Waktu Mustajab Untuk Berdoa

Islam mengajarkan agar kita selalu memohon dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terdapat waktu-waktu tertentu yang mustajab untuk berdoa. Sehingga apabila menjumpai waktu-waktu yang utama tersebut, janganlah sampai menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berdoa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manfaatkan waktu-waktu yang sangat baik itu untuk berdoa, sebab saat-saat itulah waktu dikabulkannya doa.

Adapun Waktu Mustajab Untuk Berdoa antara lain,

1. Sepertiga Malam Terakhir atau Waktu Sahur

Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang penuh berkah, karena pada saat itu Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia dan mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang berdoa ketika itu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari, 1145 dan Muslim, 758).

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Pada waktu itu adalah waktu tersebarnya rahmat, banyak permintaan yang diberi dan dikabulkan, dan juga nikmat semakin sempurna kala itu”. (Syarh Shahih Muslim, 6: 36).

2. Ketika Berbuka Puasa

Saat berbuka puasa merupakan salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang yang doanya tidak tertolak, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi”. (HR. Ahmad, 305, dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan hadits ini shahih).

Dalam hadits lain, dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ لاَ تُرَدُ

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak ditolak”. (HR. Ibnu Majah, 1775, Al-Hakim, 1/422, Imam Bushairi mengatakan shahih).

Sebagian ulama mengatakan bahwa, orang yang berpuasa dan ketika ia berbuka puasa doanya akan dikabulkan karena, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

3. Setiap Selesai Shalat Fardhu

Dari Abu Umamah, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu beliau menjawab,

جَوْفَ اللَّيْلِ اْلآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكتُوْبَاتِ

“Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu”. (Sunan At-Tirmidzi, 13/30, Al-Albani mengatakan shahih).

Dari Mua’dz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadanya,

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Aku wasiatkan padamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap dubur shalat (akhir shalat), Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu)”. (HR. Abu Daud, 1522. Al Albani mengatakan shahih).

Ulama berbeda pendapat mengenai makna dubur shalat dalam hadits diatas. Sebagian ulama mengartikan di akhir shalat sebelum salam, dan ulama yang lain mengartikan setelah shalat sesudah salam. Insya Allah dalam kesempatan lain akan dibahas.

4. Ketika Sedang Sujud Dalam Shalat

Ketika sedang sujud dalam shalat dianjurkan untuk berdoa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَ هُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia sedang sujud (kepada Rabb-nya), maka perbanyaklah doa (dalam sujud kalian)”. (HR. Muslim, 482, Abu Dawud, 875).

5. Antara Adzan dan Iqamah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا

“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara adzan dan iqomah, maka berdoalah (kala itu)”. (HR. Ahmad, 3:155. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan shahih).

6. Pada Bulan Ramadhan dan Saat Malam Lailatul Qadar

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mustajab untuk berdoa. Dalilnya adalah hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa, akan dikabulkan”. (HR. Al-Bazaar, Al-Haitsami mengatakan bahwa perawinya tsiqoh (terpercaya). Lihat Jami’ Al-Ahadits, 9: 224).

Demikian pula pada malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Malam ini lebih utama dari seribu bulan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan”. (QS. Al Qadr: 3).

Pada malam ini dianjurkan memperbanyak ibadah termasuk memperbanyak doa. Sebagaimana ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال قولي اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

“Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar?” Beliau menjawab, “Bacalah,

اَللّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha pemberi maaf dan mencintai pemberian maaf, maka maafkanlah aku”. (HR. At-Tirmidzi, 3513 dan Ibnu Majah, 3850. Al-Albani mengatakan shahih).

7. Pada Hari Arafah (9 Dzulhijah)

Dari ‘Amr bin Syu’aib radhiyallahu ‘anhu dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُالدُّعَاءِ يَوْمُ عَرَفَةَ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah”. (HR. At-Tirmidzi, 3585. Al Albani mengatakan hasan).

Keutamaan doa pada hari Arafah berlaku umum, baik bagi yang berhaji dan sedang wukuf di Arafah maupun yang tidak berhaji. Karena keutamaan yang dimaksud adalah keutamaan pada hari. Sedangkan yang berada di Arafah (yang sedang wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah), ia berarti menggabungkan antara keutamaan waktu dan tempat. (Syaikh Sholih Al Munajjid dalam fatawanya, 70282).

8. Waktu Sesaat di Hari Jum’at

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِيْ يَوْمِ الْجُمْعَةِ لِسَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّيْ يَسْأَلُ اللَّه خَيْرًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَقَالَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا يُزْهِدُهَا

“Sesungguhnya di hari Jum’at terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas ia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang ia minta” Dan beliau berisyarat dengan tangannya akan sebentarnya waktu tersebut”. (HR. Bukhari, 935 dan Muslim, 852).

Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa waktu yang sesaat tersebut tidak diketahui secara persis kapan waktunya, karena riwayat yang menyebutkan waktu tersebut berbeda-beda. (Fathul Bari 11/203).

Terdapat banyak pendapat tentang mengenai penentuan kapankah waktu terkabulnya doa di hari Jumat. Namun secara umum ada tiga pendapat yang kuat.

1. Antara duduknya imam di mimbar hingga selesai shalat.

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هِىَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ

“Waktu tersebut adalah antara imam duduk ketika khutbah hingga imam menunaikan shalat Jum’at”. (HR. Muslim, 853).

2. Setelah Ashar sampai tenggelamnya matahari.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“(Waktu siang) di hari Jum’at ada 12 (jam). Jika seorang muslim memohon pada Allah ‘azza wa jalla sesuatu (di suatu waktu di hari Jum’at) pasti Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkannya. Carilah waktu tersebut yaitu di waktu-waktu akhir setelah Ashar”. (HR. Abu Daud, 1048 dan An-Nasa’i, 1390. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan shahih).

3. Menggabungkan pendapat yang ada.

Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”. Dengan demikian seseorang akan lebih memperbanyak doanya di hari Jum’at tidak pada beberapa waktu tertentu saja. Pendapat ini juga dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal.

9. Pada Saat Perang Berkecamuk

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ لاَ تُرَدَّانِ أَوْقَلَّمَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ عِنْدَ الْبَأْسِ حِيْنَ يَلْتَحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا

“Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak, doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk”. (HR Abu Daud, 2540. Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan shahih).

10. Ketika Turun Hujan

Hujan merupakan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu janganlah mencelanya. Justru manfaatkanlah untuk berdoa memohon kepada Allah apa yang diinginkan. Dari Sahl bin a’ad radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَاتُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ الْمَطَرِ

“Dua doa yang tidak tertolak, doa pada waktu adzan dan doa pada waktu hujan turun”. (HR. Al Hakim, 2534 dan dishahihkan Adz-Dzahabi).

11. Ketika Adzan Berkumandang

Selain dianjurkan untuk menjawab adzan dengan lafazh yang sama, waktu tersebut juga termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ لاَ تُرَدَّانِ أَوْقَلَّمَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ عِنْدَ الْبَأْسِ حِيْنَ يَلْتَحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا

“Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak, doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk”. (HR Abu Daud, 2540. Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan shahih).

12. Ketika Bangun Tidur Pada Malam Hari Dalam Keadaan Suci.

Orang yang berangkat tidur dalam keadaan suci, kemudian ia terbangun tanpa sengaja pada malam hari termasuk waktu mustajab untuk berdoa. Dari ‘Amr bin ‘Anbasah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ بَاتَ عَلَى طُهُوْرٍ ثُمَّ تَعَارُ مِنَ اللَّيْلِ فَسَأَلَ اللَّه مِنْ أَمْرِالدُّنْيَا اَوْ مِنْ أَمْرِ اْلآخِرَةِإِلاَّ أَعْطَاهُ

“Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya”. (HR. Ibnu Majah, 3924 dan Dishahihkan oleh Al-Mundziri).

13. Pada Hari Rabu Antara Dzuhur dan Ashar

Diantara waktu dikabulkannya doa adalah antara shalat Zhuhur dan Ashar dihari Rabu. Ini mungkin jarang diketahui oleh kaum muslimin. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu bahwa,

أن النبي صلى الله عليه وسلم دعا في مسجد الفتح ثلاثا يوم الاثنين، ويوم الثلاثاء، ويوم الأربعاء، فاستُجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين فعُرِفَ البِشْرُ في وجهه
قال جابر: فلم ينزل بي أمر مهمٌّ غليظ إِلاّ توخَّيْتُ تلك الساعة فأدعو فيها فأعرف الإجابة

“Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam berdoa di Masjid Al Fath 3 kali, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu diantara dua shalat. Ini diketahui dari kegembiraan di wajah beliau. Berkata Jabir, “Tidaklah suatu perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk berdoa, dan saya mendapati dikabulkannya doa saya”.

Dalam riwayat lain disebutkan,

فاستجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين الظهر والعصر

“Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara shalat Zhuhur dan Ashar”. (HR. Ahmad, 14603, dan Al’Haitsami mengatakan “Semua perawinya tsiqah”).

Tentang tata cara berdoa, silahkan baca: Adab Berdoa Dalam Islam

Demikian pembahasan mengenai waktu yang mustajab untuk berdoa. Semoga bermanfaat.
Allahu ‘alam.