Peringatan Maulid Nabi Dari Sejarah Sampai Hukumnya

Setiap tanggal 12 Rabiul Awwal kebanyakan masyarakat muslim di dunia memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi waa sallam. Namun ada juga umat muslim yang menolak peringatan tersebut dan menganggap hal itu tidak sesuai dengan syariat (bid’ah). Daru segi bahasa maulid bermakna waktu kelahiran. Dan secara istilah, maulid Nabi dimaknai sebagai peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awwal dalam penanggalan Hijriyah. Bagaimana sebenarnya sejarah peringatan Maulid Nabi dan hukumnya?

Sejarah Maulid Nabi Muhammad Shalllallahu ‘Alaihi wa Sallam

Terdapat beberapa pendapat mengenai siapa yang pertama kali melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berikut penjelasannya.

Menurut pakar sejarah, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Dinasti Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah) pada abad ke- 4 Hijriyah. Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146)

Kemudian Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.

Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20)

Adapun pendapat yang lain mengatakan bahwa, peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulai pada zaman Imam Shalahuddin Al-Ayyubi, lahir pada 532 H/1137 M dan wafat pada 588 H/1193 M seorang komandan Perang Salib yang berhasil merebut Jerusalem dari orang-orang Kristen. Shalahuddin dikatakan mengadakan kompetisi atau anjuran untuk melaksanakan perayaan Maulid Nabi demi membangkitkan semangat jihad kaum Muslimin pada masa itu dalam menghadapi tentara salib. Namun sejauh yang diketahui, kisah ini sama sekali tidak memiliki rujukan. Tidak ada satu pun penulis sejarah Shalahuddin dan Perang Salib yang hidup pada jaman tersebut yang menyebutkan tentang hal ini.

Kemudian pada abad ke- 7 Hijriyah raja yang pertama kali memperingati hari kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perayaan yang meriah dan luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktaki, lahir pada 549 H dan wafat pada 630 H. Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,

“…dan beliau konon mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan perayaan yang meriah, dan beliau adalah seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa, berakal, alim dan adil…” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir : 13/ 136).

Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat diketahui bahwa, sejarah awal mula Maulid Nabi terjadi berkisar antara abad ke- 4 Hijriyah sampai abad ke-7 Hijriyah atau dari tahun 362 Hijriyah hingga saat ini. Berarti pada zaman sahabat ataupun tabi’in, dan tabi’ut tabi’in belum pernah dikenal adanya peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyatakan,

واتفقوا على أن آخر من كان من أتباع التابعين ممن يقبل قوله من عاش إلى حدود العشرين ومئتين

“Para Ulama sepakat bahwa akhir Tabi’ut Tabi’in yang bisa diterima ucapannya adalah yang masa kehidupannya hingga batasan tahun 220 (Hijriyah)”. (Fathul Baari, 7/6).

Dengan demikian sudah jelas bahwa peringatan Maulid Nabi belum ada pada jaman sahabat maupun tabi’in dan tabi’ut tabi’in, karena masa atbaut tabi’in batasannya sampai tahun 220 Hijriyah.

Hukum Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum peringatan Maulid Nabi, dan pendapat mereka saling berseberangan. Ada yang menolak dan melarangnya karena dianggap bid’ah yang sesat, sedangkan ulama yang lain membolehkannya karena dianggap bid’ah yang baik (hasanah). Berikut hujjah mereka masing-masing.

Pandangan Ulama Yang Melarang

Sudah jelas bahwa perayaan Maulid Nabi tidak pernah diperingati pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau.

Mengada-ada hal baru dalam agama, seperti peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti beranggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala belum menyempurnakan agama-Nya bagi umat ini, atau beranggapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam belum menyampaikan segala sesuatu yang mesti dikerjakan umatnya. Tidak diragukan lagi, anggapan seperti ini mengandung bahaya besar lantaran menentang Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Karena Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” (Al-Ma-idah, 5:3).

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang paling mulia dan terakhir. Nabi yang paling sempurna penyampaian dan ketulusannya. Seandainya Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu benar-benar termasuk ajaran agama yang diridhai Allah Azza wa Jalla, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya kepada umatnya. Atau paling tidak, pasti telah dikerjakan oleh para sahabatnya. Tetapi, semua itu tidak terjadi.

Dengan demikian, jelaslah hal itu bukan bagian dari ajaran Islam dan termasuk perkara yang diada-adakan (bid’ah) dan termasuk tasyabbuh (menyerupai) Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam hari-hari besar mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَعَثَ اللهُ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَـهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَـهُمْ

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, kecuali wajib baginya untuk menunjukkan kebaikan yang diketahuinya kepada ummatnya dan memperingatkan mereka terhadap keburukan yang diketahuinya kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1844).

Perlu dipahami bahwa keutamaan 3 generasi (sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in) , adalah untuk dijadikan patokan dan teladan kita dalam beragama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (Nabi dan para Sahabatnya) kemudian yang setelahnya (tabi’in) kemudian yang setelahnya (Tabi’ut Tabi’in) kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya (orang-orang yang banyak berdusta dan tidak bisa dipercaya)”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Setiap perbuatan kebaikan terkait ibadah yang sangat memungkinkan dilakukan di masa para Sahabat Nabi ridhwaanullahi ‘alaihim ‘ajmaiin namun itu tidak dilakukan –bahkan tidak terpikirkan oleh mereka untuk mengerjakannya-, maka sesungguhnya itu bukanlah bagian dari Dienul Islam ini.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

…لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ…

…Kalau seandainya itu adalah kebaikan, niscaya mereka tidak akan mendahului kita dalam hal itu…(Q.S al-Ahqoof ayat 11)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya:

وأما أهل السنة والجماعة فيقولون في كل فعل وقول لم يثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه، لأنهم لم يتركوا خصلة من خصال الخير إلا وقد بادروا إليها

“Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah mereka mengatakan pada setiap perbuatan dan ucapan yang tidak ada dari para Sahabat Nabi, maka itu adalah bid’ah. Karena jika hal itu (ucapan atau perbuatan itu) baik, niscaya mereka (para Sahabat Nabi) akan mendahului kita dalam hal itu. Karena mereka (para Sahabat Nabi) tidaklah meninggalkan satu saja perilaku kebaikan kecuali mereka adalah yang terdepan dalam mengerjakannya”. (Tafsir Ibn Katsir dalam menafsirkan surat al-Ahqoof ayat 11).

 

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab,

ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت اوانزل علي فيه

“Hari itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku”. (HR. Muslim dan lainnya).

Sebagian orang berpendapat bahwa hadits diatas dijadikan dalil bolehnya memperingati hari kelahiran (Maulid Nabi). Dan dikatakan ini merupakan fakta bahwa beliaulah yang pertama kali yang mengagungkan hari kelahirannya sendiri dengan berpuasa, dan ini merupakan sebuah sunnah yang telah dicontohkan sendiri oleh beliau.

Namun, pemahaman ini sungguh keliru, karena tidak ada satu orangpun ulama salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, maupun tabi’ut tabi’in yang memahami demikian. Terbukti dengan tidak adanya peringatan Maulid Nabi di masa mereka. Kalau mereka memahami demikian sudah tentu mereka menjadi orang terdepan yang melakukannya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa bukan hanya pada hari Senin saja. Beliau juga berpuasa pada hari Kamis, karena amal seseorang diangkat (ditunjukkan) kepada Allah pada hari Senin dan Kamis. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

“Ditunjukkan amalan-amalan pada hari Senin dan Kamis, dan aku suka amalanku ditunjukkan dalam keadaaan aku berpuasa”. (H.R at-Tirmidzi).

Dalam Islam tidak ada bid’ah hasanah, semua bid’ah adalah sesat sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

“Setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. an-Nasa-i III/189).

Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata.

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

“Barangsiapa menganggap baik sesuatu (ibadah) maka ia telah membuat satu syari’at”. (al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hal. 50).

Syaikh Hafizh bin Ahmad bin ‘Ali al-Hakami rahimahullah (wafat th. 1377 H) berkata, “Kemudian ketahuilah bahwa semua bid’ah itu tertolak tidak ada sedikitpun yang diterima; Semuanya jelek tidak ada kebaikan padanya; semuanya sesat tidak ada petunjuk sedikitpun di dalamnya; Semuanya adalah dosa tidak berpahala; Semuanya batil tidak ada kebenaran di dalamnya. Dan makna bid’ah ialah syari’at yang tidak diizinkan Allah Azza wa Jalla dan tidak termasuk urusan (agama) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya”. (Ma’arijul Qabul II/519-520).

Pandangan Ulama Yang Membolehkan

Peringatan maulid Nabi Muhammad adalah sebuah ungkapan kecintaan dan kegembiraan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiran itu.

فقد جاء في البخاري أنه يخفف عن أبي لهب كل يوم الإثنين بسبب عتقه لثويبة جاريته لما بشّرته بولادة المصطفى صلى الله عليه وسلم. وهذا الخبر رواه البخاري في الصحيح في كتاب النكاح معلقا ونقله الحافظ ابن حجر في الفتح. ورواه الإمام عبد الرزاق الصنعانيفي المصنف ج ٧ ص ٤٧٨

Dalam hadits di atas yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, dikisahkan ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu lahab, paman nabi , menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang jabang bayi yang sangat mulia , Abu Lahab pun memerdekan Tsuwaibah sebagai tanda cinta dan kasih. Dan karena kegembiraannya, kelak di hari kiamat siksa atas dirinya diringankan setiap hari senin tiba.

Bagi seorang mukmin, kecintaan kepada Nabi adalah sebuah keharusan, salah satu untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Kecintaan kepada nabi harus berada diatas segalanya, bahkan melebihi kecintaan kepada istri, anaknya, bahkan kecintaan diri sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين.

“Tidak sempurna iman salah satu diantara kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Memperingati hari kelahiran (Maulid) Nabi sudah ada sejak masa Nabi shallahhu ‘alaihi wa sallam sendiri. Yakni dari segi mengagungkan hari di mana Nabi dilahirkan dengan melakukan suatu ibadah yaitu berpuasa.

Ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab,

ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت اوانزل علي فيه

“Hari itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku”. (HR. Muslim dan lainnya).

Ini merupakan dalil nyata bolehnya memperingati hari kelahiran (Maulid) beliau yang saat itu dirayakan oleh Nabi dengan salah satu macam ibadah yaitu berpuasa. Dan ini merupakan fakta bahwa beliaulah pertama kali yang mengagungkan hari kelahirannya sendiri dengan berpuasa. Maka mengagungkan hari di mana beliau dilahirkan merupakan sebuah sunnah yang telah Nabi contohkan sendiri. Ini asal dan esensi dari acara maulid Nabi.

Terdapat juga dalil-dalil dari al-Qur’an, yang menunjukkan dianjurkannnya memperingati Maulid Nabi. Diantaranya dalam al-Qur’an surat Yunus ayat 58 dan surat al-Abiya’ ayat 107.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ.(يونس: ٨٥

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus: 58).

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. الأنبياء: ١٠٧

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS al-Anbiya: 107).

Kelahiran Nabi Muhammad digambarkan oleh Al-Qur’an sebagai keutamaan dan rahmat yang universal dan agung, memberikan kebahagiaan dan kebaikan bagi seluruh manusia. dalam dua ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya beliau dan diutusnya beliau sebagai rasul adalah sebuah rahmat yang tidak terkira bagi seluruh alam semesta ini, rahmatan lil ‘alamin.

Peringatan Maulid Nabi juga diperingati oleh orang-orang yang sudah terkenal kebaikan dan keshalehannya. Seperti Syaikh Umar al-Mulla seorang syaikh yang shalih yang wafat pada tahun 570 H, dan shulthan Nuruddin Zanki seorang pentakluk pasukan salib. Juga oleh Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktaki, lahir pada 549 H dan wafat pada 630 H.

 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang melahirkan aktifitas yang baik, maka baginya adalah pahala dan (juga mendapatkan) pahala orang yang turut melakukannya”. (HR. Muslim dll).

Makna ‘aktifitas yang baik’ –secara sederhananya–adalah aktifitas yang menjadikan kita bertambah iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi-Nabi-Nya, termasuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lain-lainnya.

 

Sebab itu, perayaan Maulid tidak tepat dikatakan bid’ah sayyi’ah (bid’ah tercela), sebab tidak ada unsur maksiat sedikitpun dalam pelaksaannya. Hampir semua aktivitas yang terdapat dalam peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki landasan syariatnya. Tidak ada satupun ulama yang mengatakan baca Al-Qur’an, mendengar ceramah keagamaan, membaca kisah perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbagi makanan itu adalah bid’ah dan haram dilakukan. Ulama sepakat aktivitas di dalam peringatan Maulid tidak mengandung satu kemunkaran pun.

Mengenai masalah Bid’ah, Ibnu Atsir dalam kitabnya “Annihayah fi Gharibil Hadist wal-Atsar” pada bab Bid’ah dan pada pembahasan hadist Umar tentang Qiyamullail (sholat malam) Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, bahwa bid’ah terbagi menjadi dua : bid’ah baik dan bid’ah sesat. Bid’ah yang bertentangan dengan perintah qur’an dan hadist disebut bid’ah sesat, sedangkan bid’ah yang sesuai dengan ketentuan umum ajaran agama dan mewujudkan tujuan dari syariah itu sendiri disebut bid’ah hasanah.

Ibnu Atsir menukil sebuah hadist Rasulullah “Barang siapa merintis jalan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang orang yang menjalankannya dan barang siapa merintis jalan sesat maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang menjalankannya”.

Izzuddin bin Abdussalam bahkan membuat kategori bid’ah sebagai berikut: 1) wajib seperti meletakkan dasar-dasar ilmu agama dan bahasa Arab yang belum ada pada zaman Rasulullah. Ini untuk menjaga dan melestarikan ajaran agama.Seperto kodifikasi al-Qur’an misalnya. 2) Bid’ah yang sunnah seperti mendirikan madrasah di masjid, atau halaqah-halaqah kajian keagamaan dan membaca al-Qur’an di dalam masjid. 3) Bid’ah yang haram seperti melagukan al-Qur’an hingga merubah arti aslinya, 4) Bid’ah Makruh seperti menghias masjid dengan gambar-gambar 5) Bid’ah yang halal, seperti bid’ah dalam tata cara pembagian daging Qurban dan lain sebagainya.

Demikian pendapat para ulama dari yang melarang dan yang membolehkan peringatan Maulid Nabi. Sebenarnya masih banyak pendapat yang dikemukakan, namun penjelasan diatas dirasa sudah cukup mewakili.

Hal Yang Perlu Dicermati Dan Direnungkan

Setelah melihat keterangan diatas, mulai dari sejarah dan pernyataan pendapat para ulama yang melarang dan membolehkan adanya Maulid Nabi, ada beberapa hal yang perlu dicermati dan direnungkan.

Pertama, Para ulama sepakat bahwa peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilaksanakan pada zaman sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Padahal mereka adalah tiga generasi terbaik dalam umat ini. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menyampaikan hal ini. Beliau bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (Nabi dan para Sahabatnya) kemudian yang setelahnya (tabi’in) kemudian yang setelahnya (Tabi’ut Tabi’in) kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya (orang-orang yang banyak berdusta dan tidak bisa dipercaya)”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kedua, Tidak dipungkiri bahwa peringatan Maulid Nabi juga diadakan oleh ulama dan pemimpin yang shaleh, ta’at, alim dan adil berkisar pada abad ke- 7 hijriyah. Dibanding orang-orang setelahnya hingga saat ini, tentu kebaikan, keta’atan, kecintaannya terhadap Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam maupun keshalehannya melebihi orang-orang zaman sekarang. Namun perlu dipahami bahwa, kebaikan mereka tidak sebanding dengan para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang merupakan tiga generasi terbaik umat ini.

Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At Taubah:100).

Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُلُوْبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالاً، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَ ِلإِقَامَةِ دِيْنِهِ فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ، وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ.

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus”. (Majma’-uz Zawaa-id, oleh al-Hafizh al-Haitsamy).

Dalam surat At Taubah ayat 100 diatas menjelaskan bahwa, Allah telah ridha kepada para sahabat, baik dari Muhajirin dan Anshar, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga. Dan kita diperintahkan untuk mengikuti dan meneladani mereka. Sedangkan sudah jelas bahwa, para sahabat sama sekali tidak pernah melakukan peringatan Maulid Nabi.

Dengan demikian, coba renungkan baik-baik, siapakah yang harus kita ikuti dan kita teladani? Para sahabat yang mendapat ridha dari Allah ataukah orang-orang belakangan yang sudah pasti kebaikannya tidak sebanding dengan para sahabat?

Ketiga, Terlepas dari perbedaan pandangan para ulama tentang bid’ah. Bahwa semua bid’ah itu sesat ataupun adanya bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), kita diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan pengertian Taqwa secara luas adalah menjalankan segala perintah dan meninggalkan semua larangan yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya.

Disini sudah jelas, kita disuruh untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Sebagai hamba seharusnya menjadi umat yang tunduk, patuh dan ta’at pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Sangat tidak terpuji apabila menjadi umat yang suka ‘ngeyel’, banyak membantah, dengan alasan dan argumen ini dan itu, membuat-buat sesuatu yang tidak diperintahkan walaupun tidak dilarang.

Sebagai hamba yang beriman kita mempunyai dua kewajiban, yaitu menjalankan semua yang diperintahkan dan meninggalkan semua hal yang dilarang. Kita hanya diwajibkan untuk mengikuti perintah dan meninggalkan larangan. Sebagai hamba kita tidak punya hak untuk membuat sesuatu yang tidak diperintahkan, kita sepatutnya hanya tunduk dan patuh. Hal ini sudah dicontohkan oleh para sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini.

Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,
“Sesungguhnya kami meneladani, kami tidak memulai. Kami mengikuti (ittiba’), kami tidak membuat bid’ah. Kami tidak akan sesat selama berpegang kepada atsar (riwayat dari Nabi dan sahabatnya, Pen.)”. (Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 42, no. 35).

Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H)mengatakan,

عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهُ لَكَ بِالقَوْلِ.

“Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah”. (Imam al-Aajury dalam as-Syariah I/445 no. 127).

Dengan demikian, apakah dengan melakukan peringatan Maulid Nabi termasuk hamba yang ta’at, tunduk dan patuh? Ataukah hamba yang lancang, suka membantah, banyak bertingkah, mencari-cari sesuatu yang tidak diperintahkan?

Dari Abdullah bin’Amr Radhiyallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya umatku akan berpecah-belah menjadi 73 agama. Mereka semua di dalam neraka, kecuali satu agama. Mereka bertanya:“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Siapa saja yang mengikutiku dan (mengikuti) sahabatku”. (HR. At-Tirmidzi, no. 2565 dan lainnya; Dihasankan oleh Syaikh Al Hilali).

Dari hadits diatas dijelaskan, jika ingin selamat dari neraka kita diperintahkan untuk mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat beliau.

Sekali lagi, yang patut direnungkan adalah, apakah dengan melakukan peringatan Maulid Nabi merupakan bentuk keta’atan, kepatuhan dan kecintaan kepada Nabi? Ataukah justru bertentangan dan melawan perintah Nabi? Karena kita diperintahkan untuk mengikuti sahabat Nabi, sedangkan para sahabat tidak pernah memperingati Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pembahasan tentang peringatan Maulid Nabi dari sejarah sampai hukumnya serta beberapa hal yang sekiranya perlu dicermati dan direnungkan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk dan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin agar selalu berada di jalan-Nya yang lurus.
Allahu ‘alam.