Tidak Ada Shalat Ketika Makanan Telah Dihidangkan

Keterangan hadis Tidak Ada Shalat Ketika Makanan Telah Dihidangkan.

Ibunda Aisyah Radhiyallahu’anha pernah menyampaikan sebuah nasehat yang beliau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

“Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan (kencing atau buang air besar)”. (HR. Muslim no. 560).

Sebelum kita menyinggung hukum fikih berkaitan hadis ini, perlu kita tahu bahwa hadis yang mulia ini diantara dalil yang menunjukkan bahwa shalat adalah ibadah yang sangat istimewa. Karena sebelum melakukan shalat, syariat memerintahkan segala hal yang dapat mengganggu kekhusyu’an shalat, hendaklah ditanggalkan terlebih dahulu.

Ketika ada orang sholat dalam keadaan lapar, dan makanan sudah tersaji, tentu dia akan sangat sulit meraih khusyu’. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan pada hadis di atas, “Tak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan..”.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

أن لب الصلاة وروح الصلاة هو حضور القلب، ولذلك أمر النبي صلى الله عليه وسلم بإزالة كل ما يحول دون ذلك قبل أن يدخل الإنسان في صلاته.

Inti dan ruhnya sholat adalah hadirnya hati. Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan untuk menghilangkan segala hal yang dapat menghalangi kehadiran hati saat shalat, sebelum seorang melakukan shalatnya. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 13/296).

Apa makna peniadaan di sini? yaitu pada teks hadis, “Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan..”.

Ada sejumlah penafsiran ulama terkait makna peniadaan pada hadis di atas. Mazhab Dzahiri mengambil kesimpulan, hadis ini menunjukkan tidak sahnya shalat seorang dalam keadaan lapar dan makanan telah dihidangkan.

Namun, penafsiran yang tepat –wallahua’alam-, peniadaan shalat pada hadis di atas, bukan peniadaan keabsahan (wujud), akan tetapi yang dimaksudkan adalah peniadaan kesempurnaan, artinya shalatnya tidak sempurna. Inilah penafsiran mayoritas ulama.

Sehingga shalat saat makanan sudah terhidang serta kondisi perut lapar, hukumnya adalah makruh, artinya sebatas mengurangi kesempurnaan, bukan tidak sah.

Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan,

فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث كَرَاهَة الصَّلَاة بِحَضْرَةِ الطَّعَام الَّذِي يُرِيد أَكْله ، لِمَا فِيهِ مِنْ اِشْتِغَال الْقَلْب بِهِ ، وَذَهَاب كَمَالِ الْخُشُوع

Hadis-hadis ini menunjukkan, makruhnya melakukan shalat saat makanan sudah terhidang sementara dia berkeinginan untuk menyantapnya. Karena hal tersebut dapat menyibukkan hati dan dapat menghilangkan kekusyuan shalat. (Syarh Shahiih Muslim, 5/46).

Terdapat hadis yang semakna dengan hadis di atas,

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak Amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji”. (HR. Ahmad).

Maksudnya, peniadaan pada hadis ini adalah peniadaan iman yang sempurna, bukan peniadaan wujud iman. Artinya, orang yang tidak amanah dan tidak bisa dipegang janjinya, tidak lantas menjadi kafir. Namun kualitas imannya yang berkurang.

Dalam kitab Faidhul Qodir, Al-Munawi rahimahullah mengambil kesimpulan menarik,

وفيه تقديم فضيلة حضور القلب على فضيلة أول الوقت

Hadis ini menunjukkan, mengejar keutamaan hadirnya hati saat shalat (kyusu’), lebih didahulukan daripada mengejar fadhilah shalat di awal waktu. (Faidhul Qodir, 6/430).

Seandainya kita menemui masalah, antara mengikuti shalat jamaah atau makan atau buang hajat terlebih dahulu, maka dahulukan makan dan buang hajat, meski harus terluput dari shalat berjama’ah. Karena dia memilki uzur. (lihat : Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 13/298).

Kapan Seorang Dianjurkan Mendahulukan Makan daripada Shalat?

Dari hadis Ibunda Aisyah di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang diperintahkan mendahulukan makan daripada shalat, bila terpenuhi syarat-syarat berikut:

1. Makanan telah tersaji.
Jika makanan belum terhidang, sementara perut merasakan lapar, maka tidak boleh mendahulukan makan daripada shalat. Karena bila tidak kita katakan demikian, orang-orang miskin dituntut mengakhirkan shalatnya terus-menerus. Karena mereka seringkali merasakan lapar.

2. Lapar atau ada hasrat kuat untuk makan.
Demikian pula andaikan makanan sudah tersaji, akan tetapi tidak lapar, maka tidak boleh mendahulukan makan. Tidak makruh hukumnya mendahulukan shalat bila kondisinya seperti ini.

3. Mampu memakannya, baik secara tabiat maupun syariat.
Ketika makanan sudah terhidang, dia merasa lapar, namun dia tak mampu menyantapnya karena ada penghalang yang sifatnya tabi’at dan syariat.

Tabi’at misalnya, makanan masih sangat panas. Atau makanan sangat pedas, sementara perut tidak kuat dengan makanan-makanan pedas.

Syariat misalnya, puasa. Orang yang puasa tentu merasakan lapar. Seandainya waktu adzan asar, hidangan buka puasa sudah tersaji, maka tetap mengutamakan shalat asar berjamaah, bukan menunggu tiba waktu buka baru shalat, kemudian beralasan dengan hadis di atas.
(Lihat penjelasannya di : Syarah Al-Mumti’, Ibnu ‘Utsamin, 3/237-238).

Baca juga:
Cara Bertaubat Meninggalkan Shalat dengan Sengaja
Hukum Qadha Shalat Wajib yang Sengaja Ditinggalkan

Wallahu a’lam.

Referensi:
Tak Ada Sholat Saat Makanan Telah Dihidangkan, oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc