Quraish Shihab: Muslim Boleh Mengucapkan Selamat Natal, Namun?

Profesor M. Quraiah Shihab membolehkan seorang muslim mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada umat Nasrani. Berikut transkip penjelasan beliau.

Saya duga keras persoalan ini hanya di Indonesia. Saya lama di Mesir. Saya kenal sekali. Saya baca di koran, ulama-ulama Al Azhar berkunjung kepada pimpinan umat kristiani mengucapkan selamat Natal.

Saya tahu persis ada ulama besar di Suriah memberi fatwa bahwa itu boleh. Fatwanya itu berada dalam satu buku dan bukunya itu diberikan pengantar oleh ulama besar lainnya, Yusuf al-Qaradawi, yang di Syria namanya Mustafa Al Zarka’a. Ia mengatakan mengucapkan selamat Natal itu bagian dari basa-basi, hubungan baik.

Ini tidak mungkin menurut beliau, tidak mungkin teman-teman saya dari umat Kristiani datang mengucapkan selamat hari raya Idulfitri terus dilarang gitu.

Menurut beliau dalam bukunya yang ditulis bukan jawaban lisan ditulis, dia katakan, saya sekarang perlu menunjukkan kepada masyarakat dulu bahwa agama ini penuh toleransi. Kalau tidak, kita umat yang dituduh teroris. Itu pendapat.

Saya pernah menulis soal itu, walaupun banyak yang tidak setuju, saya katakan begini, saya ucapkan Natal itu artinya kelahiran. Nabi Isa mengucapkannya. Kalau kita baca ayat ini dan terjemahkan boleh atau tidak? Boleh. Ya toh? Boleh.

Jadi, kalau Anda mengucapkan selamat Natal, tapi keyakinan Anda bahwa Nabi Isa bukan Tuhan atau bukan anak Tuhan, maka tidak ada salahnya. Ucapkanlah selamat Natal dengan keyakinan seperti ini dan Anda kalau mengucapkannya sebagai muslim. Mengucapkan kepada umat kristiani yang paham, dia yakin bahwa anda tidak percaya.

Jadi yang dimaksud itu, seperti yang dimaksud tadi hanya basa-basi.

Saya tidak ingin berkata fatwa Majelis Ulama itu salah yang melarang, tetapi saya ingin tambahkan larangan itu terhadap orang awam yang tidak mengerti. Orang yang dikhawatirkan akidahnya rusak. Orang yang dikhawatirkan percaya bahwa Natal itu seperti sebagaimana kepercayaan umat kristen.

Untuk orang-orang yang paham, saya mengucapkan selamat Natal kepada teman-teman saya apakah pendeta. Dia yakin persis bahwa kepercayaan saya tidak seperti itu. Jadi, kita bisa mengucapkan.

Jadi ada yang berkata bahwa itu Anda bohong. Saya katakan agama membolehkan Anda mengucapkan suatu kata seperti apa yang anda yakini, tetapi memilih kata yang dipahami lain oleh mitra bicara Anda.

Saya beri contoh, Nabi Ibrahim dalam perjalanannya menuju suatu daerah menemukan atau mengetahui bahwa penguasa daerah itu mengambil perempuan yang cantik dengan syarat istri orang. Nah, dia punya penyakit jiwa. Dia ndak mau yang bukan istri orang.

Nabi Ibrahim ditahan sama istrinya Sarah. Ditanya, ini siapa? Nabi Ibrahim menjawab, ini saudaraku. Lepas.

Nabi Ibrahim tidak bohong. Maksudnya saudaraku seagama. Itu jalan. Jadi kita bisa saja. Kalau yang kita ucapkan kepadanya selamat Natal itu memahami Natal sesuai kepercayaannya, saya mengucapkannya sesuai kepercayaan saya sehingga tidak bisa bertemu, tidak perlu bertengkar.

Jadi syaratnya boleh mengucapkannya asal akidah anda tidak ternodai. Itu dalam rangka basa-basi saja, seperti apa yang dikatakan ulama besar suriah itu.

Begitu juga dengan selamat ulangtahun, begitu juga dengan selamat tahun baru. Memang kalau kita merayakan tahun baru dengan foya-foya, itu yang terlarang foya-foyanya, bukan ucapan selamatnya kita kirim. Bahkan, ulama Mustafa Al Zarka’a berkata, ada orang yang menjual ucapan, kartu-kartu ucapan ini, itu boleh saja, tidak usah dilarang. Penggunanya keliru kalau dia melanggar tuntunan agama.

Ada orang sangat ketat dan khawatir. Itu kekhawatiran wajar kalau orang di kampung, tidak mengerti agama. Lantas ada yang mengatakan kelahiran Isa itu sebagai anak Tuhan dan sebagainya, itu yang tidak boleh. Kalau akidah kita tetap lurus, itu tidak ada masalah.

Kita ucapkan selamat Natal, di ayat kita ini, sekian banyak ucapan selamat yang dutujukan para Nabi. (Sumber: tribunnews).

Dalam bukunya ‘1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui’. Profesor M. Quraish Shihab juga membolehkan mengucapkan selamat Natal, berikut pernyataannya.

Di pihak lain, ada juga pandangan yang membolehkan ucapan “Selamat Natal”. Ketika mengabadikan ucapan selamat itu, al-Quran mengaitkannya dengan ucapan Isa, “Sesungguhnya aku ini, hamba Allah. Dia memberiku al-Kitab dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS. Maryam [19]: 30).

Nah, salahkan bila ucapan “Selamat Natal” dibarengi dengan keyakinan itu? Bukankah al-Quran telah memberi contoh? Bukankah ada juga salam yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga Ilyas, serta para nabi lain? Bukankah setiap Muslim wajib percaya kepada seluruh nabi sebagai hamba dan utusan Allah? Apa salahnya kita mohonkan curahan shalawat dan salam untuk Isa as, sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh nabi dan rasul? Tidak bolehkan kita merayakan hari lahir (natal) Isa as? Bukankah Nabi saw juga merayakan hari keselamatan Musa dari gangguan Fir’aun dengan berpuasa Asyura, sambil bersabda kepada orang-orang Yahudi yang sedang berpuasa, seperti sabdanya, “Saya lebih wajar menyangkut Musa (merayakan/mensyukuri keselamatannya) daripada kalian (orang-orang Yahudi),” maka Nabi pun berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud), melalui Ibnu Abbas—lihat Majma; al-Fawaid, hadits ke-2.981).

Itulah, antara lain, alasan membenarkan seorang Muslim mengucapkan selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan ritual. (Dikutip dari buku 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, Quraish Shihab).

Dalam penjelasan yang disampaikan Profesor M. Quraish Shihab bisa dsimpulkan, boleh mengucapkan selamat Natal asalkan,
1. Akidahnya tidak ternodai, dia tidak meyakini seperti yang diyakini umat Nasrani.
2. Untuk menghormati Kelahiran Nabi Isa, dalam Islam diperintahkan menghormati para Nabi dan Natal sendiri dijelaskan dalam Al Qur’an.
3. Larangan Hanya untuk orang-orang awam yang dikhawatirkan kabur akidahnya.

Sebelum Membahas dan memahami pernyataan diatas, kita pahami dulu apa yang dimaksud Natal.

PENGERTIAN NATAL

Natal mempunyai arti “kelahiran”. Natal merupakan hari raya umat Nasrani yang diperingati setiap tahun pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus. Dalam keyakinan mereka Yesus itu anak Tuhan dan Yesus itu Tuhan.

Jadi perayaan Hari Natal adalah hari untuk memperingati kelahiran Yesus. Berarti hari untuk memperingati kelahiran anak Tuhan. Juga berarti hari untuk merayakan kelahiran Tuhan.

MEMAHAMI PERKATAAN PROFESOR M. QURAISH SHIHAB

Beliau mengatakan boleh mengucapkan selamat Natal asalkan tidak meyakini seperti keyakinan orang Nasrani (Kristen). Beliau memberi contoh perkataan Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim saat itu bersama dengan istrinya, ketika ditanya siapa yang bersamanya, beliau berkata kalau dia adalah saudaranya. Kalau begitu Nabi Ibrahim itu berbohong. Tidak, maksud dari perkataannya adalah dia adalah saudara seagama. Apakah benar demikian? Benar, kenyataannya memang demikian, bahwa istrinya memang saudara seagama dengan Nabi Ibrahim.

Selanjutnya, Hari Natal dirayakan setiap tanggal 25 Desember, dan umat kristiani saling mengucapkan selamat Natal diantara mereka. Terus, ada orang yang mengatakan selamat Natal, yang berarti dia mengucapkan selamat atas kelahiran Yesus, selamat atas kelahiran anak Tuhan, selamat atas kelahiran Tuhan. Namun dia tidak meyakini hal itu sedikitpun. Kalau begitu dia berbohong. Tidak, yang dia maksud adalah selamat Natal, selamat atas kelahiran Isa, selamat atas kelahiran Isa yang merupakan Nabi Tuhan dan Isa bukanlah Tuhan. Apakah benar demikian? Namun kenyataanya salah, kenyataannya tidak demikian. Hari itu Isa tidak dilahirkan, hari itu Maryam tidak melahirkan, dan hari itu tidak ada Natal.

Berarti dia telah berbohong, dia telah berdusta tidak sesuai dengan analogi perkataan Nabi Ibrahim yang diambil sebagai contoh. Dengan demikian apakah analogi terhadap perkataan Nabi Ibrahim selaras, sejalan dan bisa diterima? Orang yang berpikiran jernih tentu mengatakan tidak.

Dalam Al Qur’an Allah menceritakan kapan kelahiran Nabi Isa ‘Alaihis salam atau kapan terjadinya Natal.

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا (22) فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25)

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. (QS. Maryam: 22-25).

Nabi Isa lahir saat pohon kurma berbuah. Dan kurma barulah matang dan masak ketika musim panas (sekitar Juni – Oktober). Sedangkan di bulan Desember, di daerah jazirah justru mengalami musim dingin, bukan musim panas, saat pohon kurma berbuah. Jadi hari kelahiran Isa bukanlah di bulan Desember.

Jika memang saat itu Nabi Isa dilahirkan, tentu alasan dan analogi tersebut bisa diterima. Padahal pada bulan Desember atau tepatnya tanggal 25 Desember Nabi Isa tidak dilahirkan. Justru hari itu Yesus anak Tuhan yang telah dilahirkan. Jadi ucapan selamat dan curahan shalawat dan salam ditujukan kepada siapa?

Walupun hatinya tidak ridha, membenci dan menolak mati-matian. Walaupun akidahnya tidak rusak, walaupaun akidahnya tidak ternodai sedikitpun, namun pada hakikatnya dia telah mengucapkan selamat atas kelahiran anak Tuhan, selamat atas kelahiran Tuhan. Bukan selamat atas kelahiran Nabi Isa, karena hari itu Nabi Isa ‘Alaihis salam tidak dilahirkan.

Anggaplah dia tetap bersikukuh, bahwa dia juga tahu dan yakin kalau hari itu Nabi Isa tidak dilahirkan, dan dia juga yakin kalau hari itu Yesus juga tidak dilahirkan. Sehingga dia tidak mengucapkan selamat atas kelahiran Yesus. Pertanyaannya, lalu ucapan selamat kelahiran ditujukan kepada siapa?

Bayangkan, dia yakin kalau Nabi Isa ataupun Yesus tidak dilahirkan dihari itu, tetapi dia mengucapkan selamat kelahiran kepada mereka. Bagaimana mungkin, bukankah hanya orang-orang yang jalan pikirannya terganggu saja yang bisa melakukannya?

Sekali lagi, anggaplah dia masih bersikukuh bahwa, dia yakin kalau hari itu Nabi Isa tidak dilahirkan, namun ucapan Natal atau ucapan selamat kelahiran itu ditujukan kepada Nabi Isa atas kelahiran keberadaannya di dunia, bukan waktu kelahirannya ke dunia. Bukankah boleh mengucapkan salam penghormatan kepada para Nabi?

Memang, kita boleh mengucapkan salam penghormatan kepada para Nabi, namun kita juga dilarang menyerupai orang-orang Nasrani dan Yahudi. Malahan justru kita diperintahkan untuk menyelisihi mereka.

Saat itu hampir seluruh umat Nasrani di dunia saling mengucapkan Natal dan mengirim ucapan selamat Natal. Saling mengirimkan hadiah, memakai pakaian-pakaian khas Natal, maka untuk menyelisihi mereka kita tidak boleh turut meniru mereka apalagi sampai membantunya. Banyak hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senang menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Jadi mengucapkan selamat Natal hukumnya haram. Semoga penjelasan ini dapat dipahami dan dapat menambah wawasan kita dalam memahami hukum ucapan selamat Natal. Anda juga dapat membaca ulasan tentang Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan sikap muslim terhadap Natal.

Memang terdapat pro dan kontra tentang masalah ini, kami menghargai setiap pendapat orang lain, karena itu hak mereka. Kami juga tidak memaksakan pendapat dan pemahaman kami untuk diikuti. Sebab kelak diakhirat yang akan bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan adalah kita sendiri bukan orang lain. Sebagai umat Islam kita berpegang kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah. Silahkan pikirkan dan renungkan, bila sesuai Al Quran dan Sunnah kerjakanlah, bila tidak tinggalkanlah.

Semoga Allah memudahkan kita agar selalu berada dijalan-Nya yang lurus dan mendapat pengampunan-Nya.
Allahu ‘alam.