Suami Bersumpah Tidak Menyentuh Istrinya

Suami Bersumpah Tidak Menyentuh Istrinya

Dalam kehidupan berumah tangga perselisihan antara suami istri bisa saja terjadi dan berujung pada pertengkaran. Jika suami bersumpah tidak menyentuh istrinya apa statusnya sudah bercerai?

Dalam al-Quran, Allah telah menyebutkan tentang hukum sumpah suami untuk tidak menggauli istri. Sumpah ini disebut ilaa’ [الايلاء].

Allah berfirman,

لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah: 226).

Yang dimaksud ilaa’ adalah sumpah suami – yang masih normal – dengan menyebut nama Allah untuk tidak melakukan hubungan badan dengan istrinya selamanya atau selama lebih dari 4 bulan.

Berdasarkan definisi di atas, kita bisa memahami bahwa pernyataan suami disebut ilaa’ jika memenuhi 5 keadaan:

1. Suami memungkinkan untuk melakukan hubungan badan

2. Bersumpah atas nama Allah atau dengan menyebut salah satu sifat Allah

3. Sumpahnya berisi menghindari hubungan badan di kemaluan, bukan di dubur

4. Tidak mau jimak selama 4 bulan atau lebih

5. Istri memungkinkan untuk diajak h.ubungan badan

Dalam kajian tentang ilaa’ ada 2 fokus pembahasan:

Pertama, Pembahasan mengenai sumpah

Suami bersumpah tidak menyentuh istrinya berarti telah bersumpah untuk meninggalkan yang wajib. Karena itulah, sebagian ulama menyebutkan bahwa sumpah ini statusnya maksiat. Dan suami berdosa. Seperti orang yang bersumpah, “Demi Allah, saya akan minum khamr.”

Sumpah semacam ini, meskipun tujuannya untuk maksiat, statusnya sah sebagai sumpah. Konsekuensi sebagai sumpah yang sah adalah jika dia langgar, maka dia harus membayar kaffarah sumpah. Sementara isi sumpah tidak boleh dia laksanakan, karena itu maksiat. Sehingga wajib bagi dia untuk melanggarnya.

Kedua, Pembahasan mengenai tekad suami untuk tidak menggauli istrinya

Suami yang bersumpah untuk tidak menggauli istrinya selama lebih dari 4 bulan atau tanpa batas, diberi pilihan oleh Allah,

1. Dia batalkan sumpahnya selama rentang 4 bulan
Artinya, dia harus menggauli istrinya di rentang 4 bulan. Yang itu berarti dia harus membatalkan sumpahnya. Dan sebagai konsekuensinya, dia harus bayar kaffarah sumpah. Mengenai kaffarah sumpah bisa dibaca pada Hukum Melanggar Sumpah

2. Dia ceraikan istrinya
Jika sampai 4 bulan dia belum mau menggauli istrinya, maka dia diperintahkan untuk menceraikan istrinya, jika istrinya menuntut. Dan jika dia menceraikan istrinya, bararti tidak melanggar sumpah.
(al-Mulakhas al-Fiqhi, 2/403).

Imam Bukhari membawakan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

إِذَا مَضَتْ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ يُوقَفُ حَتَّى يُطَلِّقَ ، وَلاَ يَقَعُ عَلَيْهِ الطَّلاَقُ حَتَّى يُطَلِّقَ

Jika sudah berlalu selama 4 bulan, maka suami yang melakukan ilaa’ ditahan, sampai dia menceraikan. Dan tidak jatuh cerai sampai suami menceraikan istrinya. (HR. Bukhari 5291)

Yang dimaksud ditahan di sini adalah ditahan oleh hakim, dan diminta untuk menentukan, memilih kembali kepada istrinya dan melakukan hubungan atau menceraikan istrinya.

Oleh, Ustadz Ammi Nur Baits

Ini menunjukkan bahwa bersumpah untuk tidak melakukan hubungan badan selamanya, tidak langsung talak. Perceraian baru terjadi, jika suami menyatakan kalimat talak, atau kalimat cerai kepada istrinya. Demikian hukum suami bersumpah tidak menyentuh istrinya.
Wallahu a’lam.