Rukun Haji Dan Penjelasannya

Dalam ibadah haji terdapat aturan atau tata cara melaksanakan haji yang disebut rukun haji dan juga wajib haji. Dalam melaksanakan ibadah haji keduanya harus dilaksanakan. Namun ada perbedaan di antara keduanya. Yaitu, pada rukun haji jika tidak dilaksanakan, maka hajinya batal atau tidak sah dan harus diulang. Sedangkan pada wajib haji, jika tidak bisa melaksanakannya dapat diganti dengan membayar dam yaitu sejenis denda.

Rukun Haji dan Penjelasannya

1. Ihram

Yang dimaksud dengan ihram adalah niat untuk masuk dalam manasik haji. sebagaimana dalam shalat niat itu diwajibkan, begitu pula niat dalam haji maupun umrah hukumnya wajib. Siapa yang meninggalkan niat ini, maka hajinya tidak sah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”. (HR. Bukhari : 1 dan Muslim : 1907).

Adapun wajib ihram meliputi,

a. Ihram dari miqot.
b. Tidak memakai pakaian berjahit (yang menunjukkan lekuk badan atau anggota tubuh).
c. Laki-laki tidak diperkenankan memakai baju, jubah, mantel, imamah, penutup kepala, khuf atau kaos kaki kulit (sepatu), kecuali jika tidak mendapati sandal.
d. Wanita tidak diperkenankan memakai niqob (penutup wajah) dan sarung tangan.
f. Bertalbiyah.

Sedangkan Sunah ihram meliputi,

a. Mandi.
b. Memakai wewangian di badan.
c. Memotong bulu kemaluan, bulu ketiak, memendekkan kumis, memotong kuku sehingga dalam keadaan ihram tidak perlu membersihkannya, karena hal itu dilarang saat ihram.
d. Memakai izar (sarung) dan rida’ (kain atasan) yang berwarna putih bersih dan memakai sandal. Sedangkan wanita memakai pakaian apa saja yang ia sukai, tidak mesti warna tertentu, asalkan tidak menyerupai pakaian pria dan tidak menimbulkan fitnah.
e. Melaksanakan shalat dua rakaat.
f. Berniat ihram setelah shalat.
g. Memperbanyak bacaan talbiyah.

2. Wuquf di Arafah

Yang dimaksud wukuf adalah hadir dan berada di daerah mana saja di Arafah, walaupun dalam keadaan tidur, sadar, duduk, berbaring, berkendaraan atau berjalan, baik dalam keadaan suci atau tidak suci, seperti haidh, nifas atau junub.

Sedangkan waktu wukuf di Arafah adalah waktu mulai dari matahari tergelincir (waktu zawal) pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga waktu terbit fajar (masuk waktu Subuh) pada hari nahr (10 Dzulhijjah). Jamaah bisa mengambil pada waktu siang sampai matahari tenggelam (setelah maghrib), ataupun malam harinya sampai menjelang subuh. Jika seseorang wukuf di Arafah selain waktu tersebut, wukufnya tidak sah berdasarkan kesepakatan para ulama.

3. Thawaf Ifadhah

Setelah wukuf di Arafah, jamaah haji menuju Masjidil Haram untuk melakukan thawaf. Thawaf adalah mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali.

Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman,

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“… Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)”. (QS. Al Hajj: 29).

Melakukan thawaf dimulai dari Hajar Aswad atau sekiranya arah Hajar Aswad dan diakhiri di Hajar Aswad dengan tujuh kali putaran penuh (sempurna). Dengan menempatkan Ka’bah di sebelah kiri, lebih gampangnya berputar melawan arah jarum jam. Memulai thawaf dari Hajar Aswad itu hukumnya wajib, sedangkan memulainya dengan seluruh badan dari Hajar Aswad tidaklah wajib.

4. Sa’i

Sa’i adalah berjalan antara Shafa dan Marwah dalam rangka ibadah. Yang dimulai dari bukit Shafa, kemudian berjalan sampai tujuh kali perjalanan hingga berakhir di bukit Marwah. Sa’i dilakukan berurutan setelah melakukan Thawaf, tidak dilakukan dengan selang waktu yang lama kecuali jika ada uzur yang dibenarkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْعَوْا إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْىَ

“Lakukanlah sa’i karena Allah mewajibkan kepada kalian untuk melakukannya”. (HR. Ahmad 6: 421 dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hasan).

5. Tahallul

Menurut madzhab syafi’i, ini termasuk rukun haji, namun untuk madzhab hanafi, madzhab maliki dan madzhab hambali termasuk dalam wajib haji. Untuk di Indonesia, karena mayoritas menganut madzhab syafi’i maka ini termasuk dalam rukun haji.

Tahallul adalah mencukur rambut kepala setelah seluruh rangkaian haji selesai. Waktu untuk mencukur rambut boleh diakhirkan hingga akhir hari nahr (10 Dzulhijjah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal ini dan bersabda,

وَلْيُقَصِّرْ ، وَلْيَحْلِلْ

“Pendekkanlah rambut dan bertahallul-lah”. (HR. Bukhari : 1691 dan Muslim : 1227).

Mencukur atau memendekkan rambut akan membuat orang yang berhaji dianggap telah halal dari berbagai larangan ihram. Mencukur rambut di sini adalah bentuk merendahkan diri pada Allah karena telah menghilangkan rambut yang menjadi hiasan dirinya.

Rukun haji ini dilaksanakan secara berurutan. Sedangkan pada ibadah umrah, dari lima rukun di atas, wukuf di Arafah bukan termasuk rukun ibadah umrah.

Sebagaimana telah jelaskan diatas bahwa, ketika rukun haji ini tidak terpenuhi atau tidak dilaksanakan, maka orang tersebut wajib mengganti hajinya di tahun-tahun berikutnya. Untuk itu orang yang mau melaksanakan ibadah haji harus memahami rukun-rukun haji tersebut, karena ini sangat penting.
Allahu ‘alam.