Qadha Puasa Ramadhan Setelah Nisfu Sya’ban

Bulan Sya’ban merupakan bulan terakhir sebelum Ramadhan, dan bagi yang mempunyai hutang puasa sebaiknya segera untuk membayarnya di bulan tersebut. Bagaimana hukum qadha puasa Ramadhan setelah nisfu Sya’ban? Karena terdapat hadits yang melarang puasa setelah masuk pertengahan bulan Sya’ban.

Hukum Qadha Puasa Ramadhan Setelah Nisfu Sya’ban

Terdapat hadits yang melarang melakukan puasa setelah masuk pertengahan bulan Sya’ban. Hadits dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ، فَلَا تَصُومُوا

“Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah berpuasa”. (HR. Abu Daud : 2337).

Terdapat hadits lain, yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah mendahulukan Ramadhan dengan sehari atau dua hari berpuasa kecuali jika seseorang memiliki kebiasaan berpuasa, maka berpuasalah”. (HR. Muslim : 1082).

Namun, dari hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban. Bahkan dibanding dengan bulan-bulan lain, Beliau banyak berpuasa di bulan Sya’ban kecuali Ramadhan.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya”. (HR. Bukhari : 1970 dan Muslim : 1156)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau juga mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa Beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari : 1969 dan Muslim : 1156)

Dari hadits diatas dapat diketahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak melakukan puasa pada bulan Sya’ban.

Dengan demikian, larangan berpuasa setelah masuk pertengahan Sya’ban atau setelah Nisfu Sya’ban tidak berlaku mutlak. Dalam pengertian, larangan tersebut berlaku ketika melakukan puasa sunah tanpa sebab dan tidak mempunyai kebiasaan puasa sunah tertentu. Hal ini sesuai dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas bahwa, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengecualian,
“kecuali jika seseorang memiliki kebiasaan berpuasa, maka berpuasalah”.

Jadi, puasa qadha dibolehkan walaupun setelah lewat pertengahan Sya’ban sampai datang Ramadhan berikutnya. Dan ini sesuai dengan hadits dari Abu Salamah, bahwa ia mendengar ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

“Dulu aku punya utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah bisa mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari : 1950, Muslim : 2743).

Dalam riwayat lain disebutkan,

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ الشغل من رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Dulu aku memiliki utang puasa Ramadhan, sementara aku tidak bisa mengqadha’nya kecuali sampai bulan Sya’ban, karena sibuk melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Dengan demikian, qadha puasa Ramadhan setelah Nisfu Sya’ban diperbolehkan sampai batas datang Ramadhan berikutnya. Baca juga tentang Keutamaan Bulan Sya’ban.
Allahu ‘alam.