Puasa Asyura 10 Muharram

Bulan Muharram termasuk bulan yang dimuliakan Allah Ta’ala. Karena bulan ini sarat dengan pahala dan ladang beramal bagi seorang mukmin. Bulan Muharram dikatakan mulia karena di dalamnya terdapat amalan sunnah yang sangat dianjurkan yaitu puasa. Diantara puasa yang dianjurkan adalah puasa Asyura tanggal 10 Muharram.

Sejarah Puasa Asyura 10 Muharram

Pada zaman jahiliyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah melakukan puasa Asyura bersama orang-orang Quraisy Mekah. Beliau tidak memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan puasa. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

“Dulu hari Asyura dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakan puasa Asyura dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadhan, beliau tinggalkan hari Asyura. Siapa yang ingin puasa Asyura boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura boleh tidak puasa”. (HR. Bukhari, 2002 dan Muslim, 2693).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang yahudi melakukan puasa Asyura, dan beliaupun berpuasa dan menyuruh para sahabat untuk berpuasa. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ. فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian”. Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa”. (HR. Muslim, 1130).

Sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, para ulama berbeda pendapat mengenai hukum puasa Asyura. Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Abu Bakr Al Atsrom, hukumnya wajib. Sedangkan menurut pendapat Imam Asy Syafi’i dan kebanyakan dari ulama Hambali hukumnya sunnah mu’akkad. (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 94).

Setelah diturunkannya kewajiban puasa Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa Asyura, dan juga tidak melarangnya. Beliau mengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan. Sehingga hukum puasa Asyura dianjurkan (sunnah). Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

“Dulu hari Asyura dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakan puasa Asyura dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadhan, beliau tinggalkan hari Asyura. Siapa yang ingin puasa Asyura boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura boleh tidak puasa”. (HR. Bukhari, 2002 dan Muslim, 2693).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan puasa Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata bahwa hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه ، قالوا : يا رسول الله ! إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (فإذا كان العام المقبل ، إن شاء الله ، صمنا اليوم التاسع ) . قال : فلم يأت العام المقبل حتى تُوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk puasa, kemudian ada sahabat yang berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang Yahudi dan Nasrani”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, insya Allah, kita akan berpuasa di tanggal sembilan”. Namun, belum sampai tahun depan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah diwafatkan”. (HR. Muslim, 2722).

Demikian mengenai sejarah dan hukum puasa Asyura 10 Muharram.

Keutamaan Puasa Asyura

Kita dianjurkan memperbanyak puasa di bulan Muharram. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam”. (HR. Muslim, 1163).

Hadits diatas merupakan dalil dianjurkannya memperbanyak puasa selama bulan Muharram. Imam An-Nawawi mengatakan,

تصريح بأنه أفضل الشهور للصوم

“Hadits ini menegaskan bahwa Muharam adalah bulan yang paling utama untuk puasa”. (Syarh Shahih Muslim, 8/55).

Hari Asyura termasuk hari yang sangat istimewa. Hingga Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan banyak perhatian pada hari itu untuk berpuasa. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

مَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ، إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ. يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ

“Saya belum pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap puasa di satu hari yang beliau istimewakan, melebihi hari Asyura, dan puasa di bulan ini, yaitu Ramadhan”. (HR. Ahmad, 3539 dan Bukhari, 2006).

Puasa di hari Asyura, bisa menjadi kaffarah (penebus dosa) setahun yang lalu. Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Asyura, aku mengharap kepada Allah, puasa ini menghapuskan (dosa) setahun yang telah lewat”. (HR. Muslim, 1162).

Bertepatan pada hari Asyura, Allah Ta’ala telah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran musuhnya. Dan ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan, berdasar hadits yang dikemukakan diatas.

Baca juga ulasan: Puasa Awal Tahun 10 Muharram

Demikian pembahasan tentang puasa Asyura 10 Muharram, mulai dari sejarah, hukum dan keutamaannya. Semoga dapat menambah semangat kita untuk meningkatkan amal ibadah di bulan Muharram ini.
Allahu ‘alam.