Syarat Menjadi Imam Shalat Berjamaah

Umtuk menjadi imam shalat berjamaah ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Apa saja syarat untuk menjadi imam shalat berjamaah?

Syarat Menjadi Imam Shalat

Terkait sifat seorang imam shalat, ada dua hal yang harus dibedakan.

1. Syarat sah yang wajib terpenuhi bagi seorang imam.
2. Sifat-sifat aulawiyyah yang membuat seseorang lebih berhak menjadi imam.

Pertama, syarat sah yang wajib terpenuhi pada diri seorang imam ada 5, yaitu:

1. Islam
2. Berakal
3. Laki-laki
4. Mampu melaksanakan rukun-rukun shalat
5. Suci dari hadas besar dan kecil

Ulama sepakat bahwa, apabila seseorang memenuhi kelima syarat tersebut maka, ia sah menjadi imam dan sah pula untuk shalat di belakangnya. Ini dapat dijumpai pada kitab-kitab rujukan madzhab yang 4.

Baca juga: Bolehkah Makmum tidak Membaca Al fatihah

Kedua, sifat-sifat aulawiyyah yang membuat seseorang lebih berhak menjadi imam.

Terdapat hadits dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَؤُمُّ القومَ أقرؤُهم لكتابِ اللهِ . فإن كانوا في القراءةِ سواءً . فأعلمُهم بالسُّنَّةِ . فإن كانوا في السُّنَّةِ سواءً . فأقدمُهم هجرةً . فإن كانوا في الهجرةِ سواءً ، فأقدمُهم سِلْمًا . ولا يَؤُمنَّ الرجلُ الرجلَ في سلطانِه . ولا يقعدُ في بيتِه على تَكرِمتِه إلا بإذنِه قال الأشجُّ في روايتِه ( مكان سِلمًا ) سِنًّا

“Hendaklah yang mengimami suatu kaum adalah yang paling baik bacaan Al Qur’annya. Jika mereka semua setara dalam bacaan Qur’an, maka yang paling baik wawasannya tentang sunnah. Jika mereka setara dalam pemahaman sunnah, maka yang paling dahulu berhijrah. Dan jika mereka semua sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu keislamannya. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali di izinkan olehnya”. Dalam riwayat lain disebutkan, “yang lebih tua usianya” untuk menggantikan “yang lebih dulu keislamannya”. (HR. Muslim no. 673).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, sifat-sifat aulawiyyah yaitu:

1. Paling baik bacaan Al Qur’annya
2. Paling paham terhadap Sunnah Nabi
3. Paling dahulu hijrah (mengenal sunnah)
4. Paling dahulu masuk Islam atau paling tua usianya

Ini adalah kriteria pemilihan imam yang hendaknya diperhatikan oleh masyarakat dan para pengurus masjid.

Imam Tetap (Ratib) atau Pemilik Tempat Lebih Berhak Menjadi Imam

Namun, seandainya orang yang lebih paham agama dan paling baik bacaan Al Qur’annya datang ke suatu masjid yang ada imam tetap (ratib) di sana, maka imam ratib tersebut lebih berhak menjadi imam sebagaimana disebutkan dalam hadits diatas.

Dengan demikian, hadits ini menunjukkan terlarangnya seorang pendatang di suatu masjid atau tempat, untuk maju menjadi imam karena ada yang lebih berhak, yaitu imam tetap atau pemilik tempat. Walaupun pendatang tersebut merasa lebih bagus bacaan Al Qur’annya atau merasa lebih paham agama.

Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan,

مَعْنَاهُ : مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابنَا وَغَيْرهمْ : أَنَّ صَاحِب الْبَيْت وَالْمَجْلِس وَإِمَام الْمَسْجِد أَحَقّ مِنْ غَيْره ، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْر أَفْقَه وَأَقْرَأ وَأَوْرَع وَأَفْضَل مِنْهُ وَصَاحِب الْمَكَان أَحَقّ فَإِنْ شَاءَ تَقَدَّمَ ، وَإِنْ شَاءَ قَدَّمَ مَنْ يُرِيدهُ

“Maknanya sebagaimana disebutkan para ulama madzhab kami bahwa, pemilik rumah atau pemilik majelis atau imam (tetap) masjid, lebih berhak menjadi imam daripada yang lain. Walaupun ada orang lain yang lebih alim (berilmu agama), lebih pandai membaca Al Qur’an dan lebih utama darinya. Dan pemilik tempat lebih berhak menjadi imam. Ia bisa memilih apakah ia yang maju atau mempersilahkan orang lain yang maju”. (Syarah Shahih Muslim, 5/147).

Baca juga: Hukum Qadha Shalat Wajib yang Sengaja Ditinggalkan

Seorang pendatang dibolehkan menjadi imam jika diizinkan oleh imam tetap atau pemilik tempat. Imam Asy Syaukani mengatakan,

وأكثر أهل العلم أنه لا بأس بإمامة الزائر بإذن رب المكان ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم في حديث أبي مسعود رضي الله عنه : ( إلا بإذنه )

“Jumhur ulama berpendapat bahwa, tidak mengapa orang yang sedang berkunjung menjadi imam dengan izin pemilik tempat. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud: (kecuali diizinkan olehnya)”. (Nailul Authar, 3/170).

Dalam matan Akhsharil Mukhtasharat disebutkan,

وَحرم ان يؤم قبل راتب الا بِإِذْنِهِ اَوْ عذره اَوْ عدم كَرَاهَته

“Diharamkan seseorang menjadi imam sebelum imam ratib (tetap) datang, kecuali atas izin darinya atau ia ada udzur atau ia tidak membencinya”. (Akhsharil Mukhtasharat, 120).

Wallahu a’lam

Referensi:
Jangan Sembarang Maju Menjadi Imam Shalat, Muslim.Or.Id