Selamat Datang Bulan Ramadhan

Sudah menjadi kebiasaan kaum muslimin di Indonesia bahwa, setiap menjelang bulan suci Ramadhan mereka menyambut Ramadhan dengan saling mengucapkan selamat datang bulan Ramadhan. Ucapan tersebut disampaikan kepada sanak kerabatnya, saudaranya ataupun temannya. Baik diucapkan secara langsung, lewat telepon atau media sosial yang saat lagi populer. Namun, bagaimana sebenarnya hukum ucapan selamat tersebut?

Hukum Ucapan Selamat Datang Bulan Ramadhan

Ucapan selamat, pada dasarnya adalah termasuk dalam bab al ‘adaat atau kebiasaan manusia. Dan hukum asal dari kebiasaan ialah boleh (mubah), sampai datang dalil yang mengkhususkan status hukumnya. Maka barulah status mubah tersebut bisa berubah ke status hukum yang lain (wajib, sunnah, makruh) sesuai dengan dalil yang menjelaskannya.

Hal yang menunjukkan bahwa ucapan selamat merupakan suatu kebiasaan adalah, perbuatan para sahabat yang saling memberi ucapan selamat ketika hari raya (‘Ied). Mereka biasa memberi ucapan selamat bertepatan dengan waktu hari raya tersebut.

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni (3/294) mengatakan, “Imam Ahmad rahimahullah berkata, Dan tidak mengapa seorang mengucapkan kepada saudaranya pada hari raya ‘Ied, Taqabballallaahu minna wa minka. Harb berkata, ‘Imam Ahmad ditanya tentang perkataan manusia, ‘Taqabballallaahu minna wa minkum’, jawab beliau : Tidak mengapa. Penduduk Syam meriwayatkan dari Abu Umamah, beliau ditanya, ‘Apakah maksudnya Watsilah ibn Al Asyqa’?’, ‘Iya’, beliau ditanya, ‘Apakah dimakruhkan ucapan ‘Ini hari Ied’?’, beliau jawab, ‘Tidak’.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah mengatakan, “Dan di dalam kisah ini (yaitu kisah taubatnya Ka’ab ibn Malik radhiyallahu ‘anhu), dianjurkan memberi selamat kepada orang yang mendapat suatu nikmat dalam hal agama, menyambutnya bila datang, menjabat tangannya, dan ini sunnah mustahab. Adapun apabila mendapat suatu nikmat duniawi maka hukumnya boleh. Yang lebih utama lagi (disyariatkannya) ialah perkataan selamat dalam hal ketaatan pada Allah, atau serupa dengannya. Karena ini termasuk dalam bentuk mengagungkan nikmat Rabbnya, dan mendoakan orang yang mendapat nikmat tersebut”. (Zaadul Ma’ad 3/585).

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan, “Dan dipandang perlu untuk memberi selamat atas suatu nikmat, atau ketika selamat dari suatu musibah, sebagaimana disyariatkannya sujud syukur dan ta’ziyah. Sebagaimana dalam As Shahihain hadits Ka’ab ibn Malik”.

Dengan demikian saling memberi ucapan selamat datang bulan Ramadhan diperbolehkan karena ini termasuk adat kebiasaan semata tanpa ada maksud ta’abbud (mengharap pahala dari Allah lewat ibadah).
Allahu ‘alam.