istilah muttafaq ‘alaih dengan makna seperti di atas adalah al-Hafidz Abu Nua’im dalam kitabnya Hilyah al-Auliya.

Syarafuddin Ali bin al-Mufadhal memberikan pejelasan penggunaan istilah muttafaq ‘alaih menurut Abu Nuaim,

لم يعن أبو نعيم بقوله المشار إليه (متفق عليه) اتفاق البخاري ومسلم رحمة الله عليهما على إخراجه في كتابيهما ، وإنما أراد به سلامة رجاله من الخلل وعدم الطعن فيه بعلة من العلل , فيما يظهر لي

Yang dimaksud Abu Nuaim dengan istilah yang beliau sampaikan, ‘Muttafaq ‘alaih’ adalah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya. Namun yang beliau maksud adalah hadits yang perawinya selamat dari celah kekurangan dan tidak ada celaan dengan illah (cacat), menurut yang saya tahu. (al-Arba’un ‘ala at-Thabaqat, hlm. 457).

Semoga penjelasan mengenai pengertian hadits Muttafaq ‘alaih bisa bermanfaat. Silahkan baca amalan Doa Agar Setan Tidak Masuk Rumah.
Allahu a’lam.