Puasa Awal Tahun 1 Muharram

Banyaknya amalan yang beredar di tengah masyarakat terkait tahun baru hijriyah, diantaranya puasa awal tahun 1 Muharram. Bagaimana hukum puasa awal tahun tersebut?

Anjuran Puasa di Bulan Muharram

Kita dianjurkan memperbanyak puasa di bulan Muharram. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam”. (HR. Muslim : 1163).

Hadits diatas merupakan dalil dianjurkannya memperbanyak puasa selama bulan Muharram. Imam An-Nawawi mengatakan,

تصريح بأنه أفضل الشهور للصوم

“Hadits ini menegaskan bahwa Muharam adalah bulan yang paling utama untuk puasa”. (Syarh Shahih Muslim, 8/55).

Puasa Awal Tahun 1 Muharram

Sebagian masyarakat mengkhususkan puasa di akhir dan awal tahun Hijriyah. Puasa ini yang dikenal dengan puasa awal tahun dan akhir tahun. Terdapat Hadits yang menyebutkan keutamaan puasa akhir tahun dan awal tahun.

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً

“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzulhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharram, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kaffarat/tertutup dosanya selama 50 tahun”.

Hadits ini disebutkan oleh Imam Asy-Syaukani dan beliau mengatakan bahwa ada dua perawi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini. (Al Fawa-id Al Majmu’ah, 96).

Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya Wahb bin Wahb yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits. (Tartib Al Mawdhu’at, 181).

Dengan demikian hadits yang menyebutkan adanya keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah. Namun kita tetap dianjurkan memperbanyak puasa selama bulan Muharram tanpa mengkhususkan waktu tertentu, apalagi tanpa adanya dalil yang shahih.

Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّلة على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء ، وهذا الشهر – يعني شهر رمضان

“Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan Ramadhan”. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Kemudian, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Asyura, saya berharap kepada Allah, puasa ini menghapuskan (dosa) setahun yang telah lewat”. (HR. Muslim 1162).

Imam An-Nawawi mengatakan, Jumhur ulama Salaf dan khalaf berpendapat bahwa hari Asyura adalah hari kesepuluh (10 Muharram). Yang berpendapat demikian diantaranya adalah Sa’id bin Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih dan banyak lagi. Pendapat ini sesuai dengan (dzahir) teks hadits dan tuntutan lafadnya. (Sailul Jarar, 2/148).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi tahu bahwa tanggal 10 Muharram adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashrani, maka Beliau bersabda,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan -insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan”. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia”. (HR. Muslim : 1134).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menentukan hari khusus yang paling istimewa untuk puasa, kecuali pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Selain itu, Beliau hanya menganjurkan memperbanyak puasa selama bulan Muharram. Sehingga bila ada yang menyatakan bahwa ada anjuran khusus untuk berpuasa tanggal 1 Muharam atau tanggal sekian Muharam, maka ini tidak tepat. Kita boleh berpuasa pada 1 Muharram, namun tidak boleh berkeyakinan bahwa hari tersebut mempunyai keutamaan tertentu. Karena hadits yang menyebutkan fadhilah puasa hari awal Muharram atau puasa akhir dan awal tahun adalah hadits yang lemah.

Dalam melaksanakan amal, sah tidaknya sebuah amal tergantung dari niat pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sah dan tidaknya amal, bergantung pada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan”.(HR. Bukhari 1 dan Muslim 1907).

Oleh sebab itu, jika kita melakukan puasa pada tanggal 1 Muharram hendaknya berniat karena berpuasa di bulan Muharram sangat dianjurkan karena lebih utama dibanding bulan yang lain selain Ramadhan, berdasarkan keumuman hadits shahih keutamaan puasa Muharram. Tidak selayaknya untuk berniat bahwa pada 1 Muharram mempunyai keutamaan tertentu, karena hadits yang menyebutkan adanya keutamaan tersebut adalah hadits yang bermasalah atau lemah.

Imam As-Suyuthi dalam Ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim mengutip perkataan Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa,

إنما كان صوم المحرم أفضل الصيام من أجل أنه أول السنة المستأنفة فكان استفتاحها بالصوم الذي هو أفضل الأعمال

“Puasa Muharram lebih utama dikarenakan awal tahun. Alangkah baiknya mengawali tahun baru dengan berpuasa, sebab puasa termasuk amalan yang paling utama”.

Baca juga: Puasa Arafah dan Tarwiyah

Memperbanyak puasa pada bulan Muharram disunahkan karena ia merupakan bulan pembuka tahun baru. Apalagi, puasa termasuk amalan yang paling utama. Jadi kita dianjurkan melaksanakan puasa selama bulan Muharram. Tentu harapannya, bukan hanya dibulan ini saja, namun pada bulan-bulan lainnya dapat menjalankan ibadah puasa sunah sesuai yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allahu ‘alam.