Puasa Arafah Dan Puasa Tarwiyah

Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal shaleh, salah satunya adalah puasa. Puasa yang ditekankan adalah puasa Arafah dan puasa Tarwiyah, karena keduanya memiliki keutamaan khusus tertentu. Benarkah demikian?

Puasa Arafah

Puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada hari Arafah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah yang bertepatan pada saat jamaah haji wukuf di tanah Arafah. Wukuf di Arafah bisa dikatakan sebagai inti dari pelaksanaan ibadah haji. Karena itu puasa Arafah sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji.

Keutamaan puasa Arafah terdapat dalam hadits dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu”. (HR. Muslim : 1162).

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’i secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl”. (Al Majmu’ 6: 428).

Orang yang melaksanakan ibadah haji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah.

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ

“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa’. Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa’. Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada Beliau, ketika Beliau sedang berhenti di atas unta Beliau, maka Beliau meminumnya”. (HR. Bukhari : 1988 dan Muslim : 1123).

Juga terdapat hadits dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan,

أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِى صِيَامِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ عَرَفَةَ ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِحِلاَبٍ وَهْوَ وَاقِفٌ فِى الْمَوْقِفِ ، فَشَرِبَ مِنْهُ ، وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ

“Bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada Beliau satu wadah (berisi susu) dan Beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas Beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya”. (HR. Bukhari : 1989 dan Muslim : 1124).

Melihat keterangan diatas dapat dipahami bahwa puasa Arafah sangat dianjurkan bagi orang yang tidak wukuf di Arafah dan tidak dianjurkan bagi orang yang melaksanakan haji dan sedang wukuf di Arafah. Selain itu keutamaan puasa Arafah adalah akan diampuni dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil dan tidak termasuk dosa besar. Dan ada yang berpendapat pengampunan tersebut meliputi dosa kecil maupun besar.

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, semoga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, semoga ditinggikan derajat”. (Syarh Shahih Muslim, 8 : 51).

Sedangkan Ibnu Taimiyah rahimahullah memberi penjelasan, “Bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni karena hadits di atas sifatnya umum”. (Keterangan lengkapnya lihat Majmu’ Al Fatawa, 7 : 498-500).

Puasa Tarwiyah

Puasa Tarwiyah merupakan puasa yang dilaksanakan pada hari Tarwiyah yaitu pada tanggal 8 Dzulhijjah. Mengenai puasa Tarwiyah terdapat hadits yang menganjurkan puasa di hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah), yang menyatakan,

مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ

“Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari Tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari Arafah, seperti puasa dua tahun”.

Hadits ini berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’.

Para ulama menegaskan bahwa hadits ini adalah hadits palsu. Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengatakan,

وهذا حديث لا يصح . قَالَ سُلَيْمَان التَّيْمِيّ : الطبي كذاب . وَقَالَ ابْن حِبَّانَ : وضوح الكذب فِيهِ أظهر من أن يحتاج إِلَى وصفه

“Hadits ini tidak shahih Sulaiman at-Taimi mengatakan, ‘at-Thibbi seorang pendusta’. Ibnu Hibban menilai, ‘at-Thibbi jelas-jelas pendusta. Sangat jelas sehingga tidak perlu dijelaskan”. (al-Maudhu’at, 2/198).

Ketika menjelaskan derajat hadits ini, Imam As-Syaukani (wafat 1255 H) mengatakan,

رواه ابن عدي عن عائشة مرفوعاً ولا يصح وفي إسناده : الكلبي كذاب

“Hadits ini disebutkan oleh Ibnu Adi dari A’isyah secara marfu’. Hadits ini tidak shahih, dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Kalbi, seorang pendusta. (al-Fawaid al-Majmu’ah, 1/45).

Melihat keterangan di atas, maka hadits ini statusnya tertolak yang tidak bisa dijadikan dalil. Selanjutnya, apakah puasa Tarwiyah tidak dianjurkan?

Puasa Tarwiyah tetap dianjurkan sebagaimana puasa Arafah. Disebutkan dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ . يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun”. (HR. Abu Daud : 2438, At Tirmidzi : 757 dan Ahmad : 1968).

Dari Hunaidah bin Khalid radhiyallahu ‘anhu, dari istrinya bahwa, beberapa istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْر.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura'(10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya (hijriyah), …” (HR. Abu Daud : 2437).

Berdasar hadits diatas, tetap dianjurkan untuk memperbayak puasa selama tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Karena hari Tarwiyah jatuh pada 8 Dzulhijah maka masuk dalam jangka waktu tersebut. Dan hari Tarwiyah termasuk dalam 10 hari pertama Dzulhijah, dimana tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari tersebut (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).

Tentang amalan utama apa saja yang bisa dilakukan di bulan Dzulhijah, silahkan pelajari pada ulasan Amalan Mulia di Bulan Dzulhijah.

Apalagi puasa termasuk jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku…” (HR. Muslim : 1151).

Dengan demikian kita tetap dianjurkan melakukan puasa selama tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah, termasuk puasa Arafah dan puasa Tarwiyah. Namun kita tidak boleh berkeyakinan bahwa, puasa Tarwiyah mempunyai keutamaan khusus seperti puasa Arafah.

Semoga kita selalu diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala dan mendapat pengampunan-Nya.
Allahu ‘alam.